ARTICLE AD BOX
loading...
Keberhasilan modernisasi pengadaan alutsista di tengah meningkatnya tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi dunia sangat berjuntai pada perencanaan nan matang. Foto/SindoNews
JAKARTA - Keberhasilan modernisasi pengadaan perangkat utama sistem persenjataan ( alutsista ) di tengah meningkatnya tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi dunia sangat berjuntai pada perencanaan nan matang. Pengadaan alutsista melalui pinjaman luar negeri kudu mengedepankan prinsip value for money, ialah memastikan setiap Rupiah nan dibelanjakan menghasilkan keahlian pertahanan nan optimal dan sepadan dengan biaya nan dikeluarkan.
Prinsip tersebut mengemuka dalam talkshow Marapi Consulting & Advisory berjudul Pengadaan Alutsista Berbasis Value for Money nan menghadirkan ahli ekonomi INDEF Eko Listiyanto, mantan Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono, dan konsultan pertahanan Marapi Alman Helvas Ali.
Dalam paparannya, Eko Listiyanto menjelaskan tantangan fiskal Indonesia tahun ini semakin berat dibandingkan perkiraan awal. Pelemahan nilai tukar Rupiah, meningkatnya tekanan terhadap APBN, serta tingginya rasio pembayaran utang (debt service ratio) membikin ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Menurutnya, dinamika tersebut kudu menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan pengadaan alutsista berbasis pinjaman luar negeri.
Baca juga: Aksi Heroik Pilot Marinir nan Gugur Ditembak demi Selamatkan Kopassus Di Timtim
Eko mengingatkan andaikan ranking angsuran Indonesia mengalami penurunan, biaya pinjaman bakal semakin mahal sehingga mengurangi efisiensi shopping pertahanan. "Ke depan transparansi info dan komunikasi pemerintah menjadi sangat krusial lantaran bakal membangun kepercayaan publik maupun pasar terhadap kebijakan fiskal dan pertahanan," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Eko juga menyoroti pentingnya memilih skema pembiayaan nan memberikan biaya dan akibat paling rendah. Pembiayaan melalui Export Credit Agency (ECA) nan didukung lembaga penjamin pemerintah di negara pemasok umumnya lebih kondusif dan kompetitif dibandingkan skema Kredit Swasta Asing (KSA). "Kepercayaan menjadi aspek utama. Skema dengan penjaminan pemerintah memberikan kepastian dan biaya pembiayaan nan lebih kompetitif," jelasnya.
Lihat video: ALUTSISTA BARU DATANG! Prabowo Resmi Serahkan 6 Jet Tempur Rafale untuk Perkuat TNI!
Eko menambahkan modernisasi pertahanan tidak cukup hanya menghasilkan value for money, tetapi juga kudu menciptakan value for the economy, ialah mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional, memperkuat rantai pasok dalam negeri, dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·