Muktamar NU ke-35: Mampukah Menjadikan Pesantren sebagai Kompas Abad Kedua?

1 jam yang lalu 3
 Mampukah Menjadikan Pesantren sebagai Kompas Abad Kedua? Gus H Fauzi Mahendra(Dok.pribadi)

ADA pesan simbolik menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026. Namun, sehari sebelum pembukaan, perhatian publik tertuju pada Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Di sana para ustad sepuh berkumpul untuk menyampaikan pesan moral agar muktamar berjalan bermartabat, demokratis, jujur, serta terbebas dari tekanan, provokasi, dan pertikaian.

Pesannya sederhana: jaga muruah NU, gunakan kewenangan secara bertanggung jawab, dan jangan biarkan kontestasi merusak persaudaraan.

Dari sini muncul pertanyaan nan lebih besar daripada sekadar siapa nan terpilih: apakah NU tetap bisa menjadikan pesantren sebagai kompas moral dalam memasuki abad keduanya?

Lirboyo dan pesan moral muktamar

Lirboyo memang bukan letak Muktamar ke-35. Namun, pesan nan lahir dari pesantren tersebut mempunyai makna krusial bagi perjalanan NU. Forum para ustad sepuh pada 26 Agustus 2026 menegaskan pentingnya menjaga kehormatan jam’iyah serta menghindari tekanan dan pertikaian.

Muktamar bukan sekadar sistem pergantian kepemimpinan. Ia adalah momentum menentukan arah perjalanan NU. Dalam tradisi pesantren, kemenangan bukan satu-satunya ukuran. Ada adab, akhlak, penghormatan kepada ilmu, dan ukhuah.

Karena itu, muktamar boleh menjadi arena perbedaan pilihan, tetapi jangan sampai berubah menjadi arena permusuhan. Kontestasi boleh selesai dalam hitungan hari, tetapi persaudaraan NU kudu dijaga untuk puluhan apalagi ratusan tahun.

Bukan sekadar siapa nan menang

Publik tentu mau mengetahui siapa Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Namun, pertanyaan nan lebih strategis adalah: untuk apa kekuasaan organisasi itu digunakan?

NU tidak hanya memerlukan pemenang kontestasi. NU memerlukan kepemimpinan nan bisa mengubah perbedaan menjadi kekuatan, bentrok menjadi rekonsiliasi, tradisi menjadi inovasi, dan besarnya jumlah nahdiyin menjadi kekuatan nyata bagi kemaslahatan bangsa.

KH Ma’ruf Amin menekankan pentingnya kapabilitas manajerial dan teknokratis bagi calon Ketua Umum PBNU, sekaligus keahlian menjalankan kegunaan al-islah: mendamaikan pihak nan berbeda dan menyatukan potensi NU.

Kepemimpinan NU masa depan tidak cukup hanya mempunyai kesalehan personal. Ia kudu mempunyai kapabilitas intelektual, manajerial, teknokratis, dan rekonsiliatif.

Dari kitab kuning menuju artificial intelligence

Tantangan NU abad kedua berbeda dengan masa lalu. Dunia bergerak menuju masyarakat digital. Artificial intelligence (AI) mulai mengubah pendidikan, ekonomi, media, pekerjaan, apalagi langkah manusia membentuk opini.

Generasi muda NU tidak hanya tumbuh di masjid dan pesantren. Mereka hidup di Tiktok, belajar melalui Youtube, berkomunikasi melalui Whatsapp, memperoleh info dari algoritma, dan mulai berinteraksi dengan AI.

Pertanyaannya: apakah NU bisa memasuki bumi baru tanpa kehilangan jati diri?

Jawabannya tidak cukup dengan menyebut besarnya jumlah penduduk NU. Jumlah tidak otomatis menjadi kekuatan. Kekuatan lahir ketika tradisi keilmuan pesantren berjumpa dengan kecakapan teknologi.

Pesantren masa depan tidak cukup melahirkan santri nan bisa membaca kitab. Pesantren juga kudu melahirkan ustadz nan memahami teknologi, intelektual nan memahami agama, teknokrat nan berakhlak, dan generasi digital nan tetap mempunyai sanad keilmuan.

Jangan sampai teknologi menjadi kompas

Semakin canggih teknologi, semakin manusia memerlukan kompas moral. AI dapat menghasilkan informasi, tetapi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Algoritma dapat menentukan apa nan muncul di layar, tetapi tidak boleh menentukan apa nan kita yakini. Media sosial dapat membikin seseorang viral, tetapi viralitas tidak identik dengan kebenaran.

NU tidak perlu memilih antara tradisi dan teknologi. Pilihan nan lebih tepat adalah tradisi nan membimbing teknologi.

Pesantren mempunyai modal penting: talaqqi, sanad keilmuan, tabayyun, adab, penghormatan kepada ulama, dan disiplin dalam memperoleh ilmu. Nilai-nilai ini semakin relevan ketika masyarakat menghadapi banjir informasi, disinformasi, deepfake, manipulasi digital, dan perkembangan AI.

Digitalisasi pesantren tidak boleh berakhir pada pemasangan internet alias penggunaan platform pembelajaran. nan lebih krusial adalah membangun ekosistem pengetahuan nan membikin teknologi tunduk pada nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.

Pesantren sebagai subjek peradaban

Pesantren tidak boleh terus ditempatkan sebagai objek kebijakan. Ke depan, pesantren kudu menjadi subjek peradaban—mampu berbincang tentang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, teknologi, AI, ekonomi digital, masa depan pekerjaan, hingga Indonesia 2045.

Bukan berfaedah pesantren kudu kehilangan identitas. Justru semakin luas persoalan nan dihadapi, semakin krusial pesantren mempertahankan akar keilmuannya.

Pesantren tidak kudu menjadi universitas teknologi. Namun, pesantren kudu bisa melahirkan manusia nan melek teknologi sekaligus matang secara moral. Dunia modern memerlukan manusia nan bukan hanya tahu langkah menggunakan teknologi, tetapi juga memahami untuk apa teknologi digunakan.

Muktamar sebagai momentum rekonsiliasi

Jika ada satu kata nan layak menjadi roh Muktamar ke-35, kata itu adalah rekonsiliasi.

Rekonsiliasi bukan berfaedah semua orang kudu berpikir sama. NU justru tumbuh lantaran bisa mengelola perbedaan. nan kudu dihentikan adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, kritik menjadi fitnah, pilihan politik menjadi fanatisme kelompok, dan kontestasi berubah menjadi perebutan pengaruh.

Pesan para ustad sepuh dari Lirboyo perlu dibaca sebagai pesan moral bagi seluruh nahdiyin, bukan hanya para muktamirin: jangan bawa ego golongan ke dalam rumah besar NU.

Setelah kontestasi selesai, semua pihak tetap berada di rumah nan sama.

Jangan wariskan bentrok kepada generasi muda

Generasi muda NU sedang menunggu jawaban. Mereka tidak terlalu peduli siapa nan paling keras berdebat di ruang elite. Mereka mau mengetahui apakah NU bisa memberikan solusi terhadap persoalan hidup: persaingan kerja, biaya pendidikan, disrupsi AI, hoaks, ketimpangan ekonomi digital, dan krisis orientasi.

Pertanyaan mereka sederhana: di mana NU ketika bumi mereka berubah begitu cepat?

Pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan struktur organisasi. Ia memerlukan visi peradaban. NU abad kedua kudu bisa berbincang kepada generasi muda dengan bahasa era tanpa kehilangan prinsip nan diwariskan para muassis.

Menentukan arah baru

Muktamar jangan hanya menghasilkan ketua umum baru, tetapi juga arah baru. Jangan hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi daya baru. Jangan hanya menghasilkan pemenang baru, tetapi persaudaraan baru.

Muktamar kudu berani menjawab sejumlah pertanyaan: gimana NU memperkuat pendidikan, menjadikan pesantren pusat inovasi, membangun kemandirian ekonomi, menyiapkan generasi menghadapi AI, memperkuat moderasi beragama, dan menjaga tradisi keulamaan di tengah perubahan teknologi?

Tambakberas menjadi tempat Muktamar, sementara Lirboyo menjadi ruang penyampaian pesan moral para ustad sepuh. Namun, makna terpentingnya bukan tentang pesantren mana nan menjadi tuan rumah. Pertanyaannya adalah: apakah nilai-nilai pesantren betul-betul menjadi ruh dalam pengambilan keputusan NU?

Pesantren bukan sekadar latar tempat. Ia adalah rumah moral, sumber keilmuan, dan ruang pembentukan karakter. Muktamar memerlukan musyawarah, tetapi NU juga memerlukan kompas moral agar musyawarah tidak kehilangan arah.

Ujian bagi seluruh NU

NU abad kedua kudu tetap berakar pada Aswaja, tetapi bisa berbincang dengan bahasa zaman. Tetap menghormati ulama, tetapi memberi ruang kepada intelektual, profesional, dan generasi muda. Tetap menjaga tradisi pesantren, tetapi tidak takut berhadapan dengan teknologi. Tetap mencintai bangsa, tetapi bisa berkontribusi terhadap persoalan global.

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 bukan hanya ujian bagi calon Ketua Umum, melainkan bagi seluruh NU. Apakah kita bisa mengendalikan ego, menerima perbedaan, menghormati pilihan orang lain, dan menjaga marwah jam’iyah?

Sebab NU nan besar bukan NU nan tidak pernah berbeda. NU nan besar adalah NU nan bisa mengubah perbedaan menjadi persatuan.

Semoga Muktamar ke-35 tidak hanya memilih siapa nan memimpin NU, tetapi juga menentukan ke mana NU berjalan. Abad kedua memerlukan NU nan kuat keilmuannya, matang kepemimpinannya, maju teknologinya, berdikari ekonominya, dan luhur akhlaknya.

Jika pesantren betul-betul dijadikan kompas, NU tidak perlu takut memasuki masa depan. Sebab pesantren mengajarkan satu prinsip: boleh berubah dalam cara, tetapi jangan kehilangan arah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Selengkapnya