Muncul Fenomena Warga RI Lagi Rem Liburan ke Luar Negeri, Ada Apa?

17 jam yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan daya beli masyarakat mulai ikut memengaruhi keputusan untuk melakukan perjalanan. Kondisi ekonomi nan penuh tekanan membikin sebagian masyarakat lebih berhati-hati dalam mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan perjalanan.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Pauline Suharno memandang sejumlah aspek ekonomi turut menekan minat masyarakat bepergian. Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri lantaran terdapat beberapa komponen biaya nan ikut berubah.

"Daya beli melemah, kenaikan nilai tiket, kenaikan bahan baku, dan banyaknya lay off," kata Pauline Suharno kepada CNBC Indonesia, Rabu (26/8/2026).

Tekanan juga datang dari perubahan kondisi aset finansial masyarakat. Pergerakan pasar finansial dapat memengaruhi rasa percaya diri konsumen ketika menentukan pengeluaran untuk kebutuhan nan berkarakter rekreasi.

"Pelemahan nilai saham, penurunan nilai emas juga menjadi salah satu aspek nan mempengaruhi minat orang bepergian," ujarnya.

Namun, kondisi tersebut tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Segmen konsumen dengan keahlian ekonomi lebih tinggi dinilai tetap mempunyai ruang untuk mempertahankan anggaran perjalanan.

"Kalau nan menengah ke atas justru tidak terpengaruh," kata Pauline.

Sejumlah penumpang melangkah di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Sejumlah penumpang melangkah di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah penumpang melangkah di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (4/12/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Data Bank Indonesia memberikan gambaran mengenai perubahan arus perjalanan internasional Indonesia. Dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal II-2026, jumlah pelawat ke luar negeri tercatat 1,96 juta orang, turun dari 2,5 juta orang pada kuartal sebelumnya.

Sebaliknya, jumlah pelawat nan masuk ke Indonesia justru meningkat menjadi 4,01 juta orang dari sebelumnya 3,43 juta orang. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya perbedaan tren antara perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri dan kehadiran pelawat dari luar negeri.

Di tengah tekanan tersebut, industri travel tetap mempunyai ruang untuk memulihkan kinerja. Momentum penjualan dan pameran perjalanan menjadi salah satu parameter bahwa konsumen belum sepenuhnya meninggalkan kebutuhan untuk bepergian.

"Semoga better, memandang result kami semester ke 2 kali ini lebih bagus, lantaran di Astindo Travel Fair 20-23 Agustus result kami sangat bagus, naik 40% dari tahun lalu," kata Pauline.

Kinerja jasa perjalanan Indonesia sendiri tetap mencatatkan surplus pada kuartal II-2026. Bank Indonesia mencatat surplus jasa perjalanan sebesar US$606 juta, meski menyusut dari US$1,09 miliar pada kuartal I-2026.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya