Taipan Properti Divonis Penjara Seumur Hidup, Ini Kasusnya

14 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejatuhan raksasa properti China Evergrande akhirnya berujung pada balasan seumur hidup bagi pendirinya, Hui Ka Yan. Pengadilan China pada Kamis (20/8/2026) menjatuhkan vonis tersebut lima tahun setelah runtuhnya perusahaan developer properti dengan utang terbesar di bumi itu mengguncang perekonomian dan pasar finansial Negeri Tirai Bambu.

Hui, nan pernah menyandang status sebagai orang terkaya di Asia, dijatuhi balasan penjara seumur hidup setelah pada April lampau mengaku bersalah atas delapan dakwaan. Kasus tersebut mencakup penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan simpanan publik secara ilegal, pemberian pinjaman secara ilegal, publikasi surat berbobot secara curang, serta suap.

Vonis terhadap Hui menjadi penutup dramatis perjalanan dari seorang anak desa hingga menjadi salah satu taipan paling kaya di Asia. Namun, balasan tersebut diperkirakan tidak banyak memberikan kelegaan bagi para kreditur Evergrande, baik di dalam maupun luar China.

Dilansir Reuters, Evergrande telah kandas bayar sebagian besar kewajibannya nan mencapai sekitar US$300 miliar. Masalah perusahaan tersebut kemudian menjadi salah satu simbol krisis sektor properti China nan telah berjalan lama dan terus membebani perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pengadilan di Kota Shenzhen, China selatan, menjatuhkan balasan seumur hidup kepada Hui sekaligus menyita seluruh kekayaan pribadinya.

Pengadilan mengatakan tindakan pidana nan dilakukan Evergrande Group, Hengda Real Estate selaku anak upaya utama, dan Hui mempunyai nilai nan sangat besar serta menimbulkan kerugian ekonomi dan akibat sosial nan sangat serius.

"Perbuatan pidana Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan ... melibatkan jumlah nan sangat besar dan keadaan nan sangat buruk, menyebabkan kerugian ekonomi nan sangat signifikan serta kerugian sosial nan sangat serius, dan kudu dihukum berat sesuai dengan hukum," kata pengadilan dalam sebuah pernyataan.

Dalam foto nan dirilis pengadilan, Hui nan sekarang berumur 67 tahun terlihat berbulu abu-abu dan berdiri diapit dua petugas. Ia mengenakan kemeja berkerah lengan panjang berwarna biru tua ketika pengadilan membacakan vonisnya.

Hui sebelumnya tidak terlihat di hadapan publik sejak otoritas China menahannya pada 2023, setelah Evergrande mengalami kandas bayar.

Evergrande dan para krediturnya sekarang tetap menghadapi proses panjang untuk mendapatkan kembali aset dan biaya nan hilang.

Adapun balasan terhadap Hui belum menyelesaikan persoalan utama nan dihadapi para kreditur dan pemilik rumah maupun penanammodal Evergrande. Komentar dari para pemilik rumah Evergrande dalam sebuah grup media sosial menunjukkan tetap kuatnya rasa frustrasi terhadap keruntuhan perusahaan tersebut.

Kegagalan Evergrande bayar miliaran dolar produk pengelolaan kekayaan alias wealth-management products sebelumnya memicu tindakan protes.

Produk tersebut banyak dimiliki penanammodal biasa, termasuk masyarakat berpenghasilan lebih rendah. Ketika investasi mereka terhapus akibat kegagalan perusahaan bayar kewajibannya, protes muncul dan apalagi menakut-nakuti stabilitas sosial.

Selain menjatuhkan balasan kepada Hui, pengadilan juga menjatuhkan denda terhadap Evergrande sebesar 8,82 miliar yuan alias sekitar US$1,31 miliar. Sementara itu, Hengda Real Estate didenda 7 miliar yuan.

Lima pelaksana senior lainnya juga dijatuhi balasan berupa denda dan penjara dengan masa balasan berkisar antara enam hingga 18 tahun.

Secara keseluruhan, sebanyak 56 orang nan mengenai dengan Evergrande selain Hui menerima balasan pada Kamis, menurut laporan media pemerintah CCTV.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya