Psikolog: Mitos dan stigma kendala tangani masalah kesehatan mental

  • Whatsapp

kita masih berhadapan dengan banyak mitos dan stigma

Jakarta (ANTARA) – Psikolog Klinis Widya S. Sari, M.Psi. mengatakan permasalahan kesehatan mental di Indonesia masih terbentur dengan berbagai mitos dan stigma yang berkembang di masyarakat meskipun ketersediaan akses pengetahuan telah meningkat.

“Kalau dilihat sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan 10 atau 20 tahun yang lalu, kesadaran semakin meningkat dan pengetahuan semakin luas. Tapi kita masih berhadapan dengan banyak mitos dan stigma,” kata Widya dalam diskusi “World Mental Health Day: 24 Hours” yang diadakan oleh Mental Health Matters di platform Clubhouse pada Minggu.

Ia mengatakan masyarakat masih menganggap orang dengan gangguan jiwa atau gangguan mental sebagai “beban” dan tidak diterima oleh lingkungan masyarakat karena dianggap aneh. Selain itu, masyarakat masih ada yang mengaitkan gangguan kesehatan mental dengan keberadaan roh jahat atau sesuatu yang berbau mistis yang tidak akan bisa sembuh.

“Karena anggapan-anggapan seperti itu, banyak masyarakat yang memilih untuk menghindar dan menciptakan jarak sosial dengan pasien yang memiliki gangguan mental. Ini yang mempersulit dalam sesi perawatan dan pemulihan,” ujar psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati itu.

Baca juga: Hari Kesehatan Mental jadi momentum tingkatkan akses kesehatan jiwa

Baca juga: Cara sederhana jaga kesehatan mental saat pandemi

Widya menyebutkan menurut data yang dirilis pada 2018, sekitar 450 ribu orang di Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan 2013 dan kini sudah jauh meningkat, terutama pada tahun ini yang dilanda situasi pandemi.

Pendiri Klub “Mental Health Indonesia” di Clubhouse, Detty Wulandari, membagikan pengalamannya selama menjadi penyintas bipolar disorder. Ia pertama kali didiagnosa pada 25 tahun yang lalu pada saat masih tinggal di Australia dan merasakan kesulitan menghadapi stigma ketika dirinya tinggal di Jakarta.

“Salah satu contoh stigma itu adalah pada saat saya dibilang ‘ah kamu ini ternyata kurang bersyukur’. Stigma bahwa orang punya masalah dengan kesehatan mentalnya itu pasti berhubungan dengan keimanan seseorang itu termasuk stigma yang agak-agak gimana gitu,” ujarnya.

Menurut Detty, setidaknya terdapat dua tantangan terbesar dalam isu kesehatan mental, yakni edukasi dan empati. Ia mengatakan diperlukan pemahaman yang lebih holistik dan menyeluruh tentang kesehatan mental bagi masyarakat.

“Pemahaman banyak orang kalau membicarakan kesehatan mental selalu asosiasinya itu ke gangguan-gangguan yang bisa dibilang serius. Padahal kesehatan mental itu termasuk misalnya pada saat kita stres, apakah kita mampu menghadapi stres atau tidak,” katanya.

Ia mengatakan ketika seseorang merasakan stres yang berkepanjangan, merasa tidak produktif dan hasil pekerjaan menurun, serta segala hal yang keluar dari keseimbangan tersebut terasa mengganggu, hal tersebut merupakan sinyal atas kondisi mental yang sedang tidak baik.

Selain persoalan edukasi, Detty juga menyoroti persoalan empati sebelum menggali lebih jauh terhadap pengetahuan kesehatan mental. Menurutnya, ketika seseorang tidak memiliki rasa empati hal tersebut akan menyulitkan untuk memahami mengenai kesehatan mental.

“Tapi mudah-mudahan, kalau misalnya orang-orang bisa lebih paham dan mengerti, stigma itu akan setidaknya berkurang,” pungkasnya.

Baca juga: Marshanda ingatkan bahaya “self diagnosis” kesehatan jiwa

Baca juga: Wakil Ketua MPR sebut pemulihan dampak pandemi harus konsisten

Baca juga: Pentingnya menghargai proses dalam pengembangan jiwa-raga diri

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pos terkait