Pelari Indonesia Odekta Elvina Naibaho(ANTARA/Aditya Pradana Putra)
PELARI maraton putri jagoan Indonesia, Odekta Elvina Naibaho, tengah berada di persimpangan pekerjaan nan krusial. Di tengah persiapannya menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026, atlet berumur 34 tahun ini mengungkapkan kekhawatirannya mengenai masa depan regenerasi pelari maraton putri di Tanah Air.
Dalam konvensi pers arena Pertamina Eco RunFest 2026 di Jakarta, Rabu (26/8), Odekta secara terbuka menyatakan bahwa dirinya mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri kariernya sebagai atlet profesional. Keputusan tersebut kemungkinan besar bakal diambil setelah dia menuntaskan perjuangannya di arena multievent terbesar di Asia tahun depan.
"Tentunya dengan usia saya sekarang ini, saya cemas tidak ada nan meneruskan jejak saya. Ya, jika saya ketemu jodoh (pasangan hidup), ya, mungkin (Asian Games 2026) ini nan terakhir," ujar Odekta.
Misi Mempertajam Rekor di Jepang
Meski sinyal pensiun sudah mulai berembus, konsentrasi utama Odekta saat ini tetap tertuju pada persiapan matang menuju Jepang. Ia berkeinginan untuk memperbaiki pencapaiannya pada Asian Games Hangzhou sebelumnya, saat dia finis di posisi ke-10. Modal utamanya adalah keberhasilannya memecahkan rekor nasional nan telah memperkuat selama 15 tahun.
Berikut adalah komparasi catatan waktu dan pencapaian signifikan Odekta Elvina Naibaho dalam beberapa tahun terakhir:
| Asian Games Hangzhou (2022) | 2 jam 37 menit 51 detik | Peringkat ke-10 |
| Gold Coast Marathon (2025) | 2 jam 31 menit 34 detik | Rekor Nasional Baru (Memecahkan rekor Triyaningsih) |
| Asian Games Aichi-Nagoya (2026) | - | Target: Perbaikan ranking & waktu |
Persiapan Odekta melalui pemusatan latihan nasional (Pelatnas) PB PASI saat ini telah mencapai 80%. Ia memanfaatkan beragam arena lari seperti Maybank Marathon 2026 dan Pertamina Eco RunFest 2026 sebagai sarana uji coba untuk menjaga level kompetitif dan mengukur kecepatan (pace) sebelum bertolak ke Jepang pada September mendatang.
Urgensi Regenerasi Atlet
Kekhawatiran Odekta bukan tanpa alasan. Ia berambisi munculnya talenta-talenta baru nan bisa mendekati catatan waktunya agar tidak terjadi kekosongan prestasi di level internasional setelah dia pensiun nanti. Ia sangat mengapresiasi arena lari nan mempunyai kategori golongan usia lantaran dinilai efektif menjaring bibit atlet sejak dini.
"Mestinya ada nan sudah nempel alias sudah ada di bawah saya nan mengikuti jejak saya. Jadi, jangan sampai kelak di acara-acara internasional setelah saya, atlet dari Indonesia kosong," tegasnya.
Odekta menyadari persaingan di Asian Games 2026 bakal sangat berat, terutama dengan kehadiran pelari dari Tiongkok, Jepang, serta atlet naturalisasi dari Bahrain dan Filipina.
Namun, dia memilih bersikap realistis dengan konsentrasi memberikan performa terbaik bagi Indonesia daripada terbebani sasaran lencana emas nan terlampau tinggi. (Ant/Z-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·