Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum Jadi Arang Bernilai Ekonomi

1 jam yang lalu 5
Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum Jadi Arang Bernilai Ekonomi Masyarakat diedukasi tentang langkah mengolah limbah sorgum.(BPH)

Universitas Bakti Tunas Husada (BTH) mendorong masyarakat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengolah limbah batang sorgum menjadi arang dan briket. Inisiatif tersebut dijalankan melalui program hibah pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa nan digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Program ini menyasar Kelompok Tani Cahaya Harapan di Desa Karangkamulyan. Pengolahan batang sorgum diharapkan tidak hanya mengurangi limbah pertanian nan berpotensi menumpuk, tetapi juga membuka kesempatan pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber daya pengganti nan mempunyai nilai ekonomi.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas BTH sekaligus Ketua Tim Hibah, Ummy Mardiana, mengatakan pengelolaan limbah pertanian perlu dilakukan agar keberadaannya tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

“Batang sorgum nan selama ini berpotensi dibuang alias dibakar dapat dimanfaatkan menjadi produk nan lebih bernilai, salah satunya sebagai bahan baku arang dan briket. Ini menjadi bagian dari upaya kita mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan,” kata Ummy.

Melalui aktivitas pendampingan, petani diperkenalkan pada teknik karbonisasi batang sorgum dengan kondisi oksigen terbatas untuk menghasilkan arang. Hasil karbonisasi tersebut selanjutnya diolah sebagai bahan baku dan dicetak menjadi briket menggunakan peralatan nan dirancang agar dapat dioperasikan oleh golongan masyarakat.

Pendampingan teknis mengenai karbonisasi dan produksi briket diberikan Hadi Yusuf Faturochman. Ia menjelaskan, kualitas arang menjadi salah satu aspek krusial nan menentukan hasil akhir briket.

“Kunci awal pembuatan briket adalah menghasilkan arang nan baik melalui proses karbonisasi nan tepat. Setelah arang diperoleh, bahan kemudian dipersiapkan untuk proses pencetakan menjadi briket,” ujar Hadi.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi, Universitas BTH turut menyerahkan mesin alias perangkat cetak briket kepada Kelompok Tani Cahaya Harapan. Peralatan tersebut diharapkan memungkinkan masyarakat meneruskan aktivitas produksi secara berdikari setelah program pendampingan berakhir.

Teknologi nan diperkenalkan dalam program tersebut juga mempunyai produk samping berupa asap dari proses karbonisasi. Dalam rancangan teknologinya, asap tersebut dapat dikondensasikan menjadi asap cair nonpangan nan berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan tertentu, antara lain sebagai bahan pendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman maupun pengawet kayu nonpangan.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup strategi pengembangan dan pemasaran produk. Dosen bagian Bisnis Digital Universitas BTH, Hana Diana Maria, memberikan materi mengenai branding, literasi digital, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Menurut Hana, keahlian masyarakat dalam menghasilkan produk perlu dibarengi dengan strategi pemasaran nan tepat agar produk lokal dapat mempunyai daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Ketika masyarakat sudah bisa menghasilkan produk, tahap berikutnya adalah gimana produk tersebut dapat dikenal dan mempunyai nilai ekonomi,” ujarnya.

Pengolahan batang sorgum menjadi arang dan briket menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan konsep ekonomi sirkular di tingkat desa. Limbah pertanian nan sebelumnya berpotensi tidak termanfaatkan diarahkan menjadi produk nan mempunyai kegunaan sekaligus nilai guna. (E-3)

Selengkapnya