Raksasa Amerika di Ambang Bangkrut, Jutaan Warga Nunggak Bayar Utang

2 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat tunggakan utang di kalangan family Argentina melonjak tajam hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Angka kemacetan angsuran ini menembus level tertingginya selama dua dasawarsa di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei, seorang pejuang radikal pasar bebas nan langkah penghematan drakoninya sukses mengekang inflasi namun membiarkan rakyatnya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Mengutip Hurriyet News, Selasa (18/08/2026), Bank Sentral Argentina mencatat bahwa sekitar 5,8 juta orang saat ini telah menunggak pembayaran utang mereka selama lebih dari 90 hari.

Stagnasi pendapatan nan berpadu dengan krisis biaya hidup nan kian parah akibat pemotongan subsidi transportasi, gas, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya oleh Milei telah mendorong finansial rumah tangga ke tepi jurang.

Seorang ibu berumur 32 tahun berjulukan Andrea nan menolak menyebut nama keluarganya lantaran merasa malu dengan keadaannya, mencoba memperkuat dengan memulai upaya katering setelah toko perangkat tulis tempat dia bekerja terpaksa ditutup. Namun, keputusan untuk membeli oven baru justru menjerumuskannya ke dalam masalah pelik.

"Saya tertinggal dalam pembayaran, dan dalam beberapa bulan utang itu menjadi terlalu besar untuk dilunasi nan membengkak dari satu juta peso (sekitar Rp 11,92 juta) menjadi lima juta (sekitar Rp 59,8 juta)," ungkapnya.

Berdasarkan info Bank Sentral, dari total 46 juta populasi Argentina, sekitar 21 juta orang saat ini tercatat mempunyai beragam corak pinjaman. Kendati demikian, Milei dengan keras menolak segala corak tanggung jawab atas situasi mengerikan nan menjerat warganya tersebut dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

"Apakah mereka ditodong pistol di kepala untuk memaksa mereka mengambil pinjaman?" tegasnya.

Di sisi lain, Presiden Banco Provincia Buenos Aires, Juan Cuattromo, menolak keras dugaan bahwa rakyat Argentina kudu disalahkan secara sepihak atas kejatuhan finansial mereka.

"Ini bukanlah akibat dari keputusan individu, melainkan hasil dari konteks makroekonomi nan telah memperburuk pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi," paparnya.

Menurut laporan dari Pusat Ekonomi Politik Argentina, pinjaman pribadi dan kartu angsuran sekarang menyumbang lebih dari 70% porsi total pinjaman nan macet. Hal ini sangat dirasakan oleh Claudia Debaste, seorang ibu tunggal berumur 40 tahun nan bekerja di instansi dengan bayaran pas-pasan.

"Saya tidur dan bangun sembari terus memikirkan gimana saya bakal membayarnya," ucapnya.

Claudia terjebak tagihan besar nan menumpuk untuk biaya utilitas, transportasi, bahan makanan, dan obat-obatan. Ia mulai menunggak pembayarannya sejak empat bulan lampau dan sekarang sedang mati-matian berupaya untuk menjadwalkan ulang sisa utangnya.

Milei memang secara luas telah dipuji atas keberhasilannya dalam memerangi inflasi tinggi nan selama ini menjadi momok kekal Argentina. Namun, laju kenaikan nilai nan lebih lambat nyatanya menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat nan hidup berjuntai pada kredit, lantaran lambatnya inflasi berfaedah nilai pinjaman mereka bakal tetap utuh seiring berjalannya waktu.

Jangka waktu pembayaran angsuran nan lebih panjang nan berpadu dengan tagihan nan lebih mahal dan bayaran nan terus stagnan telah sukses menciptakan angin besar sempurna nan menghancurkan ekonomi banyak keluarga.

Krisis utang berdarah ini juga bertepatan dengan maraknya akses angsuran mudah melalui platform dompet digital seperti Mercado Pago, bagian jasa pembayaran dari raksasa e-commerce Mercado Libre. Perusahaan-perusahaan tekfin ini apalagi telah memikat para remaja sejak usia 13 tahun dengan mengiming-imingi bahwa mereka tidak perlu menunggu dewasa untuk mendapatkan akses duit tunai instan.

Bunga selangit nan dipatok pada akhirnya dengan sigap menjerumuskan para pengguna muda ini ke dalam spiral utang nan tak berujung. Pemimpin Partai Pekerja, Gabriel Solano, apalagi telah mengusulkan pengaduan pidana pada pekan lampau terhadap CEO Mercado Libre, Marcos Galperin, atas tuduhan praktik riba.

"Total biaya finansial efektif dari pinjaman Mercado Pago mencapai 1.375 persen," tegasnya.

Tawaran angsuran nan begitu menggiurkan dengan minimnya persyaratan ini juga telah menyedot pekerja di sektor ekonomi lepas (gig economy), di mana platform tempat mereka bekerja sekarang terkadang turut bertindak sebagai rentenir.

Suku kembang nan dibebankan kepada pekerja lepas ini dimulai dari 260 persen per tahun, alias empat kali lipat lebih besar dari kembang bank konvensional, di mana pembayarannya bakal langsung dipotong dari pendapatan hasil keringat mereka.

Pekerja nan kandas bayar tagihannya bakal menghadapi akibat fatal berupa pemblokiran akun di platform tersebut, nan secara efektif bakal langsung memutus mata pencaharian mereka secara permanen. Hal ini memicu kemarahan Leandro Hidalgo, seorang pengemudi jasa pesan antar sekaligus perwakilan serikat pekerja nan menuduh platform sedang melakukan perbudakan finansial.

"Itu rasanya seperti dipecat," pungkasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya