Rancangan Awal APBN 2027: Ekonomi Tumbuh 6,5%, Butuh Dana Rp8.743,45 T

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Panitia Kerja (Panja) penyusunan dugaan dasar ekonomi makro untuk APBN 2027 nan terdiri dari DPR dan pemerintah di Badan Anggaran (Banggar) DPR menyepakati sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun depan di kisaran 5,8%-6,5%.

Laju pertumbuhan itu didukung oleh parameter ekonomi makro nan stabil, seperti inflasi di kisaran 1,5%-3,5%, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp 16.800-17.500, serta tingkat suku kembang SBN 10 tahun 6,5-7,3%.

Sementara itu, untuk nilai minyak mentah Indonesia (ICP) disepakati panja bakal berada pada kisaran US$70-95/barel, lifting minyak bumi 605-620 ribu barel per hari, serta lifting gas bumi 951-990 ribu barel setara minyak per hari.

Dalam arsip kesepakatan panja, disebutkan penyusunan unik untk Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2027 mempertimbangkan situasi geopolitik, perkembangan ekonomi dunia dan domestik serta beragam kesempatan dan akibat nan berpotensi mempengaruhi keahlian perekonomian nasional.

Termasuk mempertimbangkan efektivitas bauran kebijakan fiskal, moneter, dan sektor finansial dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.

"Panja memandang krusial proyeksi pertumbuhan ekonomi nan lebih optimistis nan didukung oleh transformasi struktural ekonomi sebagai fondasi mencapai pertumbuhan ekonomi nan lebih tinggi sebagaimana dicita-citakan oleh Presiden Prabowo Subianto," dikutip dari arsip laporan panja, Selasa (30/6/2026).

Untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi hingga 6,5% pada 2027, panja menyepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga lebih tinggi pada kisaran 5,3-5,6%.

"Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah perlu menyempurnakan kebijakan support sosial alias subsidi agar lebih tepat sasaran, mendorong ekspansi lapangan kerja, dan pengendalian inflasi, terutama pada golongan makanan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan," sebagaimana tertera dalam arsip laporan panja.

Memperbaiki suasana upaya juga menjadi strategi kunci, dengan memperbaiki ease of doing business, menurunkan biaya logistik, memberikan akomodasi perpajakan dan kepabeanan, serta memberikan kepastian hukum.

Sejumlah langkah ini diharapkan mendorong minat investasi, sehingga pertumbuhan investasi pada kisaran 6,5-7,5%. Adapun total nilai kebutuhan biaya investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih sigap pada tahun depan ditetapkan di kisaran Rp8.666,60 triliun sampai dengan Rp8.743,45 triliun.

Terdiri dari sasaran investasi pemerintah Rp417,85 triliun-Rp499,74 triliun, investasi BUMN Rp309,71 triliun-Rp350,17 triliun, investasi swasta Rp918,39 triliun-Rp1.128,96 triliun, publikasi saham Rp83,27 triliun-84,37 triliun, publikasi obligasi korporasi Rp185,67 triliun-Rp187,32 triliun, serta biaya internal masyarakat Rp6.751,71 triliun-Rp6.492,89 triliun.

"Peran investasi dari pemerintah relatif terbatas sehingga perlu memberdayakan investasi dari swasta secara signifikan. Di sisi lain, Danantara mempunyai peran besar dalam mendorong peningkatan investasi berbobot pada BUMN serta berkontribusi ke investasi swasta," menurut catatan Panja.

Panja juga sepakat memperkuat peran dan kontribusi BPI Danantara dalam perihal investasi nasional nan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi nan berkualitas. Optimalisasi peran Danantara ini didorong untuk mempercepat investasi pada sektor-sektor strategis nan dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok dunia dan menciptakan lapangan kerja nan lebih berkualitas.

Panja juga mendorong strategi membangkitkan kembali keahlian industri nasional nan bertumpu pada kapastitas dan kelebihan domestik. Dua strategi krusial nan perlu dijalankan adalah dengan memperluas dan memperdalam cakupan program hilirisasi, dan membangun prioritas industri nasional nan tidak dimiliki dan dikuasai negara lain, namun tetap menjadi bagian dari rantai pasok industri global.


Kebijakan industri mereka anggap perlu didukung dengan beragam fasilitas, seperti perpajakan, kepabeanan, perizinan, support akomodasi pendanaan, dan sumber daya manusia. Mereka mengharapkan strategi ini dapat meningkatkan neracа ekspor nasional pada kisaran 7,1-8,8%.

Adapun sasaran pertumbuhan sektor produksi utama sebagai berikut:

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan sasaran pertumbuhan sebesar 5,3 - 5,8 persen.

Pertambangan dan Penggalian dengan sasaran pertumbuhan sebesar 2,1 - 2,7 persen.

Industri Pengolahan dengan sasaran pertumbuhan sebesar 5,9 - 6,6 persen.

Pengadaan Listrik dan Gas, dan Air Bersih dengan sasaran pertumbuhan sebesar 3,4 - 3,7 persen.

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang dengan sasaran pertumbuhan sebesar 1,1 - 1,2 persen.

Konstruksi dengan sasaran pertumbuhan sebesar 5,3 - 6,4 persen.

Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan sasaran pertumbuhan sebesar 6,4 - 6,7 persen.

Transportasi dan Pergudangan dengan sasaran pertumbuhan sebesar 8,7 - 9,3 persen.

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan sasaran pertumbuhan sebesar 9,3 - 9,7 persen.

Informasi dan Komunikasi dengan sasaran pertumbuhan sebesar 7,9 - 8,8 persen.

Jasa Keuangan dan Asuransi dengan sasaran pertumbuhan sebesar 4,6 - 5,1 persen.

Real Estate dengan sasaran pertumbuhan sebesar 3,9 - 4,4 persen.

Jasa Perusahaan dengan sasaran pertumbuhan sebesar 4,6 - 5,1 persen.

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan sasaran pertumbuhan sebesar 3,3 - 3,9 persen.

Jasa Pendidikan dengan sasaran pertumbuhan sebesar 6,2 - 7,1 persen.

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan sasaran pertumbuhan sebesar 6,7 - 7,7 persen.

Jasa Lainnya dengan sasaran pertumbuhan sebesar 10,7 - 12,3 persen.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya