Teleskop James Webb Temukan Air di Dekat Lubang Hitam Pusat Bima Sakti

48 menit yang lalu 2
Teleskop James Webb Temukan Air di Dekat Lubang Hitam Pusat Bima Sakti Temuan terbaru Teleskop James Webb membuktikan air dan debu kosmik bisa memperkuat sangat dekat dengan lubang hitam supermasif Bima Sakti, Sagittarius A*.(ESA)

PUSAT galaksi Bima Sakti rupanya menyimpan lingkungan nan lebih ramah bagi keberadaan air dari perkiraan para astronom sebelumnya. Menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (James Webb Space Telescope/JWST), para peneliti sukses mendeteksi keberadaan air dan debu kosmik di sekitar bintang tua nan berjarak hanya 0,55 tahun sinar dari Sagittarius A* (Sgr A*), lubang hitam supermasif di pusat galaksi kita.

Studi terbaru ini menunjukkan bahwa air dan debu dapat terbentuk serta memperkuat hidup secara mengejutkan di letak nan sangat dekat dengan lubang hitam supermasif. Padahal, radiasi intens dan kondisi ekstrem di area tersebut sebelumnya diperkirakan bakal menghancurkan molekul-molekul tersebut. Tim peneliti memanfaatkan instrumen Mid-Infrared Instrument (MIRI) milik Webb untuk mengawasi IRS 3, sebuah bintang tua nan berada di lingkungan padat di sekitar Sgr A*. Menurut pernyataan Badan Antariksa Eropa (ESA), Sgr A* sendiri mempunyai massa sekitar 4 juta kali massa matahari.

"Pusat galaksi merupakan salah satu lingkungan paling ekstrem, sehingga memahami apakah bintang-bintang di sana dapat terus memperkaya lingkungan sekitarnya adalah pertanyaan penting. Dengan Webb, kita dapat mengawasi secara langsung gimana perilaku bintang dalam kondisi ini dan memandang bahwa produksi debu tetap sangat tangguh," kata Florian Peißker, penulis utama studi dari Universitas Cologne di Jerman, dalam pernyataan resmi tersebut.

IRS 3 merupakan salah satu sumber inframerah tengah paling terang di pusat galaksi. Bintang ini masuk dalam kategori asymptotic giant branch, ialah tahap akhir perkembangan bintang ketika dia menghembuskan sejumlah besar gas dan debu melalui angin bintang nan kuat. Bintang-bintang meninggal seperti ini berfaedah sebagai pusat daur ulang kosmik nan mengembalikan material ke ruang angkasa untuk membentuk generasi bintang dan planet berikutnya.

Meski demikian, IRS 3 berada di area nan sangat tidak ramah. Pusat Bima Sakti dipenuhi bintang-bintang nan padat dan terpapar radiasi kuat, sehingga memicu pertanyaan apakah molekul dan debu baru dapat bertahan.

Pengamatan Webb membuktikan perihal itu memungkinkan. Dengan menggabungkan spektrum IRS 3 dan simulasi perjalanan cahaya, peneliti merekonstruksi selubung debu silikat berlapis nan membentang sekitar 10.000 unit astronomi (AU) dari bintang tersebut. Suhu selubung ini turun dari sekitar 927 derajat Celsius di dekat bintang hingga minus 173 derajat Celsius di bagian luar. Pengamatan ini juga mengonfirmasi keberadaan air di dalam selubung tersebut untuk pertama kalinya.

"Pendeteksian air ini sangat menggembirakan lantaran menunjukkan bahwa materi molekuler dapat memperkuat di lingkungan nan didominasi oleh radiasi intens," ujar Macarena Garcia Marin, astronom ESA sekaligus rekan penulis studi tersebut.

Meski belum dapat dipastikan berapa jumlah air nan ada, temuan ini membuktikan air dan debu—bahan krusial dalam pembentukan bintang dan planet—dapat memperkuat di dekat pusat galaksi. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada 11 Agustus. (Space/Z-2)

Selengkapnya