Seorang Bocah, Sebotol Minuman, Sepotong Cinta

2 jam yang lalu 4
Seorang Bocah, Sebotol Minuman, Sepotong Cinta Max Regus(Ilustrasi: MI/Seno)

Cerita Kecil dari Gempa Bumi Flores

BEBERAPA waktu setelah gempa bumi mengguncang Flores (15/8), saya mengunjungi organisasi dan family nan terdampak di beberapa lokasi. Bersama relawan Posko Bencana Keuskupan Labuan Bajo, saya membawa sembako dan kebutuhan sederhana lainnya. Tidak banyak. Tidak mungkin pula mencukupi seluruh kebutuhan. Paket sembako itu juga merupakan pemberian dari beragam pihak. 

Saya, sebagaimana nan dilakukan banyak kerabat lainnya, hanya mau hadir. Mengetuk pintu-pintu kehidupan nan sedang terluka. Membagikan apa nan dapat diberikan. Di tempat-tempat itu, saya menyaksikan banyak perihal nan susah dilukiskan dengan kata-kata. Ada rumah nan dindingnya retak. Ada gedung nan tinggal puing. Ada wajah-wajah nan tampak capek setelah berhari-hari hidup dalam kecemasan. Ada family nan tetap memilih tidur di luar rumah lantaran takut gempa susulan. 

Pesan dari seorang bocah

Suatu siang, ketika kami hendak pulang, saya memandang tiga orang bocah, kakak-beradik. Kebetulan tetap tersisa beberapa botol minuman nan kami bawa. Saya mendekati mereka. Saya menawarkan masing-masing sebotol. Mereka menerimanya dengan kegembiraan sederhana. Wajah-wajah mini itu mendadak cerah, apalagi terasa lebih terang daripada terik mentari siang itu. Sebotol minuman nan bagi banyak orang mungkin tidak berfaedah apa-apa, di tangan mereka terasa seperti bingkisan besar.

Saya nyaris beranjak ketika salah seorang nan tampaknya paling tua memanggil: “Tolong, satu botol lagi untuk kakak saya.” Saya terdiam. Sebuah kalimat pendek. Kata-kata nan serentak mengunci nurani saya dalam banyak hal. Dalam keadaan sulit, sangat manusiawi jika seseorang terlebih dulu memikirkan dirinya sendiri. Bocah itu sebenarnya bisa pergi sembari membawa minumannya. Dia dapat menikmatinya sendirian.  Tetapi bocah itu justru mengingat seseorang nan tidak ada di sana. Ia belum minum, tetapi dia memikirkan orang lain. Kakaknya.

Bocah itu sedang mengajari saya (kita) sesuatu nan jauh lebih besar daripada sebotol minuman. Bocah itu tidak mau menikmati sesuatu sendirian. Ada orang lain nan juga membutuhkan. Mungkin lebih membutuhkan. Di tengah musibah ini, hati boleh terguncang. Air mata boleh jatuh. Namun, selalu ada sesuatu di dalam diri manusia nan “diam-diam” menolak untuk menyerah. Sesuatu nan tidak bisa dibawa pergi oleh musibah ini. Kerinduan asali manusia untuk menyediakan ruang bagi orang lain dalam kesadarannya.

Sebotol minuman solidaritas

Kata solidaritas pasti terlalu mewah untuk mulut seorang anak kecil. Ia mungkin apalagi belum memahaminya. Tetapi hari itu dia melakukannya dengan sempurna dan indah. Dia memperjuangkan sebotol minuman solidaritas untuk saudaranya. Hanya dalam sebuah ocehan unik anak-anak. Sebuah ujaran: “satu botol lagi untuk kakak saya.” Maknanya melampaui pidato bagus dan penuh polesan para penguasa. 

Di tengah situasi musibah ini, saya kemudian membayangkan begitu banyak kerabat nan mungkin belum tersentuh bantuan. Saya mendengar buletin tentang berton-ton support nan datang. Posko-posko kemanusiaan berdiri. Begitu banyak orang bekerja dengan tulus. Semua itu patut kita syukuri.

Namun, di kembali angka-angka besar itu selalu ada manusia. Ada seorang ibu nan tetap menunggu terpal. Ada seorang ayah nan memikirkan gimana keluarganya bakal tinggal setelah rumah mereka rusak. Ada seorang lansia nan memerlukan obat. Ada seorang anak nan mungkin hanya merindukan sebotol minuman di tengah hari nan teramat terik dan mengirim pesan tentang ketidakpastian masa depan. Karena itu, jangan sampai banyaknya support membikin kita lupa pada seseorang nan belum mendapat bagian.

Sepotong cinta nan tersisa

Bencana selalu mengingatkan kita bahwa manusia dapat kehilangan banyak perihal dalam beberapa detik. Rumah, kekayaan benda, rasa aman, apalagi orang-orang nan dicintai. Namun, gempa sedahsyat apa pun rupanya tidak selalu bisa meruntuhkan sesuatu nan paling dalam dalam diri manusia: keahlian untuk mencintai.

Saya memandang cinta itu pada para relawan nan datang dari beragam tempat. Pada tetangga nan berbagi makanan. Pada family nan memberi ruang di tenda mereka kepada family lain. Pada orang-orang nan mengangkat batu bersama-sama. Dan pada seorang bocah nan memegang sebotol minuman sembari mengingat kakaknya. Mungkin itulah sebabnya kita tetap sanggup berdiri. Bukan lantaran kita tidak rapuh, tetapi lantaran dalam kepungan penderitaan itu, tetap ada tangan-tangan nan saling menggenggam.

Hari-hari setelah gempa ini mungkin tetap panjang. Banyak nan kudu dibangun kembali. Rumah-rumah kudu diperbaiki. Rumah ibadat kudu dibenahi. Kehidupan ekonomi kudu dipulihkan. Luka-luka jiwa memerlukan waktu untuk sembuh. Namun, kita tidak boleh kehilangan sesuatu nan paling berharga. Sepotong cinta nan  tersisa di antara debu dan bebatuan. 

Dunia tidak selalu memerlukan tindakan nan luar biasa besar. Kadang-kadang bumi hanya memerlukan seseorang yang, di tengah keterbatasannya sendiri, tetap bisa menoleh kepada nan lain dan berkata: “Tolong, satu lagi untuk kerabat saya.” Selama kalimat seperti itu tetap hidup di antara kita, saya percaya: musibah mungkin dapat meruntuhkan rumah-rumah kita, tetapi tidak bakal pernah meruntuhkan kemanusiaan kita. 

Selengkapnya