PGN Pastikan Pakai CNG Bisa Lebih Hemat 30% Dibanding LPG

57 menit yang lalu 2

Yogyakarta, CNBC Indonesia - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak upaya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) terus memperkuat pemanfaatan gas bumi melalui Compressed Natural Gas (CNG) kluster, baik melalui Jaringan Gas (Jargas) maupun CNG tabung ke pengguna komersial dan rumah tangga.

Pemakaian CNG sebagai pengganti pengganti LPG dipastikan bisa lebih irit hingga 20% sampai 30%.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan mengatakan, pengembangan CNG perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan daya bagi masyarakat dan pelaku usaha. "Kami memandang ini bukan soal menggantikan satu daya dengan daya lain, melainkan memperluas pilihan," kata Santiaji di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Santiaji menambahkan, CNG sebagai gas bumi nan dihasilkan dari dalam negeri bisa menghemat pemakaian hingga 20% - 30% jika dibandingkan dengan pemakaian LPG.

"Penelitian kami maka sekitar 20% sampai 30%. Dan memang nan saya sampaikan ke pelanggan-pelanggan juga menyampaikan perihal nan sama. Karena berasas jika dia biasa pakai misal nan 50 kg gitu kan, terus dibandingkan dia pakai nan 'sebelah'," terang Santiaji ditemui di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Dia menambahkan, masyarakat maupun pelaku upaya memerlukan akses terhadap beragam sumber daya nan andal, terjangkau, dan berbasis sumber daya dalam negeri. CNG merupakan salah satu opsi daya nan telah tersedia dan dapat terus dikembangkan secara berjenjang sesuai dengan arah kebijakan pemerintah.

"Yang pertama gini, pertama jika CNG satu, dengan daya lain satu tentunya tadi ya, energinya lebih bersih, ya. Kemudian ini domestik, tidak impor, ya. Jadi original Indonesia, Pak," terang Santiaji.

Yogyakarta menjadi salah satu pasar paling krusial dalam pengembangan upaya CNG Gagas. Dari daftar pelanggan, Bakpia Tugu Jogja tercatat sebagai pengguna dengan kebutuhan volume terbesar, mencapai sekitar 50.000 m³. Selain itu, Payakumbuh Jogja menyerap sekitar 2.000 m³, dan Platinum Hotel sekitar 1.500 m³.

Di Sukoharjo, pengguna nan tercatat antara lain Bening Big Tree dengan kebutuhan sekitar 3.000 m³, 12 titik Stasiun Pengisian dan Pemindahan Gas (SPPG) dengan total kebutuhan sekitar 12.000 m³, serta Aston Hotel Solo sekitar 1.500 m³. Sementara di Magelang, jasa CNG digunakan oleh dua titik SPPG dengan volume sekitar 2.000 m³ dan PGN Balkondes sekitar 2.000 m³.

Berdasarkan info prasarana klasterisasi CNG Jargas Sleman, jaringan tersebut telah didukung 1 unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa DTM berdiameter 180 mm dan 90 mm sepanjang 15,9 kilometer, serta 5 unit Regulating Station (RS).

Sementara itu, jaringan pipa DTR berdiameter 63 mm mencapai 125,5 kilometer. Jika digabungkan, panjang jaringan nan tercatat dalam sistem tersebut mencapai sekitar 141,4 kilometer.

Dari sisi pelanggan, jaringan gas tersebut telah melayani 4.545 pengguna rumah tangga (SRT), 6 pengguna mini (PK), serta 4 pengguna komersial/industri (KI). Dengan demikian, terdapat 4.555 pengguna nan tercatat dalam jaringan tersebut.

Besarnya jumlah pengguna rumah tangga menunjukkan bahwa pemanfaatan gas bumi di Sleman telah mempunyai pedoman pasar nan cukup kuat. Namun, dari perspektif bisnis, komposisi pengguna tersebut sekaligus menunjukkan adanya ruang ekspansi nan besar pada segmen komersial dan industri.

Sejumlah akomodasi nan berada di sekitar jaringan, seperti rumah sakit, hotel, restoran dan beragam aktivitas usaha, menjadi potensi pasar nan dapat dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi.'

Santiaji menegaskan bahwa PGN Gagas bakal terus mengembangkan pemanfaatan CNG dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar dan kesiapan infrastruktur.

"Semakin beragam pilihan daya nan tersedia, semakin kuat ketahanan daya kita sebagai bangsa. CNG datang sebagai salah satu opsi nan melengkapi daya eksisting dalam kerangka bauran daya nasional," kata Santiaji.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya