Retorika Visual Diplomasi Prabowo dan Lukashenko

3 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

loading...

Rimba Mahardika, Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional. Foto/SIndoNews

Rimba Mahardika
Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional

KUNJUNGAN kenegaraan Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, ke Istana Merdeka Jakarta pada 2 Juli 2026 untuk menemui Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar agenda diplomatik rutin. Di tengah konstelasi geopolitik dunia nan kian terpolarisasi antara blok Barat dan kekuatan multipolar, peristiwa ini merupakan sebuah teks komunikasi politik nan sarat makna.

Pertemuan nan menghasilkan "Peta Jalan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026–2030" ini, jika dibedah melalui kacamata pengetahuan komunikasi, melampaui transaksi ekonomi alias transfer teknologi pertanian semata.

Peristiwa ini adalah sebuah panggung orkestrasi simbolik, manajemen impresi, dan pertarungan narasi di ranah komunikasi internasional.

Konstruksi Citra dan Manajemen Impresi Internasional

Dalam diskursus pengetahuan komunikasi, negara adalah tokoh nan secara konstan melakukan presentasi diri (self-presentation) di panggung global. Menggunakan Teori Dramaturgi Erving Goffman, kunjungan ini membagi realitas diplomasi menjadi dua ruang, ialah panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).

Panggung depan merupakan apa nan dikonsumsi oleh publik dan media massa pada 2 Juli 2026. Jabat tangan nan erat, senyuman di depan fotografer, serta pidato resmi mengenai "kemitraan strategis" adalah simbol-simbol nan dikonstruksi secara sadar.

Bagi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menerima Lukashenko - seorang tokoh nan sering kali dikritik oleh media Barat - merupakan sebuah pesan retoris nan tegas mengenai independensi politik luar negeri "bebas aktif".

Komunikasi visual nan ditampilkan di Istana Merdeka mengirimkan sinyal kuat kepada bumi bahwa Jakarta tidak dapat didikte oleh poros kekuasaan mana pun.

Selengkapnya