Ilustrasi(Dok Istimewa)
MEMASUKI usia 81 tahun kemerdekaan, bumi upaya Indonesia menghadapi tantangan perubahan nan semakin kompleks. Transformasi digital, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi, dan perubahan pasar membikin keahlian beradaptasi menjadi aspek krusial dalam menjaga daya saing nasional.
Namun, survei nasional terbaru menunjukkan tetap terdapat kesenjangan antara kesadaran organisasi terhadap pentingnya manajemen perubahan dan penerapannya dalam aktivitas sehari-hari.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan The State of Change Management in Indonesia 2026 nan diluncurkan MagnaQM (PT Magna Qaise Mandiri Utama) bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Laporan ini menjadi benchmark nasional pertama nan secara unik memotret praktik change management di organisasi Indonesia. Survei melibatkan praktisi dari lebih dari 20 sektor industri dengan skala organisasi mulai dari 25 hingga lebih dari 35.000 karyawan.
Senior Advisor MagnaQM Coach Eddi Sutanto mengatakan kesadaran organisasi Indonesia terhadap pentingnya manajemen perubahan sudah cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti kapabilitas institusional nan memadai.
“Temuan ini menegaskan mengambil manajemen perubahan di Indonesia melangkah lebih sigap dibandingkan kapabilitas institusional nan mendukungnya,” ujar Eddi, di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Salah satu temuan utama menunjukkan 88% responden menyatakan manajemen memandang manajemen perubahan sebagai perihal krusial alias sangat penting. Namun, hanya 8% nan telah menjadikannya bagian dari budaya kerja sehari-hari.
Kesenjangan juga terlihat dari sisi struktur. Sebanyak 68% organisasi telah mempunyai kegunaan manajemen perubahan formal, tetapi tetap menghadapi tantangan dalam tata kelola, kerangka kompetensi, dan pengembangan jaringan Change Agent.
Di sisi kepemimpinan, hanya 20% sponsor perubahan nan terlibat secara konsisten sepanjang inisiatif perubahan. Sementara itu, baru 37% organisasi nan mempunyai jaringan Change Agent untuk mendukung penerapan perubahan hingga tingkat operasional.
Direktur MagnaQM Akbar Azwir mengatakan tantangan organisasi Indonesia ke depan bukan lagi sekadar membangun kesadaran, tetapi memastikan keahlian mengelola perubahan dapat berkembang secara berkelanjutan. "Tantangan ke depan tidak hanya soal kesadaran bakal pentingnya manajemen perubahan, namun juga gimana organisasi membangun tata kelola, akuntabilitas kepemimpinan, dan pengembangan kapabilitas manajemen perubahan secara berkelanjutan,” ujar Akbar.
Menurut dia, keahlian mengelola perubahan semakin krusial lantaran perusahaan tidak cukup hanya mempunyai strategi, tetapi juga kudu bisa memastikan strategi tersebut dieksekusi secara efektif. Kesenjangan antara strategi dan eksekusi dapat menjadi halangan transformasi ketika perusahaan kudu menghadapi perkembangan teknologi, perubahan model bisnis, tuntutan efisiensi, serta persaingan nan semakin terbuka.
Dalam konteks ekonomi nasional, penguatan keahlian penyesuaian organisasi menjadi krusial untuk membangun bumi upaya nan lebih handal dan kompetitif.
MagnaQM merupakan konsultan butik asal Indonesia nan berfokus pada eksekusi strategi organisasi melalui jasa Change Management, Project Management Excellence, dan PMO Effectiveness. Perusahaan tersebut telah mendampingi sejumlah organisasi, termasuk Pertamina Group, PT Pegadaian, BRI, Bank BJB, PLN, Sinarmas Mining, dan PT Geo Dipa Energi.
Pendampingan tersebut antara lain mendukung perjalanan PT Pegadaian meraih predikat 2025 PMI World PMO of the Year. Laporan The State of Change Management in Indonesia 2026 juga membandingkan temuan Indonesia dengan info dunia dari Prosci. Laporan ini diharapkan jadi referensi bagi organisasi untuk mengidentifikasi kesenjangan kapabilitas dan menentukan prioritas pengembangan manajemen perubahan. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·