Petugas kesehatan mendekati sebuah perahu kayu besar, nan dikenal sebagai baleiniere, nan berlabuh di pelabuhan Bende-Bende, pada 20 Agustus 2026.(AFP)
GERAKAN Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyuarakan kekhawatiran mendalam setelah enam pekerja kemanusiaan terluka dalam serangkaian serangan saat berupaya menanggulangi pandemi Ebola nan mematikan di Republik Demokratik Kongo (DRC).
"Serangan terhadap sukarelawan dan personel kemanusiaan tidak dapat diterima," tegas Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dalam pernyataan berbareng dengan Perhimpunan Palang Merah DRC dan Uganda.
Rangkaian tindakan kekerasan tersebut terjadi berturut-turut dalam sepekan. Pada 17 Agustus, konvoi Palang Merah Uganda nan membantu penanganan Ebola diserang di Provinsi Ituri, pusat episentrum wabah. Insiden tersebut mengakibatkan satu orang luka berat serta dua unit ambulans dilempari batu dan dirusak.
Sehari setelahnya, pada 18 Agustus, dua sukarelawan mengalami luka-luka saat berupaya menguburkan jenazah korban di Provinsi Haut-Uele. Keduanya kudu dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis, sementara dua kendaraan operasional rusak. Selanjutnya pada Rabu, tiga sukarelawan diserang dan terluka di Beni, Provinsi Kivu Utara, di mana beragam peralatan penanganan Ebola juga dihancurkan.
Pihak Palang Merah menegaskan kejadian ini menjadi pengingat nan mengkhawatirkan atas akibat besar nan dihadapi para pekerja kemanusiaan di lapangan.
"Rasa hormat terhadap personel kemanusiaan dan aktivitas kemanusiaan sangat krusial untuk memastikan masyarakat nan terdampak epidemi dan krisis lainnya tetap menerima support dan jasa nan sangat mereka butuhkan," tulis pernyataan tersebut.
"Setiap personel nan terluka dan setiap ambulans, kendaraan, alias peralatan nan rusak mengurangi kapabilitas penyediaan jasa kesehatan darurat dan kemanusiaan. Hal ini menempatkan lebih banyak nyawa dalam akibat serta membikin epidemi semakin susah dikendalikan."
Secara keseluruhan, tercatat 12 sukarelawan terluka, sejumlah ambulans rusak, dan beragam peralatan tanggap darurat hancur dalam 11 kejadian kekerasan sejak pandemi Ebola resmi dinyatakan pada 15 Mei.
Wabah ini menghantam wilayah utara dan timur Kongo nan minim prasarana kesehatan serta diwarnai bentrok bersenjata selama puluhan tahun. Ketegangan dengan penduduk lokal kerap dipicu oleh penanganan jenazah korban Ebola. Proses pemakaman kudu diawasi secara ketat lantaran virus dapat menular melalui kontak cairan tubuh, menjadikan jenazah tetap berpotensi menyebarkan penularan.
Wabah nan dipicu oleh jenis langka Bundibugyo ini menjadi nan terbesar dalam sejarah DRC, di mana belum ada vaksin maupun pengobatan unik untuk jenis tersebut. Berdasarkan info Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 2.557 kematian telah dicatat dari 5.375 kasus terkonfirmasi di negara tersebut.
Menanggapi situasi nan kian memburuk, WHO mendesak pemerintah DRC untuk menerapkan tindakan pembatasan jarak sosial demi menekan penularan. Organisasi tersebut juga meminta pengurangan birokrasi bagi masuknya tim kesehatan internasional dan pasokan medis.
Selain itu, WHO mengimbau otoritas setempat untuk memberlakukan pemeriksaan kesehatan di titik-titik lampau lintas wilayah terdampak, serta membatasi penggunaan sepeda motor hanya untuk satu penumpang. (AFP/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·