Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat wilayah Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, berbareng organisasi pemberdayaan Rappo, sukses mengolah sampah plastik menjadi furnitur.
Rappo merupakan bagian dari Program Komunitas Berdaya Nusantara. General Affair Rappo Riswanda Fatriansah menjelaskan mulanya Rappo melakukan daur ulang sampah kantong plastik pada 2020 hingga 2024. Adapun daur ulang sampah plastik jenis High-density polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET) dilakukan Rappo mulai 2024.
"Salah satu contohnya itu botol-botol minuman, tutup botol, botol oli, terus juga ada tupperware ibu-ibu, kotak-kotak makanan itu, terus plastik-plastik nan berbahan keras. Itu nan biasanya masuk di kategori HDPE, seperti itu," ungkap dia di letak workshop Rappo Indonesia, Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/18/2026).
Daur ulang sampah plastik jenis HDPE dan PET dilakukan melalui support dari PT PLN. Pada 2024, Rappo menjadi organisasi bimbingan PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat (Sulselrabar), sejak 2024.
Dalam perihal ini PLN IUD Sulselrabar memberikan support berupa pembinaan dan pengadaan mesin pencacah.
"Dukungan nan diberikan itu pertama ada pendampingan untuk operator. Terus juga kita ada penyerahan mesin. Untuk penyerahan mesinnya itu kita ada mesin cacah terus juga mesin oven. Sama mesin injeksi. Ada total tiga," jelas Riswanda.
Dalam pengumpulan bahan baku sampah tersebut Rappo menjalin kerja sama dengan bank sampah dan masyarakat. Rappo juga membuka bantuan sampah plastik dari instansi pusat di Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
"Biasanya kita mengedukasi ke bank sampah-bank sampah mitranya kita alias ke orang-orang alias masyarakat di Makassar itu jika misalnya bawa sampahnya itu jenisnya ini (HDPE) nan kita terima. Jadi biasanya kita ada edukasinya," terang dia.
Sampah-sampah nan sudah terkumpul tersebut lampau diangkut untuk diolah. Setelah dikumpulkan, sampah plastik disortir dan dibersihkan. Sampah plastik kemudian melalui proses pencacahan menjadi butiran kecil.
Selanjutnya butiran mini dari sampah plastik tersebut dipanaskan dan dibentuk papan untuk kemudian dapat diolah daur oleh pengrajin.
Dalam satu bulan, Rappo mengolah sebanyak 50 hingga 100 kilo sampah plastik baik HDPE maupun PET untuk dijadikan beragam jenis produk daur ulang. Sementara itu sejak 2020 hingga 2026, Rappo sukses mengolah hingga 10,5 ton sampah plastik.
Selain furnitur, produk nan dihasilkan Rappo Indonesia ialah plakat hingga aksesori seperti gantungan kunci. Target penjualan produk tersebut ke industri hotel, restoran, cafe (horeca) dan properti.
Lebih lanjut, Riswanda menjelaskan Program Komunitas Berdaya Nusantara menyerap sebanyak 20 hingga 25 tenaga kerja dengan penghasilan nan diterima sebesar hingga Rp 2 juta per bulan. Bahkan tenaga kerja tersebut dari kaum wanita nan merupakan ibu rumah tangga.
"Jadi selain kita aware juga dengan lingkungan, kita sebenarnya aware juga dengan kesetaraan masyarakat. Apalagi kita menjalin kerja sama kemitraan dengan masyarakat nan di Untia. Di mana rata-rata mereka itu sebenarnya punya penghasilan menengah sampai ke bawah. Bahkan ada nan tidak berpenghasilan," ungkap dia.
Dalam kesempatan nan sama, Officer Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar Khayrunnisa menjelaskan kerjasama dengan Rappo nan melangkah sejak Desember 2024 alias selama 1,5 tahun telah mengelola 10,5 ton sampah HDPE dan PET untuk menghasilkan furnitur, plakat, dan aksesori.
Kerja sama dilakukan lantaran daur ulang sampah menjadi produk berbobot merupakan perihal baru di Makassar. Selain itu upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals alias Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin 8.
"Kami merasa bangga dengan bahwa apa nan kita mulai ini rupanya berakibat besar terhadap masyarakat termasuk untuk kemandirian ekonomi," jelas dia.
Khayrunnisa berambisi ke depan kerja sama ini bakal meningkatkan kapabilitas pengolahan sampah plastik hingga dua kali lipat alias mencapai 20 ton. Target ini ditetapkan demi memperkuat ekonomi sirkular di wilayah Makassar.
"Kan awalnya satu pengelolaan sampahnya itu 300 kilo per bulan. Nanti kami berambisi bakalan sampai 2 kali lipatnya dan tenaga nan terserap. Berarti dari awalnya 10,5 bisa jadi 20 ton," tegas dia.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·