Tambang Ilegal Ditertibkan, Produksi PT Timah Jadi Meningkat

50 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia sedang giat-giatnya menertibkan aktivitas pertambangan ilegal, tak terkecuali dilokasi pertambangan timah di Bangka Belitung. Hal ini tentunya menjadi katalis positif bagi produksi timah milik PT Timah Tbk (TINS).

Sejatinya, aktivitas pertambangan terlarangan selama ini menjadi salah satu tantangan bagi produsen resmi. Di mana sejauh ini membikin sebagian pasokan timah berada di luar rantai pasok resmi.

Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto sudah menargetkan bakal menutup sekitar 1.000 tambang timah terlarangan di Bangka Belitung. Maklum, selama ini, aktivotas tambang terlarangan itu jauh lebih besar alias mencapai 80% dari total produksi timah di Bangka Belitung. Sementara itu, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara terlarangan setiap tahun.

Besarnya aktivitas tambang terlarangan tersebut menjadi persoalan bagi TINS. Manajemen TINS sebelumnya pernah menyebut persaingan dengan penambang terlarangan sebagai salah satu aspek nan menekan produksi. Produksi bijih timah TINS pada semester I-2025 turun 32% secara tahunan menjadi 6.997 ton.

Kelak, penertiban tambang terlarangan nan dilakukan pemerintah bakal menjadi salah satu katalis positif bagi TINS. Ketika aktivitas terlarangan ditekan, pasokan bijih nan sebelumnya berada di jalur informal berkesempatan kembali masuk ke rantai pasok resmi. Kondisi ini dapat membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi dan volume penjualan. Nah, momentum pemulihan produksi TINS sudah terlihat pada semester I-2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75% dari 6.997 ton Sn pada semester I-2025. Produksi logam timah meningkat menjadi 10.865 metrik ton, sedangkan penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85% dari 5.933 metrik ton.

Kenaikan volume tersebut turut mendorong keahlian keuangan. Pendapatan TINS mencapai Rp10,42 triliun pada semester I 2026, naik 147% dari Rp4,22 triliun pada periode nan sama tahun lalu. Laba bersih melonjak sekitar 805% menjadi Rp2,71 triliun dari Rp300 miliar.

Realisasi untung tersebut telah mencapai sekitar 169% dari sasaran untung bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun. Kinerja perseroan juga ditopang nilai timah nan tinggi. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 mencapai US$50.319 per metrik ton, naik 56,7% dari US$32.116 per metrik ton pada semester I 2025.

Perbaikan esensial tersebut tercermin pada kapitalisasi pasar TINS. Pada Agustus 2025, kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp7,6 triliun. Sementara pada Agustus 2026, kapitalisasi pasar TINS telah mencapai sekitar Rp28,75 triliun.

Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee menyampaikan dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, nilai timah dunia dan komitmen terhadap penertiban tambang ilegal, Hans tetap merekomendasikan Buy untuk TINS dengan sasaran nilai Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal.

Lebih lanjut, dia menilai valuasi TINS tetap bakal tetap menarik. Dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali, valuasi TINS tetap relatif murah dibandingkan pertumbuhan penjualan dan untung bersih perseroan. Net keuntungan margin TINS nan mencapai sekitar 26% dan return on equity (ROE) sekitar 51%.

Dari sisi industri, dia menilai prospek nilai timah bumi tetap positif seiring potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI).

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya