Petaka Gelombang Panas "Omega" Panggang Eropa, Korban Tewas Berjatuhan

1 bulan yang lalu 29
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Wilayah Eropa Barat tengah berada dalam cengkeraman gelombang panas ekstrem berjulukan pola cuaca Omega. Cuaca jelek ini telah merenggut puluhan korban jiwa, merusak pasokan listrik nasional, serta memaksa penutupan ratusan sekolah dan beragam gedung berhistoris di beberapa negara.

Mengutip laporan Reuters, Kamis (25/6/2026), para mahir meteorologi mengeluarkan peringatan bahwa temperatur ekstrem ini tetap bakal memperkuat hingga akhir pekan. Inggris mencatatkan rekor suhu tertinggi unik untuk bulan Juni nan mencapai 36,1 derajat Celsius di wilayah selatan, sementara suhu di Paris menyentuh nomor 40,9 derajat Celsius.

Kondisi darurat ini membikin Kementerian Kesehatan Italia langsung menetapkan status siaga tertinggi untuk 16 kota besar, termasuk Florence, Milan, Roma, Turin, dan Verona. Pihak berkuasa di Prancis juga mengonfirmasi sedikitnya 48 orang tewas tenggelam lantaran mencoba mendinginkan diri di tempat pemandian umum, ditambah kasus tragis dua balita nan tewas akibat kepanasan di dalam mobil.

Dampak fatal dari sektor agraris juga dilaporkan oleh golongan tani setempat, di mana ratusan ribu unggas meninggal massal di peternakan wilayah Brittany dan Pays de la Loire. Akibat krisis air ini, pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis terpaksa mematikan pasokan listrik sebesar 7% dari total permintaan nasional lantaran keterbatasan akses air sungai untuk proses pendinginan reaktor.

Blok Omega Menjebak Panas Ekstrem

Fenomena gelombang panas kali ini didorong oleh sistem tekanan udara tinggi nan membentuk visual menyerupai huruf Yunani, Omega. Sistem ini berfaedah seperti kubah raksasa nan menjebak udara panas di dalam suatu wilayah dalam jangka waktu lama, sementara area pinggirannya condong berangin dingin.

Badan cuaca Météo-France menyatakan bahwa intensitas musibah kali ini sangat mirip dengan tragedi gelombang panas pada Agustus 2003 silam. Pada waktu itu, cuaca panas ekstrem memperkuat selama 16 hari berturut-turut dan memicu sekitar 80.000 kasus kematian massal di seluruh teritorial Eropa.

Dampak jelek dari cuaca panas ini mengacaukan sistem transportasi dan ruang publik secara masif di Inggris. Ratusan sekolah ditutup serentak lantaran suhu udara dinilai membahayakan kesehatan orang dewasa, sementara jalur kereta bawah tanah di London mengalami penundaan agenda nan parah akibat rel memuai.

Kondisi serupa terjadi di Belanda, di mana pemerintah setempat memberlakukan siaga panas ekstrem nan berujung pada pembatalan seluruh aktivitas olahraga luar ruangan serta pemotongan jam operasional transportasi publik. Sementara itu di Swiss, otoritas wilayah mengambil langkah simpatik dengan menggratiskan tiket bioskop ber-AC pada siang hari sebagai tempat berlindung bagi penduduk sipil.

Pekan Mode Paris Ikut Gerah

Suhu udara nan menyengat turut mengganggu jalannya agenda busana internasional, Pekan Mode Paris (Paris Fashion Week), nan sedang berlangsung. Para penonton dilaporkan mandi keringat saat menyaksikan peragaan busana Louis Vuitton nan menampilkan karya penyanyi Pharrell Williams, hingga membikin jenama besar lain seperti Dior mengubah agenda ke pagi hari.

Destinasi wisata ikonik seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre terpaksa memangkas jam operasional mereka demi keselamatan staf dan turis. Di Italia, Galeri Uffizi di Florence menghentikan seluruh penjualan tiket demi memperbaiki sistem pendingin ruangan (AC) nan rusak akibat bekerja terlalu keras.

"Banyak sekali orang nan sudah melakukan perjalanan dari beragam bagian bumi tidak mendapatkan kesempatan untuk memandang pemandangan nan ditawarkan Paris lantaran gelombang panas ini," keluh Tanya Thompson, seorang turis asal Amerika Serikat.

Jam Kerja Terdampak

Para pelaku industri bangunan di seantero Eropa mulai memutar otak dengan mengubah jam kerja lapangan demi membatasi paparan langsung sengatan mentari pada buruh. Di sektor ritel, para pemilik toko logistik mulai kehabisan stok pendingin ruangan portabel dan kipas angin lantaran lonjakan permintaan nan luar biasa dari masyarakat.

"Para petani telah beranjak ke sif malam untuk melindungi pekerja dan mengurangi akibat kebakaran lahan," ungkap perwakilan dari koperasi pertanian Prancis.

Meskipun situasi kota sangat menyengat, ribuan peziarah dan turis di Vatikan terpantau tetap mengantre dengan sabar di bawah terik mentari demi memasuki area museum. Banyak dari mereka memanfaatkan akomodasi pancuran air umum untuk sekadar membasahi kepala alias berburu minuman dingin di warung sekitar.

"Kami mau bir, segelas bir untuk meredakan panas ini," cetus Pastor Israel, seorang pemuka kepercayaan asal Republik Dominika, sembari mengangkat segelas besar bir di tangannya.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya