Sore Ketika Pasar Memilih Percaya

1 jam yang lalu 3
Sore Ketika Pasar Memilih Percaya Ilustrasi(Dok.MI)

PASAR mempunyai bahasanya sendiri. Ia tidak berpidato, tidak menulis editorial, dan jarang menjelaskan dirinya dengan kalimat nan panjang. Ia berbincang melalui angka—melalui warna hijau dan merah di layar perdagangan, melalui yield nan bergerak, rupiah nan menguat alias melemah, dan nilai saham nan menjadi semacam degub nadi dari angan terhadap masa depan.

Pada sore 14 Agustus 2026, bahasa itu terdengar cukup jelas.

Sekitar pukul 14.30 WIB, ketika Presiden Prabowo menyampaikan arah RAPBN 2027, Indeks Harga Saham Gabungan mulai menanjak dengan lebih kuat. Menjelang penutupan, lajunya kembali bertambah, membawa IHSG berhujung di level 6.401,89 alias menguat sekitar 1,59 persen. Dalam lima hari perdagangan, indeks telah naik sekitar 3,8 persen.

Tentu saja kita kudu berhati-hati membaca hubungan sebagai kausalitas. Pasar tidak pernah digerakkan oleh satu tangan. Di dalamnya ada arus modal global, ekspektasi suku bunga, nilai komoditas, pergerakan rupiah, geopolitik, positioning investor, sampai sentimen nan terkadang susah dijelaskan oleh model paling canggih sekalipun.

Namun waktu juga mempunyai cerita.

Dan ketika nilai bergerak berbarengan dengan hadirnya sebuah info baru, kita boleh bertanya: apa nan sebenarnya didengar pasar dari pidato Presiden Prabowo sore itu?

Jawabannya, menurut saya, adalah kepastian.

Karena pada akhirnya, pasar mungkin dapat hidup berbareng berita buruk. nan jauh lebih susah diterimanya adalah ketidakpastian.

Pidato tersebut memberikan setidaknya tiga kepastian nan selama ini dicari investor.

Pertama, kepastian bahwa kapal fiskal Indonesia tetap mempunyai jangkar

Di tengah beragam spekulasi mengenai besarnya agenda pembangunan pemerintah, nomor nan disampaikan justru menunjukkan fondasi fiskal nan tetap dijaga. Pendapatan negara pada Semester I 2026 tumbuh sekitar 24 persen, sementara defisit berada di kisaran 0,76 persen terhadap PDB. Pada saat nan sama, S&P mempertahankan ranking Indonesia pada BBB dengan outlook stabil.

Bagi investor, angka-angka itu bukan sekadar statistik dalam lembar presentasi.

Ia adalah sebuah pesan: bahwa pemerintah mau berlari, tetapi tidak dengan melepaskan rem dan kemudi.

Pasar sesungguhnya tidak pernah anti terhadap ekspansi fiskal. Ia hanya cemas pada ekspansi tanpa disiplin. Utang bukan dosa andaikan menghasilkan produktivitas. Defisit bukan ancaman andaikan setiap rupiah nan dikeluarkan bisa menumbuhkan kapabilitas ekonomi di masa depan.

Yang menjadi persoalan bukan seberapa besar negara membelanjakan uangnya, melainkan apakah pengeluaran hari ini bisa melahirkan pendapatan, kesempatan kerja, dan produktivitas besok hari.

Karena itu, keseimbangan antara percepatan dan kehati-hatian menjadi penting.

Dalam ekonomi, sebagaimana dalam kehidupan, kita memerlukan keberanian untuk melangkah, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui sejauh mana kaki dapat berpijak.

Kedua, pasar memandang munculnya mesin-mesin pertumbuhan baru

Renovasi 10.000 Puskesmas dan seluruh sekolah, pembangunan alias revitalisasi 440 RSUD, pengembangan PLTS hingga 100 GW, program satu juta sepeda motor listrik, optimasi aset BUMN berbareng sektor swasta, proyek-proyek Danantara, hingga pengembangan Indonesia Financial Center bukanlah daftar proyek nan berdiri sendiri.

Bila dirangkai, semuanya membentuk sebuah cerita mengenai transformasi.

Indonesia terlalu lama berjuntai pada beberapa mesin nan sama: konsumsi rumah tangga, komoditas, dan investasi konvensional. Mesin-mesin itu tetap bekerja dan tetap penting. Tetapi pesawat ekonomi sebesar Indonesia tidak dapat terbang lebih tinggi hanya dengan mesin nan sama.

Kita memerlukan mesin baru.

Kesehatan adalah produktivitas. Pendidikan adalah produktivitas masa depan. Energi adalah fondasi industrialisasi. Pasar finansial adalah saluran tempat tabungan berjumpa investasi. Dan pembangunan prasarana bukan hanya tentang beton alias baja, tetapi tentang memangkas jarak antara potensi dan kesempatan.

Satu Puskesmas nan diperbaiki mungkin terlihat mini dalam nomor PDB. Tetapi di belakangnya ada pekerja nan lebih sehat, family nan tidak kehilangan pendapatan lantaran sakit, dan anak-anak nan mempunyai masa depan nan lebih panjang.

Satu sekolah nan direnovasi mungkin tidak langsung menggerakkan IHSG. Namun bangsa tidak pernah tumbuh lebih tinggi daripada kualitas ruang kelas tempat generasi berikutnya belajar bermimpi.

Begitu pula PLTS 100 GW. Ia bukan sekadar soal panel surya. Ia adalah cerita mengenai energi, industri, rantai pasok, investasi, teknologi, dan pada akhirnya mengenai daya saing.

Satu juta motor listrik bukan sekadar statistik kendaraan. Ia adalah kesempatan membangun ekosistem: baterai, mineral, manufaktur, teknologi, pembiayaan, hingga lapangan kerja baru.

Apabila semua ini bisa dikembangkan dengan skema nan menarik partisipasi swasta, maka negara tidak lagi kudu menjadi satu-satunya lokomotif.

Negara cukup menyalakan relnya.

Modal swasta kemudian datang membawa gerbong-gerbong pertumbuhan.

Dalam bahasa ekonomi, kita menyebutnya crowding-in. Tetapi dalam bahasa nan lebih sederhana: pemerintah membuka pintu, sementara bumi upaya memandang argumen untuk masuk.

Kepastian ketiga adalah kesungguhan memperbaiki rumah berjulukan pasar modal Indonesia

Agenda peningkatan transparansi pemilik manfaat, minimum saham publik sebesar 15 persen, penyesuaian terhadap standar MSCI, hingga demutualisasi Bursa Efek Indonesia mengirimkan pesan krusial bahwa pemerintah memahami satu hal: sebuah pasar tidak dibangun hanya dengan kapitalisasi.

Ia dibangun dengan kepercayaan.

Kita dapat mempunyai gedung bursa nan megah, jumlah emiten nan terus bertambah, dan jutaan penanammodal baru. Namun jika kepemilikan tidak transparan, free float terlalu sempit, dan price discovery tidak bekerja secara optimal, maka pasar tetap menyimpan ruang gelap nan membikin penanammodal dunia ragu.

Kapital pada dasarnya adalah sesuatu nan sangat pemalu.

Ia bakal datang ketika merasa aman, dan pergi ketika merasa tidak yakin.

Karena itu transparansi bukan sekadar tuntutan administratif. Ia adalah magnet bagi modal.

Likuiditas bukan sekadar istilah trader. Ia adalah oksigen bagi pasar.

Dan tata kelola bukan sekadar kalimat dalam laporan tahunan. Ia adalah mata duit kepercayaan.

Dalam pengertian itu, reformasi pasar modal sebenarnya adalah pembangunan prasarana nan sama pentingnya dengan membangun jalan tol alias pelabuhan.

Jalan tol mempercepat manusia dan barang.

Pasar modal nan sehat mempercepat modal menemukan buahpikiran terbaiknya.

Hal nan sama bertindak pada rencana membangun bursa komoditas Indonesia. Ada sebuah ironi nan telah terlalu lama kita terima: Indonesia menjadi salah satu produsen komoditas terbesar dunia, tetapi nilai sering kali lahir jauh dari tempat komoditas itu berasal.

Kita menanam, menambang, memproduksi—namun sering kali orang lain nan lebih dulu menulis nomor di papan harga.

Membangun bursa komoditas nan andal berfaedah perlahan mengubah posisi Indonesia dari sekadar price taker menjadi bagian dari proses price discovery itu sendiri.

Kita tidak hanya mau berada di dalam rantai nilai.

Kita mau mempunyai bunyi dalam menentukan nilainya.

Pidato itu juga membawa satu pesan lain nan tidak kalah penting: efisiensi pengadaan hingga 30 persen.

Sering kali obrolan fiskal hanya berakhir pada satu pertanyaan: berapa besar anggaran?

Padahal pertanyaan nan lebih krusial adalah: berapa besar faedah nan bisa kita hasilkan dari setiap rupiah?

Di sinilah efisiensi menjadi ruang fiskal baru.

Efficiency is the new fiscal space

Menghemat satu rupiah tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik pada dasarnya sama dengan menemukan satu rupiah pendapatan baru—tanpa menambah pajak, tanpa menambah utang.

Karena itu kenaikan IHSG pada 14 Agustus sebaiknya tidak dirayakan secara berlebihan. Tetapi juga terlalu sinis andaikan dianggap tidak berfaedah apa-apa.

Pasar sedang berbicara.

Ia mungkin belum mengatakan bahwa semua persoalan telah selesai. Jauh dari itu.

Pasar tetap bakal menunggu realisasi. Ia bakal memeriksa nomor pendapatan negara, kualitas belanja, kecepatan pembangunan, konsistensi reformasi, disiplin fiskal, dan keberanian pemerintah ketika reformasi mulai menemui resistensi.

Sebab pidato dapat menyalakan harapan, tetapi hanya penerapan nan dapat menjaganya tetap hidup.

Euforia satu hari tidak pernah cukup untuk membangun fondasi bull market.

Namun sejarah ekonomi sering kali bermulai dari perubahan mini dalam ekspektasi.

Sebab sebelum investasi datang, ada kepercayaan.

Sebelum kepercayaan, ada harapan.

Dan sebelum angan menjadi nyata, biasanya ada sebuah momen ketika seseorang memandang ke depan dan berkata: mungkin masa depan bakal lebih baik daripada hari ini.

Pada sore 14 Agustus 2026 itu, Presiden Prabowo berbincang mengenai arah ekonomi Indonesia.

Pasar tidak bertepuk tangan.

Ia melakukan sesuatu nan jauh lebih sederhana.

Ia membeli

Dan mungkin di situlah jawaban paling jujur dari sebuah pasar berada.

Bukan pada sorak-sorai, bukan pada perdebatan, dan bukan pula pada siapa nan paling keras berbicara.

Tetapi pada keberanian seseorang meletakkan uangnya pada masa depan.

Sebab pada akhirnya, nomor hanyalah nomor sampai dia berubah menjadi ekspektasi. Ekspektasi hanyalah angan sampai dia berubah menjadi kepercayaan. Dan kepercayaan—apabila dijaga dengan konsistensi, disiplin, dan keberanian untuk terus berbenah—adalah modal paling mahal nan dapat dimiliki sebuah negara.

Selengkapnya