Penderita Parkinson Disarankan Tidak Putus Obat, Ini Alasannya

13 jam yang lalu 1
Penderita Parkinson Disarankan Tidak Putus Obat, Ini Alasannya Ilustrasi pengobatan parkinson.(Dok. Magnific)

PENDERITA penyakit Parkinson sangat disarankan untuk menjaga kedisiplinan dalam mengonsumsi obat-obatan mereka. Apoteker klinis dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), apt. Nurul Ulya, menekankan bahwa kepatuhan minum obat sangat krusial untuk mencegah perburukan indikasi motorik.

Nurul menjelaskan bahwa penghentian konsumsi obat secara sembarangan dapat memicu kekambuhan indikasi nan signifikan. "Kalau putus obat jadi kambuh lagi, kaku otot, persendian jadi terganggu sehingga indikasi parkinsonnya tidak bisa tertangani dengan baik. Jadi jika bisa tidak putus obat," ujar Nurul dalam obrolan daring memperingati Hari Parkinson di Jakarta.

Aturan Frekuensi dan Jeda Minum Obat

Ketepatan waktu merupakan kunci utama dalam terapi Parkinson. Nurul merinci bahwa gelombang minum obat kudu disesuaikan dengan petunjuk master untuk menjaga kadar obat dalam tubuh tetap stabil:

  • 1 kali sehari: Diminum setiap 24 jam sekali.
  • 2 kali sehari: Diminum setiap 12 jam sekali.
  • 3 kali sehari: Diminum setiap 8 jam sekali.

Jika pasien tidak sengaja melewatkan agenda minum obat, Nurul menyarankan agar obat segera diminum saat teringat. Namun, agenda berikutnya kudu disesuaikan kembali berasas rentang waktu konsumsi terakhir tersebut.

Interaksi Obat Levodopa dan Makanan

Salah satu poin krusial nan disoroti adalah langkah konsumsi obat jenis levodopa. Nurul mengingatkan bahwa obat ini sebaiknya diminum saat perut kosong agar penyerapannya maksimal. Hal ini dikarenakan levodopa dapat berikatan dengan protein dari makanan, nan justru menghalang efektivitas obat.

"Harus dalam keadaan perut kosong. Levodopa bakal berikatan dengan protein makanan jadi absorpsinya terganggu. Baiknya diminum 1 jam sebelum makan alias 2 jam setelah makan," jelasnya.

Bagi pasien Parkinson nan menggunakan selang makan (NGT), sangat disarankan untuk berkonsultasi kembali dengan master mengenai jenis obat nan boleh dihaluskan dan nan tidak, guna memastikan terapi tetap optimal.

Harapan Pemulihan dan Produktivitas

Kepatuhan terhadap agenda obat dan kontrol rutin ke master diharapkan dapat mencegah perburukan kondisi saraf. Dengan terapi nan teratur, pasien Parkinson mempunyai kesempatan besar untuk kembali menjalani rutinitas secara normal dan produktif.

Nurul menambahkan bahwa seiring dengan perbaikan indikasi nan konsisten, tidak menutup kemungkinan dosis obat dapat dikurangi oleh master di masa mendatang. Kuncinya tetap pada kedisiplinan pasien dalam mengikuti protokol pengobatan nan telah ditetapkan. (Ant/H-3)

Selengkapnya