Donald Trump.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menandatangani perintah pelaksana nan bermaksud merombak total pedoman vaksinasi anak di negara tersebut. Langkah ini menjadi upaya paling signifikan dari pemerintahannya untuk mengubah kebijakan kesehatan federal nan telah melangkah selama puluhan tahun.
Dalam perintah tersebut, Trump menyerukan pengurangan jumlah vaksin anak nan direkomendasikan, pengaturan jarak waktu pemberian suntikan, serta perubahan mendasar lain. Berbicara di Oval Office pada Senin (10/8), Trump kembali menegaskan klaimnya bahwa vaksinasi anak berangkaian dengan peningkatan kasus autisme di AS, teori nan dibantah secara luas oleh beragam riset ilmiah.
"Jumlah nan besar--seperti tong besar--vaksin saat ini dipompakan ke dalam tubuh anak Anda," ujar Trump didampingi oleh Sekretaris Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. dan pejabat manajemen lain.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh para ahli. Andrew Racine, Presiden American Academy of Pediatrics, menjelaskan bahwa volume sebagian besar vaksin sebenarnya hanya sekitar separuh cc atau setara dengan sepersepuluh sendok teh cairan.
Pangkas Rekomendasi Vaksin
Di bawah rencana berjudul Gold Standard Childhood Vaccine Recommendations ini, jumlah penyakit nan wajib dicegah melalui vaksinasi rutin dipangkas dari 18 menjadi 11 penyakit, termasuk campak, gondongan, rubela, polio, dan batuk rejan.
Salah satu poin paling kontroversial Ialah petunjuk untuk memecah vaksin kombinasi MMR (campak, gondongan, dan rubela) menjadi tiga suntikan terpisah. Trump mengeklaim langkah ini merupakan akal sehat untuk mengurangi beban pada tubuh anak, meskipun dia mengakui tidak mempunyai bukti ilmiah saat ditekan mengenai klaim bahwa vaksin MMR saat ini bisa berakibat fatal.
"Yang saya dengar adalah ada beberapa orang nan mengatakan seperti itu dan saya katakan, 'Baiklah, katakanlah ada kesempatan 5 persen untuk itu; mari kita pisahkan saja,'" kata Trump.
Kritik Tajam dari Komunitas Medis
Rencana ini memicu gelombang kritik dari ilmuwan, dokter, hingga politisi lintas partai. Senator Bill Cassidy (R-Louisiana), nan juga seorang master dan Ketua Komite Kesehatan Senat, menyatakan keberatan keras melalui platform X.
"Perintah pelaksana ini salah. Presiden tidak mempunyai skill untuk membikin perubahan ini. Vaksin sangat aman, efektif, dan TIDAK menyebabkan autisme. Memecah vaksin hanya bakal membikin anak-anak kudu menerima lebih banyak suntikan untuk mendapatkan perlindungan nan sama," tegas Cassidy.
Para mahir medis juga memperingatkan bahwa memisahkan vaksin MMR justru bakal membikin anak-anak rentan terhadap penyakit rawan dalam waktu nan lebih lama. Selain itu, komponen perseorangan untuk vaksin tersebut saat ini tidak tersedia secara komersial di Amerika Serikat, sehingga menimbulkan tantangan logistik dan manufaktur nan besar.
Dampak Hukum dan Otonomi Negara Bagian
Meski perintah pelaksana ditandatangani, akibat praktisnya tetap belum pasti. Di Amerika Serikat, persyaratan vaksinasi sekolah umumnya ditetapkan oleh pemerintah negara bagian, bukan federal. Banyak negara bagian menyatakan bakal tetap mengikuti rekomendasi dari American Academy of Pediatrics dibandingkan pedoman baru Gedung Putih.
Namun, perintah ini menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk mengejar tantangan norma terhadap undang-undang negara bagian nan dianggap menghalangi otoritas orangtua alias pengecualian medis dan agama. Hal ini dikhawatirkan bakal menciptakan kebingungan massal bagi orangtua dan penyedia jasa kesehatan di seluruh negeri.
Langkah ini diambil di tengah situasi kesehatan nan mengkhawatirkan. Amerika Serikat sedang mengalami tahun terburuk untuk kasus balang dalam 35 tahun terakhir. (The Washington Post/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·