Tantangan Ekonomi 2026: Transformasi Manufaktur dan Literasi Finansial Jadi Kunci Pertumbuhan

1 jam yang lalu 3
 Transformasi Manufaktur dan Literasi Finansial Jadi Kunci Pertumbuhan Kiri-kanan: ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja, Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia Gede Widhi, dan Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo.(MI/Putri Anisa Yuliani)

DI tengah dinamika ekonomi global, Indonesia menghadapi tantangan krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan. Sektor perbankan dan ekonomi sekarang dituntut melakukan reformasi struktural, mulai dari penguatan sektor manufaktur hingga mengambil teknologi nan berpusat pada pengguna (client-centric).

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menyoroti urgensi pembenahan sektor manufaktur sebagai tumpuan ekonomi jangka panjang. Menurutnya, ketergantungan pada sektor jasa nan naik turun perlu diimbangi dengan stabilitas lapangan kerja di sektor manufaktur.

“Kita kudu melakukan reformasi manufaktur. Alirkan insentif support ke manufaktur, berikan pendampingan agar bisa melawan perang teknologi, dan pastikan fiskal dialirkan ke pintu nan tepat untuk menciptakan confidence (kepercayaan),” ujar Enrico dalam sebuah obrolan di Jakarta, Rabu (12/8).

Enrico menambahkan, peningkatan kepercayaan penanammodal juga menjadi aspek vital untuk menekan defisit pendapatan primer. Selama ini, arus modal asing condong keluar, nan menghalang reinvestasi di dalam negeri. Dengan stabilitas nilai tukar Rupiah dan peningkatan kemudahan berinvestasi, dia optimistis ekonomi Indonesia bisa memperkuat meski di bawah tekanan global.

Di sisi lain, perbankan dituntut beradaptasi dengan perubahan perilaku kelas menengah nan semakin kompleks. Head of Consumer Banking UOB Indonesia, Herman Soesetyo, menekankan pergeseran paradigma dari product-centric menjadi client-centric

“Ekspektasi pengguna berubah sangat cepat. Kita dipacu untuk menjadi trusted financial advisor (penasihat finansial terpercaya) melalui support teknologi dan info nan mumpuni untuk melayani kebutuhan pengguna nan lebih spesifik,” jelas Herman.

Senada dengan perihal tersebut, Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia, Gede Widhi, menyoroti tren pergeseran style hidup generasi muda nan beranjak dari kepemilikan peralatan (have more) menjadi pengalaman (experience more). Perubahan perilaku ini menuntut sektor finansial untuk menyajikan jasa nan lebih efisien. 

“Kunci menjawab kebutuhan masyarakat nan terus berkembang adalah memahami teknologi dan memetakan nasabah. Pembayaran kudu seamless (mulus), sesuai segmen nan dituju, dan future proof,” ungkap Gede.

Ketiga master sepakat bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan berjuntai pada eksekusi kebijakan nan tepat. Dengan menyinergikan penemuan digital, stabilitas investasi, dan penguatan sektor riil, Indonesia diharapkan bisa menjawab tantangan ekonomi dengan lebih tangguh. (e-4)

Selengkapnya