Donald Trump.(Al Jazeera)
TAKTIK penyamaran nan rumit terungkap dalam perjalanan kepulangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Ankara, Turki, bulan lalu. Trump dilaporkan kudu dipindahkan secara rahasia dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat lain menggunakan truk katering airport guna menghindari ancaman serangan rudal dari Iran. Tipuan rumit itu terjadi dalam waktu sehari setelah intelijen AS dan Turki mendeteksi rencana Iran untuk menembakkan rudal ke jet kepresidenan.
Berdasarkan laporan nan dihimpun dari pejabat penegak norma dan sumber intelijen, keputusan darurat ini diambil saat konvensi tahunan NATO sedang berjalan di Ankara pada Juli 2026. Langkah ini dipicu oleh info andal nan didapat oleh National Security Agency (NSA), CIA, dan dinas intelijen Turki (MIT) mengenai rencana Iran untuk menembakkan rudal darat-ke-udara ke arah pesawat kepresidenan.
Kronologi Penyamaran di Bandara Esenboga
Trump awalnya tiba di ibu kota Turki menggunakan Boeing 747 baru hasil retrofit nan disumbangkan oleh pemerintah Qatar. Namun, jet lama berwarna putih-biru nan melayani kepresidenan sejak era 1990-an juga disiagakan di darat sebagai pesawat pendukung.
Sesaat sebelum keberangkatan pada 8 Juli 2026, Trump sempat mengunggah pesan di Truth Social nan menyatakan bahwa dia bakal menggunakan Air Force One model lama demi nostalgia. Rekaman pers menunjukkan Trump menaiki tangga pesawat lama tersebut. Namun, beberapa menit kemudian, truk katering airport terlihat menjauh dari pesawat itu dan menuju ke jet C-32A milik Angkatan Udara AS nan berbeda.
Di dalam truk katering tersebut, Trump didampingi oleh sejumlah ajudan setianya, termasuk Natalie Harp, Walt Nauta, dan Dan Scavino. Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga ikut berasosiasi dalam penerbangan rahasia menuju pangkalan militer di Inggris tersebut.
Penggunaan Pesawat Umpan
Sementara Trump terbang dengan jet C-32A, pesawat nan secara publik diidentifikasi sebagai Air Force One tetap terbang sesuai rute asli. Pesawat umpan tersebut membawa Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta sejumlah staf Gedung Putih dan rombongan pers.
Sumber menyebut bahwa Rubio dan Bessent menyadari bahwa presiden tidak ada di dalam pesawat tersebut. Namun para wartawan dan sebagian besar staf tidak mengetahuinya. Setelah tiba di Inggris, Trump baru beranjak kembali ke pesawat Boeing 747 sumbangan Qatar untuk melanjutkan perjalanan menuju Washington, D.C.
Respons Trump terhadap Ancaman Iran
Ancaman ini muncul di tengah ketegangan perang AS-Iran nan mendekati bulan keenam. Trump sendiri mengakui akibat besar nan dia hadapi, apalagi menyebut dirinya sebagai sasaran nomor satu dalam daftar orang nan dibunuh Iran.
Saat dikonfirmasi mengenai penggunaan strategi pengalihan ini, Trump menyatakan bahwa pihak militer dan Secret Service nan memintanya untuk berganti penerbangan. Terkait akibat nan dihadapi staf dan wartawan di pesawat umpan, Trump memberikan jawaban nan mengejutkan.
"Saya pikir, sebenarnya, pesawat nan saya tumpangi justru berada dalam akibat nan lebih besar," ujar Trump kepada awak media pada Selasa (11/8). Ia menegaskan tidak merasa terkejut alias khawatir, mengingat setiap presiden nan berpengaruh pasti menghadapi banyak ancaman.
Catatan Keamanan: Keputusan pengalihan pesawat ini dikoordinasikan langsung oleh Dewan Keamanan Nasional (NSC), Kantor Militer Gedung Putih, dan Secret Service dengan koordinasi ketat berbareng otoritas di Washington, D.C. (CBS/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·