Murid Berubah, Sekolah?

59 menit yang lalu 2
Murid Berubah, Sekolah? (MI/Seno)

AWAL Juli selalu menandai dimulainya tahun aliran baru. Namun, ada perihal nan berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun nan lalu. Murid nan memasuki sekolah hari ini bukan lagi generasi nan berjuntai sepenuhnya pada kitab pelajaran alias penjelasan guru. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus internet dan kepintaran buatan (AI) nan bisa menyajikan info dalam hitungan detik.

Data APJII 2026 menunjukkan penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 80% penduduk. Angka tersebut menggambarkan sebagian besar siswa nan memasuki sekolah hari ini telah terbiasa memperoleh info secara berdikari melalui ruang digital.

Dengan memandang perubahan tersebut, menyambut siswa baru tidak hanya cukup dengan pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga perlu perubahan langkah sekolah memandang murid. Menyambut siswa baru di era AI berfaedah menyambut generasi dengan langkah belajar, langkah berpikir, dan kebutuhan nan berbeda.

KETIKA MURID BERUBAH, SEKOLAH HARUS BERUBAH

Selama puluhan tahun, sekolah berkembang sebagai tempat transfer pengetahuan. Guru menjadi sumber utama informasi, sementara siswa datang untuk menerima dan mempelajari pengetahuan tersebut. Model itu sangat masuk logika pada zamannya, ketika akses info tetap terbatas.

Kini pengetahuan melimpah, tetapi justru di situlah tantangan baru pendidikan: membantu siswa memverifikasi dan menggunakan info secara bertanggung jawab. Penelitian Stanford (2019) menemukan lebih dari 80% siswa tak bisa menilai kredibilitas sumber digital, sementara paparan digital nan serbacepat menggerus keahlian berpikir mendalam. Mereka terbiasa mendapat jawaban instan, tetapi tak terbiasa mempertanyakannya. Generasi sekarang memang mempunyai akses lebih luas daripada generasi sebelumnya, tetapi akses itu tak otomatis melahirkan pemahaman lebih baik. Jika sekolah terus memperkuat dengan pola hafalan, kesenjangan antara pendidikan dan kehidupan nyata bakal semakin lebar.

Di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan saat ini. Selama bertahun-tahun sekolah sukses menjawab persoalan keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Kini tantangannya berubah menjadi gimana membimbing siswa agar tidak tenggelam dalam limpahan informasi. Jika sekolah kandas membaca perubahan itu, ruang kelas hanya bakal menjadi tempat mengulang apa nan telah diketahui murid, bukan tempat memperluas langkah mereka berpikir.

Perubahan itu bukan berfaedah sekolah kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, ketika info tersedia di mana-mana, sekolah semakin dibutuhkan sebagai ruang nan membantu siswa belajar membedakan kebenaran dan opini, menghubungkan pengetahuan dan kehidupan, serta membangun langkah berpikir kritis.

MENYAMBUT MURID DENGAN PENGALAMAN BELAJAR

Pertanyaan selanjutnya adalah gimana sekolah menjalankan peran itu? Jawabannya terletak pada satu kata: pengalaman. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bumi kerja masa depan semakin memerlukan keahlian berpikir kritis, kreatif, komunikasi, kolaborasi, dan semangat belajar sepanjang hayat. Menariknya, seluruh keahlian tersebut tidak tumbuh melalui hafalan, tetapi melalui pengalaman belajar nan mendorong rasa mau tahu, refleksi, dan keberanian mencoba.

Karena itu, ruang kelas perlu berubah menjadi ruang eksplorasi. Sekolah kudu menjadi ruang bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, melakukan riset sederhana, bekerja sama, dan belajar menyelesaikan persoalan nyata. Ketika siswa belajar tentang perubahan iklim, misalnya, mereka tidak cukup hanya memahami arti pemanasan dunia alias menghafal aspek penyebabnya. Mereka perlu diajak mengawasi perubahan lingkungan sekitarnya, menganalisis info curah hujan, berbincang dengan masyarakat, merancang solusi sederhana, hingga mengomunikasikan pendapat mereka.

Pengalaman seperti itulah nan bakal diingat murid. Mereka mungkin lupa arti nan dihafal, tetapi tidak melupakan pengalaman mencari solusi alias berdiskusi. Proses itulah nan mengubah pengetahuan menjadi pemahaman dan pembelajaran menjadi pengalaman hidup.

GURU SEBAGAI PENUNTUN PEMBELAJARAN

Perubahan langkah belajar siswa juga menuntut perubahan peran guru. Pada era AI, pembimbing tidak lagi bersaing, tetapi melengkapi teknologi. Teknologi mungkin lebih sigap memberikan informasi, tetapi tidak bisa memahami karakter setiap murid, membangun hubungan emosional, menanamkan nilai, dan mendorong mereka terus belajar.

Ki Hadjar Dewantara menegaskan pendidikan adalah proses menuntun kodrat anak menuju keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai pribadi maupun personil masyarakat. Filosofi itu semakin relevan di tengah derasnya teknologi. Menuntun bukan memberikan jawaban, melainkan membantu siswa menemukan arah, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya.

Pendekatan deep learningmindful, meaningful, joyful—menjadi salah satu jawabannya. Murid tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman, merefleksikan makna, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan. Guru bukan lagi sekadar penyampai pengetahuan, melainkan juga penuntun nan membantu siswa bertumbuh menjadi manusia utuh.

Namun, perubahan itu tak bakal terwujud jika pembimbing terus dibebani budaya pembelajaran nan berorientasi pada penyelesaian materi dan nomor asesmen. Guru memerlukan ruang untuk merancang pengalaman belajar nan kontekstual.

SEKOLAH YANG RELEVAN PADA ERA AI

Menyambut siswa baru sesungguhnya juga membuka langkah pandang baru terhadap pendidikan. Murid telah berubah sehingga sekolah pun kudu berani berubah. Pada era AI, sekolah bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Akan tetapi, sekolah tetap menjadi tempat terbaik untuk menumbuhkan keahlian masa depan. Sekolah perlu membangun budaya belajar nan memberikan ruang untuk eksplorasi, kolaborasi, refleksi, dan keberanian mencoba.

Hal nan paling krusial adalah membuka langkah pandang baru terhadap pendidikan. Sekolah tidak lagi diukur dari seberapa banyak info nan bisa disampaikan, tetapi dari keahlian mereka menumbuhkan manusia nan bisa berpikir kritis, beradaptasi, bekerja sama, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika teknologi terus berkembang, sekolah bakal tetap relevan bukan lantaran bisa bersaing dengan AI, melainkan lantaran bisa melakukan sesuatu nan tidak dapat dilakukan mesin, ialah menuntun manusia menjadi manusia seutuhnya—berpikir, berempati, dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Di situlah letak masa depan pendidikan: bukan menggantikan peran manusia, melainkan memanusiakan kembali manusia di tengah kecanggihan zaman.

Selengkapnya