Serangan AI Otonom Tiongkok Diduga Bobol Data Pemerintah Taiwan

53 menit yang lalu 2
Serangan AI Otonom Tiongkok Diduga Bobol Data Pemerintah Taiwan Ilustrasi.(Magnific)

TEKNOLOGI modern dirancang untuk mempermudah hidup manusia. Namun alat-alat canggih ini dapat dengan sigap jatuh ke tangan nan salah.

Melacak jejak digital menjadi sangat rumit ketika penyelundup tak kasat mata sukses menembus pertahanan paling ketat sekalipun. Kini, ancaman jenis baru tengah mengubah langkah negara-negara melindungi rahasia mereka.

Tim Digital tidak Kasat Mata

Peretas nan diduga berasal dari Tiongkok baru-baru ini menggunakan kepintaran buatan (AI) publik untuk membobol situs web pemerintah di Taiwan. Laporan Financial Times nan dikutip oleh United24Media menyebut bahwa operasi ini menandai tonggak sejarah nan menakutkan dalam peperangan digital. Agen perangkat lunak AI tersebut menangani seluruh pekerjaan secara mandiri, apalagi bisa mengubah strategi setiap kali menemui halangan keamanan.

Operasi tersebut berjalan selama empat hari pada awal Juli. Sebanyak delapan pemasok otomatis memetakan 21 sistem pemerintah dan memburu titik-titik lemah secara sistematis.

Pencurian Data Skala Besar

Perangkat lunak otonom ini sukses mengompromikan setidaknya 85 akun pemerintah. Dalam aksinya, sistem tersebut mengambil lebih dari 2.500 file personel sebelum akhirnya menargetkan badan keselamatan nuklir Taiwan dan beberapa perusahaan daya nasional.

Firma pertahanan siber asal Israel, Dream, adalah pihak pertama nan mengungkap pelanggaran ini. Saat melacak ancaman daring, para analis menemukan bukti tersembunyi di dalam arsip daring nan sangat besar. Data menunjukkan bahwa serangan tersebut menggunakan sistem sumber terbuka (open-source) nan dikenal sebagai Hermes dan OpenClaw.

Untuk melewati pengamanan standar, peretas menipu perangkat lunak dengan mengeklaim bahwa mereka sedang menjalankan uji keamanan resmi. Ketika satu jalur digital gagal, sistem bakal mengirimkan pemasok lain. Alat ini terus-menerus mengatur ulang rencana serangannya menggunakan intelijen segar nan didapat secara real-time.

Peringatan Global

Para mahir menyatakan bahwa ini menandai pergeseran masif dalam lanskap keamanan global. Amir Becker, Chief Strategy Officer di Dream, menyebut pelanggaran ini sebagai serangan otonom nan belum pernah terjadi terhadap sasaran pemerintah.

Becker memberikan peringatan keras bagi para pemimpin dunia. "Ini kudu menjadi dugaan dasar bagi setiap pemerintah di seluruh dunia," tegasnya kepada Financial Times.

Meskipun Dream tidak secara spesifik menyebut nama Taiwan alias Tiongkok dalam laporan awalnya, sumber lain dengan sigap mengonfirmasi sasaran tersebut. Analis juga menemukan penggunaan bahasa Mandarin sederhana (simplified Chinese) dalam komunikasi internal sistem, satu perincian nan merujuk kuat pada keterlibatan Beijing.

Normal Baru dalam Perang Siber

Juru bicara Kementerian Urusan Digital Taiwan menolak membahas kasus spesifik ini, tetapi mengakui ada ancaman nan terus meningkat. "Metode serangan peretas menjadi semakin beragam. Dalam beberapa tahun terakhir, integrasi teknologi AI telah mengubah sifat kejadian keamanan siber," catat ahli bicara tersebut.

Taiwan saat ini menghadapi rentetan serangan digital nan tiada henti. Biro Keamanan Nasional pulau tersebut melaporkan rata-rata 2,6 juta serangan siber dari Tiongkok setiap hari pada tahun 2025. Tahun lalu, Anthropic juga melaporkan bahwa kelompok-kelompok asal Tiongkok memanipulasi perangkat lunaknya untuk membobol puluhan perusahaan global.

Catatan Redaksi: Laporan ini disusun berasas info dari Financial Times, United24Media, Kementerian Urusan Digital Taiwan, Biro Keamanan Nasional Taiwan, dan Anthropic. (Dagens.com US/I-2)

Selengkapnya