Ilustrasi gemp(Dok Istimewa)
PENGAMAT politik Hendri Satrio menilai langkah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya nan terus menyampaikan perkembangan pengiriman support ke Nusa Tenggara Timur (NTT) patut diapresiasi. Menurutnya, Teddy terlihat konsisten memainkan peran sebagai penghubung antara petunjuk Presiden Prabowo Subianto dan penyelenggaraan kebijakan pemerintah di lapangan.
Terbaru, Teddy menyampaikan pemerintah kembali mengirim 65 ton logistik menggunakan lima pesawat. Dengan tambahan tersebut, total support nan dikirim sejak hari pertama disebut telah mencapai 253 ton.
“Apa nan disampaikan Teddy ini bisa jadi contoh bahwa pemerintah bekerja. Mau orang suka alias tidak suka kepada pemerintah, jika pesawatnya terbang dan bantuannya betul-betul dikirim, ya masa kita kudu bilang itu tidak ada?” kata Hensa kepada wartawan, Rabu (19/8/2026).
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu pun mengingatkan pemerintah tidak perlu terlalu sigap merasa sukses hanya lantaran nomor support nan dikirim terus bertambah. Menurut dia, masyarakat terdampak tidak hanya memerlukan nomor besar mengenai support nan diberangkatkan. Hal nan jauh lebih krusial adalah memastikan support tersebut tiba secara cepat, tepat, dan merata kepada penduduk nan membutuhkan.
“Jangan sampai kita dahsyat sekali menghitung berapa ton nan berangkat, tetapi lupa bertanya berapa nan sudah sampai ke tangan warga. Ini kudu dijaga juga,” ujarnya.
Hensa menilai Teddy sejauh ini cukup efektif menjalankan kegunaan komunikasi pemerintahan. Teddy tidak hanya menyampaikan bahwa Presiden telah memberikan instruksi, tetapi juga menjelaskan tindak lanjutnya, mulai dari jumlah bantuan, moda transportasi, hingga titik distribusi.
“Teddy juga tidak hanya membawa angka, tetapi menjelaskan apa saja nan dibawa dan gimana pengirimannya. Setidaknya ada nan bisa ditagih masyarakat dari dia,” kata Hensa.
Ia mengatakan, konsistensi tersebut secara tidak langsung juga dapat menambah modal politik Teddy di mata publik. Terlebih, Teddy bukan kepala daerah, bukan ketua partai, ataupun menteri nan mengelola program langsung untuk masyarakat.
“Lucunya ya itu. Dia bukan politisi nan sibuk pasang baliho, tetapi namanya malah terus muncul. Mungkin sekarang orang memang sedang lebih tertarik memandang siapa nan terlihat bekerja dibandingkan siapa nan paling besar fotonya,” ujarnya.
Meski begitu, Hensa menegaskan bahwa ketenaran sebaiknya tetap menjadi pengaruh samping dari kerja, bukan tujuan utama.
“Kalau kerja bagus kemudian populer, ya silakan. nan ancaman itu jika urutannya dibalik: mau terkenal dulu, kerjanya nanti. Untuk urusan NTT ini, pemerintah tinggal membuktikan satu perihal sederhana, 253 ton itu sampai ke rakyat alias tidak,” pungkasnya. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·