ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Piala Dunia 2026 sejauh ini melangkah sangat memanjakan mata para pencinta sepak bola ofensif. Turnamen sepak bola terakbar di Amerika Utara ini mencatatkan lonjakan produktivitas gol hingga nyaris 25 persen dibandingkan periode nan sama pada jenis sebelumnya di Qatar.
Melansir Asia One, hingga 40 pertandingan pertama bergulir, tercatat sudah ada 121 gol nan bersarang dari kaki dan kepala 88 pemain berbeda. Artinya, rata-rata gol per pertandingan menyentuh nomor fantastis, ialah 3 gol per laga.
Sejauh ini baru ada tiga pertandingan nan berhujung dengan skor kacamata (0-0). Lantas, apa nan menyebabkan angin besar gol ini terjadi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut adalah beberapa aspek utama di kembali tingginya produktivitas gol di Piala Dunia 2026:
1. Teknologi Bola nan "Seliar Meriam"
Salah satu kambing hitam utama di kembali merosotnya kesucian gawang para kiper adalah bola resmi nan digunakan FIFA. Didesain dengan jahitan nan lebih dalam untuk stabilitas udara, bola ini justru dinilai melesat terlalu sigap saat ditendang.
"Bola ini secepat peluru meriam. Jika Anda menendangnya di posisi nan tepat, bakal sangat susah bagi kiper untuk menyelamatkannya," keluh pembimbing Austria, Ralf Rangnick.
Selain itu, lapisan luar bola mempunyai daya cengkeram tambahan nan membantu pemain melakukan dribel dan tendangan jeli di kondisi cuaca basah maupun lembap.
2. Aturan Stoppage Time dan Hydration Breaks
Waktu pertandingan melangkah jauh lebih panjang dari biasanya. FIFA menerapkan tambahan waktu (stoppage time) nan lebih ketat akibat adanya patokan jarak hidrasi (hydration breaks) baru di turnamen ini, sehingga otomatis memberikan waktu lebih bagi para penyerang untuk mencari kesempatan gol.
3. Kesenjangan Kualitas Akibat Ekspansi 48 Tim
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia diikuti oleh 48 tim. Penambahan kuota ini memperlebar lembah kualitas (talent gap) antarnegara, membuka ruang bagi tim-tim raksasa untuk memanen gol di fase grup.
4. Perlindungan Ketat terhadap Penyerang
Pelatih Kolombia, Nestor Lorenzo, menilai bahwa striker modern saat ini jauh lebih diuntungkan oleh ketegasan perangkat pertandingan. "Penyerang tidak mendapatkan perlindungan ini 20 alias 30 tahun lalu, ketika mereka sering dihantam dan permainan kasar dianggap biasa," ujarnya.
Liga Inggris Dominasi Papan Skor
Lebih dari separuh gol di turnamen ini lahir dari para pemain nan merumput di tiga liga top Eropa: Inggris (Premier League), Jerman (Bundesliga), dan Spanyol (La Liga).
Para pemain Premier League sejauh ini telah menjaringkan 30 gol, lampau Bundesliga 16 gol, La Liga 11 gol, MLS menyumbang delapan gol, Ligue 1 Prancis tujuh gol, dan Serie A Italia lima gol.
Sementara di level klub, Real Madrid, Liverpool, dan Inter Miami menjadi penyumbang gol terbanyak. Inter Miami melesat ke daftar atas murni berkah sihir satu orang: Lionel Messi, nan sudah mengemas 5 gol hanya dalam dua laga.
Piala Dunia 2026 diprediksi bakal dengan mudah memecahkan rekor 172 gol nan tercipta di Qatar 2022.
Meski jumlah total laga tahun ini jauh lebih banyak (104 pertandingan berbanding 64 pertandingan di jenis lalu), rasio tajam saat ini menunjukkan bahwa jika dikonversikan ke format lama (64 laga), Piala Dunia kali ini berada di jalur untuk menghasilkan 194 gol, sebuah nomor nan melampaui rekor empat tahun lalu.
(wiw/rhr)
Add
as a preferred source on Google

10 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·