ilustrasi(Antara)
Pasar finansial merespons positif penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto di DPR RI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,59% ke level 6.401, sementara rupiah menguat 0,28% menjadi Rp17.827 per dolar AS pada Jumat (14/8).
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pidato Presiden memberikan gambaran nan semakin jelas mengenai arah pembangunan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Menurutnya, reaksi positif pasar tercermin langsung dari penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah.
"Pasar bereaksi positif dengan IHSG naik dan rupiah ditutup menguat. Menurut saya, ini adalah pidato negara pembangunan," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Jumat (14/8).
Integrasi Kekuatan Ekonomi Nasional
Fakhrul menjelaskan bahwa arah kebijakan nan disampaikan Presiden menunjukkan upaya pemerintah menyatukan beragam kekuatan ekonomi nasional. Tujuannya adalah mencapai pertumbuhan nan lebih tinggi, pembuatan lapangan kerja, dan pemerataan kesejahteraan.
Sejumlah inisiatif strategis nan dipaparkan, seperti Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Danantara Development Management Fund, Indonesia Financial Center, Bursa Komoditas Strategis, Bank Emas, hingga reformasi pasar modal, dinilai saling berkaitan.
"Berbagai kebijakan tersebut mempunyai tujuan nan sama, ialah mendorong sumber daya ekonomi Indonesia bekerja lebih produktif dan menghasilkan nilai tambah nan lebih besar bagi masyarakat," jelasnya.
Pergeseran Mesin Pertumbuhan
Pemerintah sekarang dinilai mulai menempatkan bumi usaha, pasar modal, sistem keuangan, BUMN, sumber daya alam, dan masyarakat sebagai bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi, bukan lagi sekadar mengandalkan APBN. Dalam visi ini, pemerintah berkedudukan membangun fondasi dan menciptakan suasana usaha, sementara sektor swasta dan masyarakat menjadi motor investasi, inovasi, serta ekspansi usaha.
Terkait postur anggaran, Fakhrul menyoroti sasaran defisit RAPBN 2027 sebesar 2,40% terhadap PDB. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal di tengah agenda pembangunan nan ambisius.
"Saya memandang pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kehati-hatian fiskal. Namun, pasar tidak hanya bakal memandang nomor defisit. Investor juga bakal mencermati gimana agenda pembangunan dibiayai dan investasi swasta didorong," tambahnya.
Tantangan Implementasi
Meski visi pembangunan dinilai semakin jelas, pasar tetap menunggu rincian penerapan dari beragam agenda tersebut. Tantangan utama pemerintah selanjutnya adalah memastikan visi tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan nan konsisten, terukur, dan dapat diprediksi oleh pelaku usaha.
Fakhrul menekankan bahwa penguatan tata kelola ekspor melalui DSI, pengembangan hilirisasi, dan peningkatan produktivitas sektor strategis bakal menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang. "Penerimaan negara nan berkepanjangan lahir dari ekonomi nan lebih besar, produktif, dan transparan," pungkasnya.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·