Ilustrasi(Dok PTPN)
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi nasional melalui pengembangan komoditas ubi kayu secara terintegrasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BUMN menciptakan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan hilirisasi, PTPN Group membangun ekosistem ubi kayu dari hulu hingga hilir untuk mendukung ketahanan pangan dan daya nasional. Pengembangan tersebut sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi petani dan pelaku upaya lokal, sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden dalam memperkuat swasembada pangan dan daya serta mendorong pertumbuhan ekonomi nan inklusif.
Sebagai langkah konkret, PTPN III melalui anak usahanya, PTPN I (Persero), menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama upaya berbareng 11 mitra strategis nan terdiri atas perusahaan swasta, BUMD, BUMDes, koperasi, dan yayasan. Penandatanganan berjalan di Kantor Regional PTPN I Regional 7, Bandar Lampung, Rabu (12/8).
MoU tersebut ditandatangani Plt. Region Head PTPN I Regional 7 Iyan Heryanto dan disaksikan Direktur Utama PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna serta Direktur Pemasaran & Aset Manajemen PTPN I (Persero) Arif Budiman. Kerja sama dengan 11 mitra tersebut menjadi tahap awal dari sasaran pengembangan lahan ubi kayu seluas 10.000 hektare di Provinsi Lampung.
Pada tahap pertama, para mitra telah merencanakan penanaman di lahan seluas 7.313 hektare nan bakal dioptimalkan melalui program budidaya terpadu. Sementara itu, lahan sisanya bakal dikembangkan secara berjenjang seiring dengan ekspansi kemitraan dan kesiapan lahan.
Direktur Utama PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna mengatakan kerjasama multipihak tersebut merupakan bentuk komitmen PTPN Group dalam membangun ekosistem upaya nan berkeadilan. Menurutnya, peran BUMN tidak hanya berorientasi pada pencapaian sasaran pengembangan lahan, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi, dan penguatan ekonomi desa.
"Kami membangun rantai nilai nan utuh, mulai dari hulu hingga hilir. Di sisi on farm, kami konsentrasi pada optimasi lahan, teknologi budidaya, dan pengembangan varietas unggul," ujar Denaldy.
Di sisi hilir, pengembangan ubi kayu diarahkan pada industri pengolahan, termasuk pemanfaatannya sebagai bahan baku bioetanol. Dengan demikian, komoditas tersebut diharapkan dapat memberikan faedah dobel bagi ketahanan pangan dan daya nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Denaldy menegaskan keberhasilan program tersebut sangat berjuntai pada kerjasama dengan beragam pemangku kepentingan. PTPN III memastikan keterlibatan Pemerintah Provinsi Lampung, BUM-Des, koperasi, BUMD, dan masyarakat dalam membangun rantai nilai nan inklusif.
"Kami mengapresiasi support Pemerintah Provinsi Lampung. Sinergi ini menjadi langkah nyata mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan daya nasional," katanya.
Direktur Pemasaran & Aset Manajemen PTPN I (Persero) Arif Budiman mengatakan pihaknya siap mengimplementasikan program tersebut secara bertahap, mulai dari penyiapan lahan, penguatan kemitraan, pengembangan budi daya, hingga integrasi dengan industri hilir.
"Kami optimistis kerjasama ini memberikan akibat ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku upaya lokal. Kami berkomitmen menjadikan program ini sebagai model agribisnis modern nan berkelanjutan," kata Arif.
Ke depan, pengembangan ekosistem ubi kayu di Lampung bakal diperkuat melalui riset, penemuan teknologi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, serta ekspansi industri hilir. Langkah tersebut diharapkan bisa menghasilkan produk berbobot tambah sekaligus memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pertumbuhan ekonomi daerah. (E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·