Pariwisata Mulai Menggeliat, Otoritas India Khawatir Kasus Covid-19 Naik Lagi

  • Whatsapp

India: Sektor pariwisata India mulai bangkit lagi setelah redanya gelombang kedua pandemi covid-19. Warga di India mulai bepergian berlibur. Sementara pihak berwenang khawatir pembukaan kembali aktivitas ekonomi yang menyebabkan kerumunan pelancong.
 
Ini saatnya liburan bagi pengunjung tua dan muda yang memadati Shimla, tempat wisata yang paling populer di India. “Menikmati jalan-jalan dengan teman setelah begitu lama di rumah karena covid-19” ucap Wisatawan, Yamini Sharma, Rabu, 21 Juli 2021.
 
Puluhan ribu wisatawan memadati kota-kota perbukitan India dalam beberapa pekan terakhir seiring dengan menurunnya penularan covid-19 gelombang kedua. Ini disebut sebagai perjalanan balas dendam untuk keinginan berlibur setelah satu tahun mengalami stres, cemas, dan isolasi karena banyak kota tutup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

“Ujian saya dibatalkan baru-baru ini karena covid-19 dan saya merasa harus keluar, penting untuk kesehatan meski banyak orang berkumpul di sini,” ucap wisatawan, Chaksu Sharma.
 
Wisatawan yang kebanyakan tidak memakai masker menimbulkan kekhawatiran di India. Tempat terjadinya ajang penularan seperti rapat politik dan pertemuan keagamaan pada awal tahun, telah berkontribusi membuat varian Delta menyebar ke seluruh negeri.
 
Setelah video tujuan liburan yang sangat padat viral di media sosial, Menteri Kesehatan India memperingatkan mengenai  bahaya covid-19 yang belum berlalu.
 
“Jika kita tidak ambil tindakan pencegahan, kita memberi kesempatan virus menginfeksi kita. Dengan kerja keras, kasus telah turun, tapi ini bisa berbalik lagi karena kita belum menang terhadap virus,” ucap Kepala Kelompok Penanganan Covid-19 India, Vinod K. Paul.
 
Baru sekitar 5 persen warga yang mendapatkan vaksinasi lengkap. Menurut pakar kesehatan serbuan pariwisata ini bisa menimbulkan serbuan awal covid-19 gelombang ke-3. Perdana Menteri Narendra Modi memperingatkan agar warga tidak terlalu padat berkumpul di tempat liburan.
 
Publik yang lelah menghadapi pandemi mengakui resikonya. “Itu bisa bermasalah, tapi orang tidak bisa tinggal di rumah saja,” ucap salah satu wisatawan, Yamini Sharma.
 
Perjalanan balas dendam ini disambut oleh pebisnis yang bergantung pada pariwisata. “10% PDB negara-negara bagian berasal dari pariwisata jika kita berlakukan pembatasan total itu membawa kerugian besar bagi mata pencarian masyarakat karena mereka bekerja di industri perhotelan,” ucap Presiden Yayasan Sahyog, Siddharth Bakaria.
 
Di Shimla banyak warga mengalami kerugian, seperti salah satu pemilik restoran yang memangkas jumlah karyawannya karena penutupan wilayah. “Omset saya menurun 20% dan kini naik 60%-70%,” ucap Pemilik Restoran, Vijay Kumar.
 
India kini masih diselimuti dilema seperti dihadapi negara lain yang sedang menghadapi covid-19, yaitu adanya kebutuhan untuk membuka perekonomian yang tertekan. Sementara ancaman penularan covid-19 terus meningkat. (Raja Alif Adhi Budoyo)
 
(MBM)

Pos terkait