Perang Iran Kuras Kas Angkatan Laut AS, Gaji Tentara Terancam

56 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Donald Trump terhadap Iran disebut dengan sigap menguras anggaran Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), hingga biaya untuk kebutuhan lain kudu dialihkan demi membiayai operasi tempur.

Dokumen Pentagon nan diperoleh The Guardian dan wawancara dengan pejabat, kontraktor, serta analis pertahanan menunjukkan tekanan finansial serius di tubuh Angkatan Laut AS. Salah satu memo memperingatkan adanya "kekurangan dalam daftar gaji" lantaran biaya dihimpun untuk membiayai operasi tempur.

Sejumlah pejabat dan mantan pejabat mengatakan kondisi kas tersebut mulai berakibat pada aktivitas rutin.

"Uang untuk penggajian dirampok untuk bayar kontingensi di luar negeri," ujar seorang pejabat Angkatan Laut nan mengetahui rencana penanganan kekurangan dana.

Operasi AS-Israel terhadap Iran telah menguras persediaan amunisi sekaligus memicu serangan jawaban Iran ke sejumlah pangkalan strategis AS di Timur Tengah. Angkatan Laut juga kudu menopang operasi blokade laut nan ekstensif, sehingga anggaran 2026 nan mencapai nyaris US$300 miliar alias sekitar Rp5.310 triliun mendapat tekanan besar.

Masalah itu apalagi mulai memengaruhi pemeliharaan fasilitas. Seorang pejabat dan kontraktor Angkatan Laut mengatakan sejumlah pekerjaan pemeliharaan non-darurat di akomodasi berbasis pantai telah ditunda akibat keterbatasan dana.

Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle sebelumnya telah memperingatkan Kongres bahwa krisis pendanaan bakal muncul pada Juli.

"Saya cemas saya kudu mulai membikin keputusan dalam jangka waktu Juli tentang gimana saya memaksa generasi," katanya, seraya memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memengaruhi latihan dan operasi rutin.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mendesak Kongres memberikan pendanaan darurat. Ia mengatakan perang Iran telah menelan biaya US$35,7 miliar alias sekitar Rp631,9 triliun, sementara pemerintahan Trump meminta tambahan US$67 miliar alias sekitar Rp1.185,9 triliun untuk Departemen Pertahanan.

Analis pertahanan Todd Harrison dari American Enterprise Institute menilai persoalan tersebut sebenarnya sudah diketahui di internal militer.

"Mereka hanya tidak berbincang secara terbuka tentang perihal itu," ujarnya.

Sementara itu, mantan perwira militer nan sekarang bekerja untuk kontraktor Angkatan Laut menggambarkan situasinya lebih keras: "Mereka kacau. Mereka menembak semua senjata mereka... mereka kehabisan uang."

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya