Printer 3D Kian Diminati, Bambu Lab Buka Creative Hub di Bandung

4 jam yang lalu 2
Printer 3D Kian Diminati, Bambu Lab Buka Creative Hub di Bandung Kehadiran Bambu Lab di Bandung membantu mengembangkan produktivitas anak.(MI/Naviandri)

DI tengah berkembangnya industri imajinatif dan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kehadiran teknologi printer 3D kian mendapat perhatian masyarakat.

Teknologi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, tetapi juga mulai digunakan sebagai sarana edukasi dan pengembangan produktivitas anak.

Melihat potensi tersebut, perusahaan teknologi asal Tiongkok, Bambu Lab, membuka creative hub di Urban Republic Dago, Kota Bandung. Ruang imajinatif itu ditujukan sebagai tempat masyarakat, pelajar, dan pelaku upaya mengenal sekaligus mencoba teknologi printer 3D.

Country Head PT Tek Lab Indonesia, pemasok produk Bambu Lab, Jeffry Rianto Jumat (21/8) menyatakan Bandung dipilih lantaran mempunyai ekosistem imajinatif nan kuat serta antusiasme masyarakat nan tinggi terhadap perkembangan teknologi dan kreativitas. 

Kehadiran creative hub tersebut diharapkan dapat memperkenalkan beragam pemanfaatan printer 3D kepada masyarakat, sehingga teknologi tersebut tidak hanya dipandang sebagai perangkat untuk kalangan ahli alias industri tertentu.

"Kami minta masyarakat tidak hanya membeli tapi juga memandang langsung, mencoba, berdiskusi, dan mendapatkan inspirasi untuk menciptakan sesuatu menggunakan printer 3D," tuturnya.

Jeffry menilai perkembangan teknologi printer 3D saat ini membikin perangkat tersebut semakin mudah digunakan oleh beragam kalangan. Kreativitas pengguna pun tidak terbatas pada bagian tertentu.

KEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK
Selain untuk kebutuhan industri kreatif, printer 3D mulai dilirik orang tua sebagai sarana untuk mengembangkan produktivitas anak sekaligus mengalihkan perhatian mereka dari penggunaan gawai.

"Penggunaan printer 3D dapat memberikan aktivitas nan lebih produktif bagi anak. Di sisi lain, teknologi tersebut juga membuka kesempatan bagi pemula untuk mengembangkan upaya berbasis produk kreatif. Handphone itu kan kurang produktif (bagi anak-anak)," ungkapnya.

Jeffry menyebut, sejumlah pengguna pemula memanfaatkan printer 3D untuk membikin beragam produk, seperti hiasan dan mainan, nan kemudian dapat dikembangkan menjadi produk UMKM.

Di creative hub tersebut, masyarakat juga dapat memandang secara langsung proses pencetakan beragam prototipe menggunakan printer 3D. Beberapa produk nan telah dibuat antara lain miniatur kapal, mesin pesawat, hingga mainan bertema basket. Bambu Lab juga menyiapkan bahan baku berupa filamen berbahan dasar biji jagung nan diklaim lebih ramah lingkungan.

Untuk memudahkan pengguna, printer 3D Bambu Lab dapat dioperasikan melalui aplikasi. Pengguna dapat memilih kreasi nan telah tersedia alias membikin kreasi sendiri sesuai kebutuhan sebelum mencetaknya" jelasnya.

SIAPKAN PELATIHAN
Jeffry menambahkan, tidak hanya menyediakan ruang untuk mencoba produk, Bambu Lab berencana menggelar beragam workshop dan pelatihan. Perusahaan  juga menyiapkan kurikulum pembelajaran nan dapat digunakan bagi pelajar, khususnya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). 

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkenalkan teknologi manufaktur digital sejak awal sekaligus mendorong lahirnya produktivitas dan keahlian baru nan relevan dengan kebutuhan industri. Untuk masyarakat nan tertarik menggunakan teknologi tersebut, produk printer 3D Bambu Lab saat ini tersedia dalam beberapa jenis dengan nilai sekitar Rp3 juta hingga Rp13 juta.

"Kehadiran creative hub di Bandung menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi printer 3D di luar kalangan profesional. Dengan akses untuk mencoba, belajar, dan berbincang secara langsung. Masyarakat diharapkan dapat memandang printer 3D bukan sekadar perangkat pencetak, melainkan perangkat untuk menghasilkan beragam produk imajinatif dan membuka kesempatan upaya baru," sambungnya. (E-2)

Selengkapnya