Siswa SMA dan SMP nan tinggal di pondok Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh, diedukasi rangkaian aktivitas kolaboratif berbareng beragam lembaga dan praktisi.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)
RATUSAN siswa jenjang SMA dan SMP nan menetap di pondok Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh, mendapatkan pengalaman belajar mendalam melalui rangkaian aktivitas kolaboratif. Program ini dirancang untuk menghadirkan pembelajaran nan tidak hanya terpaku pada teks akademik, tetapi juga relevan dengan realitas kehidupan nyata dan tantangan masa depan.
Rangkaian aktivitas dimulai pada Kamis (6/8) malam dengan sesi inovatif berjudul “Belajar Sejarah dan Bencana Lewat Lagu”. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Peduli Musik Anak dengan menghadirkan dua master ilmu jiwa sebagai narasumber, ialah Karina Adistiana dan Ribut Cahyono.
Dalam sesi ini, musik dan lagu digunakan sebagai medium untuk membedah peristiwa sejarah dan kebencanaan. Pendekatan imajinatif ini bermaksud agar siswa dapat:
- Memahami makna di kembali lirik lagu nan berangkaian dengan peristiwa kemanusiaan.
- Membangun empati dan kepedulian sosial melalui refleksi musikal.
- Meningkatkan ketangguhan (resiliensi) dalam menghadapi tantangan hidup berasas pelajaran dari masa lalu.
Tahapan Kemandirian: Dari Belajar hingga Merancang Masa Depan
Pada Jumat (7/8) pagi, sebanyak 120 siswa melanjutkan agenda dengan konsentrasi pada refleksi diri dan perencanaan masa depan. Kegiatan ini melibatkan kerjasama lintas lembaga, mulai dari Yayasan Data Pembangunan Berkelanjutan (ISSED), Himpunan Mahasiswa Statistika (HIMASTA), hingga akademisi dari Departemen Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK).
Saiful Mahdi, pengajar Departemen Statistika FMIPA USK, dalam paparannya menekankan bahwa kemandirian kudu dibangun secara berjenjang sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik:
| Lulus SD | Kemandirian Belajar | Mampu mengenali dan mengelola proses belajarnya sendiri. |
| Lulus SMP | Kemandirian Sosial | Mampu berinteraksi, berkolaborasi, dan berkontribusi positif di lingkungan. |
| Lulus SMA | Kemandirian Masa Depan | Mampu mengenali potensi diri dan menyusun langkah strategis mencapai tujuan hidup. |
"Ketika seorang siswa bisa membayangkan masa depan nan mau dicapai, dia bakal lebih mudah menentukan pilihan dan langkah nan perlu ditempuh sejak sekarang,” tegas Saiful Mahdi.
Mimpi Unik dan Keberanian Berefleksi
Salah satu momen emosional dalam aktivitas ini adalah saat sesi presentasi lukisan masa depan. Salwa, seorang siswi asrama, menarik perhatian peserta dan penyedia saat memaparkan mimpinya dengan penuh keyakinan.
Dalam lukisannya, Salwa memvisualisasikan kemauan untuk kuliah di Yogyakarta, berjamu ke Paris, hingga menjadi istri pengusaha sukses dengan ribuan armada truk dalam sepuluh tahun ke depan. Pernyataan jujur dan berani ini disambut hangat oleh rekan-rekannya, sekaligus membuktikan bahwa setiap anak mempunyai aspirasi unik nan patut dihargai.
Pesan Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie:
“Pendidikan nan baik membantu siswa memahami masa lalu, memaknai masa kini, dan merancang masa depan. Melalui kerjasama dengan beragam mitra, kami mau menghadirkan pengalaman belajar nan memperkaya wawasan sekaligus menguatkan karakter peserta didik,” tutur Marthunis Bukhari kepada Media Indonesia, Minggu (9/8/2026).
Membangun Ekosistem Pembelajaran Humanis
Kegiatan kolaboratif ini menegaskan posisi Sekolah Sukma Bangsa Pidie dalam menciptakan ekosistem pendidikan nan humanis. Fokus utama sekolah bukan sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan menyediakan ruang bagi siswa untuk:
- Mengenali potensi dan jati diri.
- Menumbuhkan angan di tengah tantangan zaman.
- Membangun kesadaran sosial dan ketangguhan karakter.
Melalui sinergi dengan praktisi dan akademisi, diharapkan para siswa tumbuh menjadi generasi nan tidak hanya pandai secara intelektual, tetapi juga siap berkontribusi nyata bagi masyarakat luas. (MR/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·