Muncul Fenomena Baru yang Bikin Peternak Ayam RI Ketakutan, Apa Itu?

3 hari yang lalu 5
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga ayam hidup (live bird) nan terus terpuruk dinilai bukan semata-mata akibat kelebihan pasokan (over supply). Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkap ada persoalan nan lebih kompleks, mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan hingga krisis likuiditas di sepanjang rantai pasok nan membikin peternak rakyat semakin tertekan.

Ketua Umum Permindo, Kusnan mengatakan nilai live bird di beragam sentra produksi nasional saat ini hanya berada di kisaran Rp15.000-Rp17.000 per kilogram (kg). Padahal, biaya pokok produksi (HPP) peternak telah mencapai sekitar Rp22.000 per kg.

Di saat nan sama, nilai pakan sebagai komponen biaya terbesar justru terus meningkat menjadi Rp8.600-Rp9.500 per kg alias naik sekitar Rp1.000 per kg dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi tersebut membikin peternak kudu menanggung kerugian sekitar Rp5.000-Rp7.000 per kg ayam nan dijual. Dengan rata-rata berat panen kg per ekor, kerugian peternak dapat mencapai Rp8.000-Rp10.000 per ekor.

Kusnan menilai kondisi ini merupakan kejadian cost-price squeeze, ialah ketika biaya produksi terus meningkat sementara nilai jual justru turun.

"Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis nilai ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin upaya akibat nilai jual nan turun berbarengan dengan kenaikan biaya pakan nan tidak terkendali," kata Kusnan dalam keterangannya, dikutip Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, rendahnya nilai ayam saat ini merupakan akumulasi dari beragam persoalan struktural nan saling terkait. Salah satunya adalah perubahan sistem pengadaan bahan baku pakan impor, nan semakin terkonsentrasi melalui satu pintu dengan sistem pembayaran cash before delivery (CBD).

Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Skema tersebut membikin kebutuhan modal kerja industri pakan meningkat signifikan. Bahan baku utama seperti soybean meal (SBM), feed wheat, dan komponen pakan lainnya memerlukan support likuiditas nan lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Akibatnya, pabrik pakan skala menengah dan mini nan mempunyai keterbatasan modal menghadapi tekanan arus kas nan semakin berat. Untuk menjaga kelangsungan usaha, banyak pabrik pakan mempercepat penagihan kepada peternak.

Tekanan likuiditas nan semula terjadi di tingkat industri pakan pun beranjak ke peternak. Demi memenuhi tanggungjawab pembayaran pakan, DOC, obat-obatan, hingga biaya operasional kandang, peternak terpaksa menjual ayam lebih sigap meskipun nilai sedang rendah.

Dalam banyak kasus, ayam dijual sebelum mencapai berat optimal. Fenomena ini kemudian memicu praktik panic selling nan terjadi secara luas di beragam sentra produksi.

Saat banyak peternak menjual ayam dalam waktu bersamaan, posisi tawar mereka melemah drastis. Kondisi tersebut, menurut Kusnan, dimanfaatkan oleh pedagang perantara alias middleman nan mempunyai keahlian membeli dalam jumlah besar dan mengendalikan arus perdagangan di lapangan. Dampaknya, nilai ayam hidup semakin tertekan dan bergerak jauh di bawah nilai referensi pemerintah.

Kusnan menyebut kondisi ini sebagai contoh nyata bullwhip effect dalam rantai pasok, ialah ketika gangguan nan terjadi di sektor hulu menimbulkan akibat nan jauh lebih besar di sektor hilir.

"Harga ayam nan rendah berkepanjangan saat ini bukan semata-mata akibat over supply, melainkan akumulasi pengaruh domino dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas industri, panic selling peternak, dan ketimpangan struktur pasar nan pada akhirnya menekan nilai jauh di bawah biaya produksi peternak rakyat," tegasnya.

Menurut Permindo, perusahaan besar relatif lebih bisa memperkuat lantaran mempunyai modal kerja nan kuat, akses pembiayaan nan luas, keahlian menyimpan stok bahan baku lebih lama, serta akomodasi penyimpanan karkas dan produk olahan.

Sebaliknya, peternak rakyat dan pabrik pakan skala menengah-kecil menjadi golongan nan paling rentan lantaran sangat berjuntai pada perputaran kas harian.

Kusnan memperingatkan, jika kondisi ini terus berlanjut, maka peternak rakyat berpotensi menjadi pihak pertama nan tersingkir dari industri perunggasan nasional.

Karena itu, dia meminta pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, hingga BUMN pangan segera melakukan langkah korektif nan menyentuh akar persoalan. Usulan nan diajukan antara lain pertimbangan akibat tata kelola impor bahan baku pakan terhadap likuiditas industri, penyediaan akomodasi pembiayaan rantai pasok bagi pabrik pakan menengah dan kecil, pembentukan buffer stock bahan baku nasional, hingga penguatan program serapan ayam hidup dan karkas saat nilai berada di bawah HPP.

Selain itu, para peternak nan tergabung dalam Permindo juga mendorong pembangunan sistem info nasional nan transparan mengenai produksi DOC, populasi ayam, stok karkas, serta kebutuhan pasar agar gejolak nilai dapat diantisipasi lebih baik.

"Jika akar persoalan likuiditas dalam rantai pasok ini tidak segera diselesaikan, maka nilai ayam berpotensi terus berulang jatuh di bawah biaya produksi peternak. nan dibutuhkan peternak rakyat bukan support sesaat, melainkan perbaikan ekosistem upaya nan sehat, adil, transparan, dan berkelanjutan," pungkas Kusnan.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya