Sepeda Dinilai Jadi Solusi Dekarbonisasi Transportasi Jakarta

2 jam yang lalu 3
Sepeda Dinilai Jadi Solusi Dekarbonisasi Transportasi Jakarta Ilustrasi(Dok Bike to Work)

KUALITAS udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali menjadi perhatian seiring konsentrasi polutan PM2.5 nan dilaporkan berada di atas periode pemisah kondusif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan standar nasional.

Bike to Work (B2W) Indonesia berbareng Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dan Koalisi Pejalan Kaki (KoPEKA) mendorong penggunaan sepeda sebagai salah satu pilihan transportasi untuk mengurangi emisi karbon sekaligus membantu menekan pencemaran udara di perkotaan.

Ketiga golongan tersebut menilai sektor transportasi darat berbasis bahan bakar fosil tetap menjadi salah satu sumber emisi dan pencemaran udara di Jakarta. Penggunaan kendaraan bermotor dalam jumlah besar setiap hari menghasilkan emisi nan berakibat terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

B2W Indonesia, KPBB, dan KoPEKA menyebut penggunaan sepeda untuk perjalanan harian, khususnya pada rute first-mile dan last-mile, dapat menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi sektor transportasi. Penggunaan sepeda juga dinilai dapat mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) serta sejumlah polutan udara seperti HC, CO, NOx, SOx, PM10, dan PM2.5.

Selain persoalan emisi, penggunaan sepeda dinilai dapat membantu mengurangi kepadatan lampau lintas. Berkurangnya jumlah kendaraan bermotor di jalan diharapkan dapat menekan konsumsi bahan bakar, termasuk emisi nan muncul ketika kendaraan berakhir dalam kondisi mesin tetap menyala alias idling.

Penggunaan sepeda juga didorong untuk terintegrasi dengan transportasi publik seperti MRT, LRT, dan TransJakarta. Integrasi tersebut dinilai dapat membentuk sistem mobilitas perkotaan nan lebih rendah emisi dan berkelanjutan.

Dorong Penguatan Infrastruktur Sepeda
Untuk mendukung sasaran net zero emission 2060 alias lebih cepat, B2W Indonesia, KPBB, dan KoPEKA mendorong pemerintah serta pemangku kepentingan memperkuat prasarana dan kebijakan nan mendukung mobilitas rendah emisi.

Pertama, jalur sepeda protektif dinilai perlu dipertahankan, diperluas, dan diintegrasikan. Jalur tersebut diharapkan terhubung secara kondusif antara area permukiman, pusat bisnis, dan stasiun transportasi publik.

Kedua, penyediaan akomodasi pendukung seperti parkir sepeda nan kondusif dan ruang bilas didorong untuk tersedia di gedung perkantoran, stasiun, halte pikulan umum, serta pusat perbelanjaan.

Ketiga, golongan tersebut meminta penegakan norma terhadap kendaraan bermotor nan menggunakan alias menyerobot jalur sepeda. Sterilisasi jalur sepeda dinilai krusial untuk memberikan agunan keselamatan bagi pengguna sepeda.

"Polusi udara di Jakarta adalah krisis kesehatan masyarakat nan nyata. Naik sepeda bukan sekadar pilihan style hidup, melainkan corak tindakan pengamanan suasana dan pengendalian polusi udara paling efektif dan dapat dilakukan oleh setiap penduduk kota hari ini juga," tegas perwakilan Bike to Work Indonesia Sanny Tanuwijaya.

“B2W Indonesia membujuk seluruh lapisan masyarakat untuk mulai memprioritaskan sepeda dalam aktivitas harian dan bersama-sama merebut kembali kewenangan atas udara bersih di langit Jakarta," tegas Ketua Umum B2W Indonesia Hendro Subroto.

B2W Indonesia, KPBB, dan KoPEKA menekankan bahwa penggunaan sepeda bukan berfaedah masyarakat kudu sepenuhnya meninggalkan kendaraan bermotor pribadi. Mereka mendorong perubahan pilihan moda transportasi dengan memperbesar porsi melangkah kaki, bersepeda, dan pikulan umum dalam mobilitas perkotaan.

Bukan menjauhi kendaraan bermotor pribadi, tapi memperbaiki pilihan. Kota nan sejahtera bukanlah kota nan menuntut semua orang punya kendaraan pribadi sehingga jalan raya dan beragam ruang terbuka dijejali kemacetan kendaraan bermotor. 

“Kota itu untuk manusia, bukan untuk kendaraan bermotor," seru aktivis Koalisi Pejalan Kaki (KoPEKA yang juga Indonesia council for CMC SEA (Clean Mobility Coalition South East Asia) Amalia S Bendang. 

"Untuk itu, moda transportasi kota utk perjalanan penduduk kudu proporsional dengan mengutamakan moda melangkah kaki, bersepeda dan pikulan umum masal, sehingga penduduk punya pilihan dalam bermobilitas nan manusiawi dan berkeadilan."

Sementara itu, Adocacy Program Manager KPBB Alfred Sitorus menekankan pentingnya penyediaan transportasi umum nan dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus terhubung dengan akomodasi bagi pesepeda dan pejalan kaki.

“Kota kudu menyediakan transportasi umum masal nan aman, nyaman dan teragendakan dan dilengkapi lajur sepeda serta akomodasi pejalan kaki nan aman," penegasan Alfred Sitorus. (E-4)

Selengkapnya