Sungai Juwana mengalami kekeringan mengakibatkan ribuan hektare sawah kesulitan air dan ratusan nelayan terpaksa menganggur dan tidak dapat mencari ikan.(MI/Akhmad Safuan)
KEMARAU berkepanjangan menyebabkan Sungai Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami kekeringan parah. Kondisi ini mengakibatkan ribuan hektare sawah nan mengandalkan pengairan dari sungai tersebut terancam puso (mati), sementara ratusan perahu nelayan lumpuh total tidak dapat beroperasi.
Berdasarkan pemantauan pada Jumat (21/8/2026), suasana memprihatinkan terlihat di sepanjang aliran Sungai Juwana. Air sungai nan biasanya melimpah, apalagi sering meluap saat musim penghujan, sekarang mengering hingga dasar sungai terlihat. Dampaknya, aktivitas ekonomi penduduk nan berjuntai pada sungai tersebut terhenti total.
Ribuan nelayan terpaksa menganggur lantaran perahu dan kapal mereka terjebak di lumpur sungai nan mengering. Tidak hanya nelayan sungai, para nelayan laut pun tidak dapat melaut lantaran kapal mereka tidak bisa digerakkan menuju muara.
"Sekarang ini kami menghadapi kebingungan, lantaran tanaman padi berumur 1-4 pekan terancam meninggal lantaran kekurangan air sebagai akibat Sungai Juwana kering," ujar Sugi, 65, petani di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati.
Keluhan senada disampaikan Aliyah, petani lain. Ia menyebut bahwa air sungai surut secara drastis sejak sepekan lampau hingga akhirnya kering kerontang. Kondisi ini membikin ribuan hektare sawah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana mengalami krisis air nan akut. Para petani berambisi pemerintah segera melakukan tindakan sigap untuk menyelamatkan tanaman mereka.
Di sektor perikanan, Suradi, 50, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa kekeringan kali ini mengingatkan pada kejadian serupa dua tahun lalu. "Ribuan nelayan terpaksa menganggur dan kami berambisi masalah ini segera diatasi," katanya.
Asnawi, nelayan lain, menambahkan bahwa kapal-kapal besar nan hendak menuju laut lepas sekarang terjebak di tengah sungai. Tanpa debit air nan cukup, kapal-kapal tersebut tidak mungkin dibawa ke muara untuk mencari ikan.
Efektivitas Bendung Karet Dipertanyakan
Ari Subekti dari Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan) menilai kekeringan ini merupakan nan kedua kali terjadi sejak ada Bendung Karet di Bungasrejo, Kecamatan Jakenan. Menurutnya, proyek bendung karet tersebut seolah tidak berkekuatan menghadapi tandus ekstrem tahun ini.
Sebagai solusi jangka pendek, Jampisawan mendesak pemerintah untuk segera menggelontorkan air dari Waduk Kedung Ombo alias Waduk Logung Kudus. Langkah ini dinilai krusial untuk menghidupkan kembali aliran sungai guna mengairi sawah dan membebaskan kapal nelayan nan terjebak.
"Kami meminta ada langkah konkret untuk mengatasi kekeringan ini, apalagi diperkirakan tandus tetap bakal berjalan hingga beberapa pekan mendatang," tegas Ari. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·