(Dok Bakom RI)
PEMERINTAH terus mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah strategis untuk mengatasi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi terpadu guna meningkatkan kesempatan hujan dan membasahi wilayah-wilayah nan rawan terbakar.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan OMC tetap didukung oleh beragam upaya teknis lainnya di lapangan.
"Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, penemuan dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah," ujar Ristianto melalui keterangan tertulis nan dikutip pada Jumat (21/8).
Capaian OMC di Kalimantan Barat dan Tengah
Di Kalimantan Barat, operasi ini dilaksanakan pada periode 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Selama periode tersebut, tim melakukan 9 sorti penerbangan dengan perkiraan volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, kesempatan untuk melanjutkan OMC di Kalimantan Barat diprediksi kembali terbuka pada 23-27 Agustus 2026. Saat ini, BMKG tengah berkoordinasi dengan pihak mengenai untuk mengupayakan penyelenggaraan kembali operasi tersebut.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan dalam dua gelombang, ialah 27 Juli - 4 Agustus dan 11 - 15 Agustus 2026. Total 13 sorti penerbangan telah dilakukan dengan perkiraan curah hujan sekitar 4,8 juta meter kubik.
Namun, Ristianto memberikan catatan bahwa hingga akhir Agustus 2026, cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan tetap didominasi kondisi kering. "Kondisi cuaca tetap didominasi kering dengan pertumbuhan awan hujan nan terbatas, sehingga kesempatan OMC dalam waktu dekat sangat minim," tambahnya.
Pemantauan Intensif di Kalimantan Selatan
Untuk wilayah Kalimantan Selatan, pemerintah terus memantau perkembangan cuaca, titik panas (hotspot), dan kondisi karhutla secara intensif. Keputusan untuk melaksanakan OMC bakal sangat berjuntai pada kesiapan awan potensial nan memenuhi persyaratan teknis penyemaian.
Pemerintah menegaskan bahwa OMC bukan satu-satunya instrumen. Prioritas tetap diberikan pada pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan lokasi, serta penguatan personel dan sarana prasarana guna mencegah kebakaran meluas.
Penambahan Armada Udara dan Tantangan Asap
Selain modifikasi cuaca, pemerintah juga menambah armada udara untuk memperkuat penanganan karhutla, khususnya di Kalimantan Tengah. Armada nan diturunkan meliputi helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dilaporkan telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BNPB untuk menambah support armada udara. Penambahan ini diharapkan bisa menjangkau titik api nan susah diakses melalui jalur darat.
Tantangan Operasional: Pekatnya asap dalam dua hari terakhir di wilayah Jabiren, Tanjung Taruna, hingga Taman Nasional Sebangau menjadi hambatan utama. Jarak pandang nan terbatas membikin helikopter tidak dapat dipaksakan beraksi demi keselamatan penerbangan.
Ristianto menegaskan, jika kondisi atmosfer tidak mendukung OMC alias jarak pandang tidak kondusif untuk water bombing, satuan tugas darat bakal tetap menjadi garda terdepan dalam melakukan penyekatan, pembasahan, dan pendinginan di letak rawan. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·