Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka bunyi ihwal langkah Amerika Serikat (AS) nan menggunakan instrumen anggaran untuk meredam gejolak di pasar surat utangnya.
Purbaya mengatakan langkah AS tersebut justru menegaskan bahwa kebijakan nan selama ini sudah lebih dulu diterapkan Indonesia dengan standar internasional, dan apalagi menandakan strategi nan dijalankan Indonesia dengan skema buyback surat utang nan dilepas penanammodal asing menjadi contoh baik.
"Itu menunjukkan apa nan kita lakukan ya memang standar internasional, mungkin Amerika niru kita juga tuh, sukses dia ikut. Tapi jelas concern-nya sama, dia bakal melakukan itu untuk menambah likuiditas di sistem perekonomian," kata Purbaya, dikutip Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, prinsip dasarnya sama di mana pun berada. Ketika pemerintah suatu negara memandang likuiditas di pasar finansial terganggu, maka otoritas bakal menempuh beragam instrumen nan sah untuk menjaga perekonomian tetap stabil.
"Jadi jika pemerintah memandang di mana-mana ya likuiditasnya terganggu, dia bakal melakukan segala langkah nan halal, nan bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi nan kita lakukan sama dengan nan Amerika lakukan," tegas Purbaya.
Kebijakan buyback surat utang ini sebelumnya dilakukan Purbaya pada Mei 2026, dengan membeli kembali surat berbobot negara (SBN) nan dilepas penanammodal asing senilai Rp 600 miliar hanya dalam kurun waktu 5 hari.
Pembelian kembali namalain buyback surat utang nan dilego asing itu dilakukan melalui skema Bond Stabilization nan dananya berasal dari APBN sepenuhnya. Pagu nan disiapkan Purbaya senilai Rp 2 triliun per hari.
Sementara itu, Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8/2026) mengumumkan bakal menggandakan ukuran operasi pembelian kembali (buyback) surat utang bertenor panjang guna menopang likuiditas pasar.
Berdasarkan laporan Reuters, ukuran maksimal operasi buyback untuk obligasi tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun dinaikkan dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per operasi, bertindak efektif mulai 9 September hingga 4 November 2026.
Kebijakan ini diambil setelah pasar obligasi AS diguncang tindakan jual besar-besaran nan membikin imbal hasil (yield) surat utang tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007. Lonjakan yield ini dipicu kekhawatiran penanammodal dunia terhadap kondisi fiskal AS, di tengah eskalasi ketegangan geopolitik.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Keuangan AS menyebut pembesaran skala buyback ini mencerminkan kemauan otoritas untuk memberikan support likuiditas nan lebih besar di sektor bertenor panjang, seiring tingginya volume penawaran berbobot nan rutin diterima dalam operasi tersebut.
Langkah AS ini muncul di tengah total utang publik AS nan telah menembus US$32 triliun, dengan sekitar US$5,5 triliun di antaranya merupakan obligasi bertenor 20 dan 30 tahun per akhir Juli 2026.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

15 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·