Saat Selatan Jawa Diguncang Gempa Dahsyat, Candi Hancur-Ribuan Tewas

1 jam yang lalu 1
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lampau lewat relevansinya di masa kini. Khusus mengenai bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia — Indonesia tetap bersungkawa pada musibah gempa nan menimpa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Tercatat, Indonesia merupakan salah satu negara nan sering terjadi gempa besar. Bahkan pada 150 tahun lalu, gempa besar pernah terjadi juga dan menimbulkan banyak korban.

Berdasarkan laporan de Locomotief (20 Juni 1867) menyebut gempa nan berpusat di Yogyakarta terjadi pada 10 Juni 1867. Kala itu, guncangan gempa terasa hingga kota-kota lain seperti Semarang, Surakarta, Madiun hingga Banyuwangi.

Bahkan Werner Kraus dalam kitab Rade Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) mengatakan ribuan orang meninggal bumi lantaran gempa tersebut. Korban jiwa juga bukan hanya orang original Indonesia, melainkan beberapa penduduk Belanda, Arab dan China.

Selain itu, banyak rumah dan gedung dilaporkan hancur. Beberapa gedung unik Yogyakarta juga hancur, ialah Candi Sewu, Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih.

Gempa besar itu membikin banyak penduduk merasa ketakutan. Mereka takut kembali ke rumah lantaran tetap terasa banyak gempa susulan terjadi.

Laporan dari Java Bode (27 Juni 1867) menyebut banyak dari mereka menggelar zikir dan angan berbareng agar diberikan keselamatan oleh Tuhan.

Laporan BMKG menyebut gempa 1867 itu mempunyai kekuatan M7,8 dan terjadi sekitar pukul 04.20 waktu setempat. Penyebabnya lantaran adanya deformasi support dalam lempeng Indo-Australia nan berpusat di Samudera Hindia.

Ratusan tahun setelah kejadian itu, tepatnya 26 Mei 2006, Yogyakarta kembali diguncang gempa. Bencana 20 tahun lampau mempunyai kekuatan M6,3 dan menewaskan 5.000 orang.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya