Ilustrasi(Magnific)
DI sebuah lobi pod hotel nan terang benderang di area Piccadilly Circus, London pusat, terlihat dua pilihan pemesanan nan nyaris identik pada layar mandiri. Sebuah kapsul di lantai kombinasi (mixed-gender) dipatok seharga £35 (sekitar Rp735 ribu), sementara kapsul di lantai unik wanita dijual seharga £45 (sekitar Rp945 ribu).
Tambahan biaya sebesar £10 tersebut tidak memberikan akomodasi bilik nan lebih luas, sarapan gratis, ataupun pemandangan nan lebih indah. Wujud kapsulnya persis sama: ruangan ringkas nan dilengkapi kasur, pencahayaan suasana (mood lighting), dan ruang nan cukup untuk membuka koper kecil. Biaya tambahan nyaris 30% itu menawarkan lorong unik berakses kartu kunci, lantai tanpa laki-laki, dan sebuah kepastian untuk tidur lebih tenang di kota nan asing.
Sebagian besar visitor wanita di letak tersebut nyaris tidak mempedulikan perbedaan nilai nan tertera. Namun saat menempelkan kartu pembayaran, sebuah pertanyaan menyeruak, apakah ketenangan pikiran memang setara dengan biaya ekstra £10 tersebut?
Fenomena ini mencerminkan apa nan dikenal sebagai safety premium alias premi keamanan. Tingginya akibat pelecehan seksual, serangan fisik, hingga perhatian nan tidak diinginkan membikin aktivitas berjalan kerap menuntut kompromi finansial bagi banyak perempuan. Kompromi ini mencakup keputusan untuk bayar hotel berlokasi strategis dengan nilai lebih mahal, memesan taksi alih-alih melangkah kaki di malam hari, alias memilih akomodasi unik wanita dibandingkan opsi lantai kombinasi nan lebih murah.
Situasi ini kerap disandingkan dengan pink tax, istilah untuk merujuk pada produk alias jasa pemasaran bagi wanita nan diberi nilai lebih tinggi daripada jenis setara untuk laki-laki. Namun dalam konteks perjalanan, biaya nan dikeluarkan demi rasa kondusif sering kali terasa kurang langsung, meski dampaknya nyata terhadap pengeluaran harian. (BBC/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·