Rumah dan Tempat Kerja Runtuh, Bidan Endang Tetap Rawat Korban Gempa

48 menit yang lalu 1
Rumah dan Tempat Kerja Runtuh, Bidan Endang Tetap Rawat Korban Gempa Bidan Endang berbareng korban gempa.(Dok Pribadi)

GEMPA bumi magnitudo 7,7 nan mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, (15/8) menyisakan rumah-rumah nan runtuh, akomodasi umum nan rusak, serta penduduk nan kehilangan tempat tinggal.

Di Desa Bea Waek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, salah satu gedung nan hancur adalah Pustu Bea Waek.

Bangunan nan selama ini menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan itu sekarang tinggal puing. Tempat tersebut juga merupakan rumah bagi salah seorang perawat desa, Maria Avila Goredy, nan berkawan disapa Endang.

Saat gempa terjadi, Endang berada di dalam gedung tersebut. Reruntuhan batu bata dan kayu menimpa tubuhnya.

Bahunya lebam. Pinggangnya memar. Lututnya terluka. Namun setelah selamat dari reruntuhan, Endang kembali berada di tengah penduduk nan memerlukan pelayanan kesehatan.

“Pustu Bea Waek rusak total. Rumah nan rusak berat maupun ringan kurang lebih ada 81 rumah. Kalau pemerintah sampai dengan hari ini belum ada support sama sekali,” tutur Endang kepada media ini melalui sambungan telepon, Rabu (18/8).

Di tengah kondisi tersebut, penduduk membikin tenda darurat secara mandiri. Sedikitnya 17 tenda didirikan untuk penduduk nan tidak lagi merasa kondusif berada di dalam rumah.

Sebagian penduduk memilih tidur di halaman. Warga nan rumahnya mengalami kerusakan ringan membikin tenda di depan teras. Sementara pelayanan kesehatan dipindahkan ke sebuah posko sederhana.

Pustu Bea Waek hanya mempunyai tiga perawat dan satu perawat. Tidak ada master nan bekerja di akomodasi kesehatan tersebut.

Setelah gedung utama hancur, para tenaga kesehatan tetap menjalankan pelayanan dari bawah tenda nan dibuat menggunakan kayu dan terpal.

“Setiap hari kami stay di posko tenda darurat nan dibuatkan dari kayu dan berbumbungkan terpal. Pustu tersebut hanya tinggal puing-puing saja,” kata Endang.

Bagi Endang, keputusan untuk kembali bekerja datang di tengah kondisi tubuh nan belum sepenuhnya pulih.

Ia tetap mengalami trauma setelah tertimpa reruntuhan. Namun pelayanan kepada penduduk tetap berjalan.

“Tetapi lantaran besarnya cinta saya sebagai petugas medis, ialah bidan, untuk melayani masyarakat, saya tetap kerja total, walaupun saya tetap mengalami trauma berat akibat gempa tersebut dan ditindis batu bata gedung dan kayu,” ujarnya.

Di posko darurat itu, penduduk tetap datang untuk mendapatkan pertolongan. Ibu, lansia, dan anak-anak menjadi bagian dari masyarakat nan kudu tetap mendapatkan pelayanan. Di sisi lain, kebutuhan penduduk juga belum sepenuhnya terpenuhi.

Endang mengatakan hingga Rabu (18/8), support pangan dari dinas mengenai belum diterima penduduk terdampak di Desa Bea Waek.

“Kalau pemerintah kabupaten tidak bisa, kami berambisi pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, tolong bantu kami,” pintanya.

Laptop, komputer, printer, arsip penting, ijazah, dompet, dan KTP berada di dalam gedung nan runtuh.

“Saya punya barang-barang berbobot sampai sekarang tetap tertimbun bangunan. Saya punya laptop, komputer, printer, semua data-data, ijazah, dompet, KTP. Pokoknya nyawa di situ,” ucapnya.

Bagi Endang, Pustu Bea Waek mempunyai makna lebih dari sekadar tempat bekerja. Bangunan itu telah menjadi rumah sekaligus tempat dia menjalankan pengabdian sebagai perawat desa.

“Pustu bukan hanya tempat kami kerja, tetapi itu rumah kami. Tempat kami curhat. Tapi sekarang semuanya tinggal cerita. Sebelum kejadian kami sempat bagi PMT,” tuturnya.

Di tengah puing-puing itu, satu perihal tetap berjalan: pelayanan kepada masyarakat. Obat-obatan telah diturunkan dari Puskesmas Mano. Namun kebutuhan penduduk terdampak tetap terus bertambah seiring kondisi pascagempa.

Berdasarkan pendataan dan verifikasi aktual hingga Selasa, (18/8) pukul 18.55 Wita, korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebanyak 449 orang. Sebanyak 25 orang meninggal dunia, 242 orang mengalami luka ringan, dan 182 orang mengalami luka berat.

Sementara info keseluruhan korban gempa nan dihimpun hingga waktu tersebut mencapai 608 orang, dengan 70 orang meninggal dunia, 230 orang mengalami luka berat, dan 308 orang mengalami luka ringan.

Angka-angka tersebut tersebar di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores.

Di kembali info itu terdapat penduduk nan kehilangan rumah, personil keluarga, kekayaan benda, dan tempat untuk kembali.

Di Bea Waek, kehilangan juga dirasakan para tenaga kesehatan.

Endang menjadi salah satu tenaga kesehatan nan kudu menjalankan tugas setelah dirinya sendiri menjadi korban gempa.

Tubuhnya tetap menyimpan luka. Trauma tetap dirasakan. Tempat tinggal dan tempat kerjanya telah berubah menjadi puing.

Namun setiap hari dia kembali ke posko darurat. Di bawah terpal, pelayanan kesehatan tetap dibuka.

“Bukan bangunannya, Tuhan, tapi cerita di dalamnya. Dan terima kasih untuk berkah Tuhan saya selamat dari tragedi gempa tersebut,” katanya.

Pustu Bea Waek memang telah runtuh. Tetapi pelayanan kesehatan belum berhenti. Endang berbareng tiga perawat dan seorang perawat tetap berada di tengah warga.(MM/E-4)

Selengkapnya