(MI/Seno)
SETIAP kali Muktamar Nahdlatul Ulama digelar, selalu muncul emosi kombinasi aduk. Ada emosi ceria sekaligus harapan, tetapi juga resah dan bertanya-tanya, mau dibawa ke mana (lagi) NU? Karenanya, saya selalu mengawasi dari dekat setiap perhelatan muktamar, untuk memandang lebih dekat ke mana NU sedang bergerak.
Sejak muktamar di Krapyak 1989 hingga muktamar setelahnya, saya mengikuti dinamika itu dengan emosi serupa. Bagi saya, muktamar bukan tentang siapa nan memimpin NU meskipun perihal itu selalu menjadi topik obrolan nan paling seru. Jauh lebih krusial lagi, muktamar adalah ruang tempat NU mempercakapkan dirinya sendiri mengingat dari mana organisasi itu datang, sekaligus menentukan pengetahuan seperti apa nan hendak diproduksi dan diwariskan dalam menghadapi era nan terus berubah.
Satu perihal nan secara esensial patut dilihat adalah peran perempuan di dalamnya. Martin van Bruniessen dalam beragam tulisannya karap mengingatkan peran wanita dalam NU sangat menentukan gimana wajah dan corak Islam bakal dihadirkan. Perempuan adalah satu komponen vital dalam NU nan membangun, merawat, dan memperdebatkan pengetahuan pengetahuan, dengan tetap mempertahankan tradisi berpikir nan berakar pada metode pengambilan norma nan hidup dalam tradisi keilmuan di pesantren. Singkatnya, wanita dalam NU tidak hanya berkedudukan sebagai resipien pengetahuan, tetapi juga sebagai pemasok epistemik nan aktif memproduksi dan membentuk pengetahuan.
TRADISI PENGETAHUAN YANG HIDUP
NU adalah lanskap tempat tradisi intelektual Islam di Indonesia nan sangat panjang bertumbuh dan berkembang. Pesantren, kitab kuning, sanad keilmuan, forum pengambilan norma melaui bahtsul masail, madrasah, majelis taklim, hingga percakapan keagamaan di tengah masyarakat merupakan bagian dari ekosistem pengetahuan dalam NU. Pengetahuan dalam tradisi NU bukan semata-mata nan tersimpan di rak-rak kitab kuning. Ia hidup. Ia dibaca, diperdebatkan, diajarkan, diwariskan, dan dipraktikkan.
Tradisi membikin pengetahuan mempunyai umur nan panjang. Tradisi tidak bergerak linier dan tenang. Ia bergolak lantaran berbincang dengan era nan terus berubah. Satu generasi belajar dari generasi sebelumnya, lampau mengajarkannya kembali kepada generasi berikutnya. Ada kesinambungan sanad keilmuan dan kesadaran bahwa pengetahuan tidak lahir sendirian. Namun, justru di tengah kuatnya tradisi itulah kita perlu mengusulkan pertanyaan berikutnya: siapa nan selama ini membikin pengetahuan itu tetap hidup? Dalam kehidupan NU, proses produksi dan transmisi pengetahuan berjalan melalui jaringan intelektual dan sosial nan sangat luas, ialah melalui pesantren.
Di sinilah kita sampai pada persoalan nan lebih dalam. Jika memandang foto-foto kandidat Ketua PBNU tahun ini, terdapat delapan calon dan tak satu pun perempuan. Padahal, wanita sesungguhnya tidak pernah berada di luar tradisi pengetahuan NU. Mereka adalah tonggak-tonggak NU nan membikin tradisi itu terus bergerak. Namun, kedekatan mereka dengan pengetahuan dan kukuhnya mereka menggendong tradisi berpikir di NU belum tentu mendapatkan pengakuan sebagai produsen pengetahuan. Perempuan sering di posisikan sebagai pihak nan menyampaikan, mengajarkan, merawat, dan menyebarluaskan pengetahuan nan diproduksi dalam tradisi NU. Sementara itu, ruang untuk merumuskan, menafsirkan, memperdebatkan, dan menentukan arah pengetahuan lebih sering diasosiasikan dengan otoritas nan berada di lapisan lain, ialah laki-laki.
Pertanyaannya, seberapa jauh dan memungkinkan struktur pengetahuan dalam tradisi NU memandang dan menimbang keahlian itu? Pertanyaan tersebut terasa semakin krusial ketika wanita datang lebih nyata dalam ruang-ruang pembahasan keagamaan. Dua kali berturut-turut sejak 2017 sekumpulan wanita dari lingkungan NU menggagas KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia). Keterlibatan wanita akademisi nan berpadu dalam APMNU dalam bahtsul masail dan percakapan sosial-keagamaan merupakan jejak tradisi nan tak mungkin diabaikan.
Saat Muktamar Krapyak 1989, lampau Muktamar Cipasung 1994, NU betul-betul behadapan dengan rumor pembangunan internasional nan memerlukan strategi untuk menyikapinya. Isu kependudukan nan digelar dalam Konferensi Internasional Kependudukan di Kairo 1994 dan lanjut ke Beijing 1995, saya terlibat di dalamnya. Isu sentralnya menantang langsung tradisi pemikiran NU tentang posisi wanita nan sering kali diterjemahkan secara tradisionalis.
Perempuan NU memahami bahwa mereka mempunyai kewenangan dan tanggung jawab intelektual untuk ikut bertanya, membaca ulang, merumuskan, dan apalagi mengoreksi ketika suatu produk pengetahuan tidak lagi cukup menjawab realitas kehidupan. Kesadaran itu mungkin dibaca sebagai perlawanan terhadap tradisi, tetapi sejatinya justru mengukuhkan tradisi agar relevan sepanjang zaman. Cara nan dilakukan bisa dengan mengkritiknya lantaran wanita mau pengetahuan dalam tradisis NU relevan dan bisa mengatasi luka serta kegelisahan manusia.
PERGESERAN EKSISTENSIAL
Barangkali inilah salah satu perubahan krusial nan perlu direfleksikan. Perempuan NU tidak lagi bertanya, “Apakah boleh hadir?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Apakah sumbangan pemikiran kami dipertimbangkan?" Perubahan pertanyaan itu sangat penting. Hal itu menunjukkan pergeseran dari kebutuhan ekistensial berbasis kehadiran ke kesadaran tentang pengakuan atas kapabilitas intelektual dan sumbangannya pada tradisi NU dan secara lebih luas pada tradisi Islam di dunia.
NU memerlukan perspektif wanita untuk memahami persoalan family dan masyarakat nan terus berubah, dari pendidikan, kependudukan, lingkungan, dan kemiskinan hingga kekerasan, teknologi, dan perubahan kehidupan keluarga. Kehadiran wanita dalam tradisi pemikiran NU bukan sekadar pelengkap. Tanpa mereka, tak mungkin ada NU seperti hari ini.
Karenanya, setiap muktamar selalu membangkitkan harapan. Saya mau memandang Muktamar NU bukan hanya sebagai tempat keputusan organisasi dibuat, melainkan juga sebagai ruang tempat kita berani bertanya tentang masa depan tradisi pengetahuan NU. Siapa nan bakal mewarisinya? Siapa nan bakal mengembangkannya? Siapa nan bakal diberi ruang untuk mempertanyakannya? Siapa pula nan bakal menentukan pengetahuan apa nan dibutuhkan masyarakat pada masa depan?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jujur, kita bakal menemukan wanita di dalamnya. Mereka adalah penjaga api pengetahuan dalam tradisi NU agar api itu tetap menyala. Selamat bermuktamar









English (US) ·
Indonesian (ID) ·