Terancam Kelaparan, Warga Cibal Bertahan Mengungsi hanya Berbekal 9 Kilogram Beras

1 jam yang lalu 3
Terancam Kelaparan, Warga Cibal Bertahan Mengungsi hanya Berbekal 9 Kilogram Beras Warga tetap memperkuat di pengungsian darurat nan dibangun swadaya.(MI/Marianus Marselus)

DELAPAN hari pascagempa bumi magnitudo 7,7 nan mengguncang Flores, penduduk di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kesulitan mendapatkan bahan makanan.

Warga nan mengungsi secara berdikari mengaku support pemerintah nan diterima tetap sangat minim. Hingga Minggu (24/8), sejumlah posko pengungsian hanya mendapatkan 9 kilogram beras, 14 balut mi instan, dan 10 butir telur.

Padahal, satu posko pengungsian dapat menampung puluhan hingga lebih dari 100 jiwa.

Yohanes Antim, penduduk Kampung Rebuk, Desa Perak, Kecamatan Cibal, mengatakan penduduk menyelamatkan diri setelah gempa dan mendirikan tenda pengungsian secara berdikari di lapangan kampung.

"Selama delapan malam delapan hari kami memperkuat di posko. Hanya mendapatkan support 9 kilogram beras, 10 butir telur, dan 14 balut mi nan dibagikan oleh pemerintah. Satu posko ini ada 50 lebih jiwa," ujar Yohanes, Minggu (24/8).

Kondisi serupa dialami penduduk Desa Welu, Kecamatan Cibal. Yohanes Agung mengatakan support pemerintah di wilayahnya baru diterima satu kali dengan jumlah nan terbatas.

"Benar, nyaris semua kampung di Kecamatan Cibal hanya sekali dapat support dari pemerintah. Itu pun hanya sedikit. Padahal support dari BNPB begitu banyak, hanya semuanya di wilayah Pantura, Reok dan Reok Barat," jelasnya.

Seorang penduduk Kelurahan Pagal nan meminta namanya tidak dipublikasikan lantaran berstatus ASN juga mengaku prihatin dengan minimnya support bagi penduduk terdampak.

"Padahal di sini juga banyak kerusakan rumah warga. Hampir semua penduduk mengungsi di posko pengungsian mandiri," katanya.

Warga Mulai Kehabisan Makanan

Yohanes mengatakan penduduk tetap takut kembali ke rumah maupun pergi ke kebun lantaran gempa susulan tetap terus terjadi. Kondisi tersebut membikin sebagian penduduk memilih memperkuat di tenda pengungsian.

Namun, persediaan makanan nan dibawa penduduk dari rumah mulai habis.

"Kami takut mau masuk rumah maupun pergi kerja kebun lantaran gempa susulan terus terjadi. Kami sangat trauma. Sementara stok makanan kami sudah tidak ada lagi. Kami kelaparan," katanya.

Warga berambisi pemerintah segera mengirimkan support bahan makanan, air minum, serta kebutuhan logistik lainnya untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.

"Karena itu, kami berambisi pemerintah segera kasih support bahan makanan dan logistik lain untuk kami gunakan makan dan memperkuat di tenda nan kami bangun secara berdikari ini," tuturnya.

Puluhan Rumah Rusak

Selain menghadapi keterbatasan makanan, penduduk Cibal juga tetap berhadapan dengan akibat kerusakan akibat gempa.

Sejumlah rumah penduduk dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari retakan pada tembok hingga sebagian tembok runtuh. Sejumlah akomodasi umum juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

Warga nan rumahnya rusak memilih mengungsi di tenda-tenda nan dibangun secara berdikari lantaran tetap cemas terhadap gempa susulan.

Hingga buletin ini diturunkan, Camat Cibal belum sukses dikonfirmasi mengenai kondisi penduduk dan pengedaran support di wilayah tersebut. Upaya konfirmasi telah dilakukan, tetapi belum mendapatkan jawaban.(MM/E-4)

Selengkapnya