Tetangga RI Mau Babat Hutan Demi Perumahan, Puluhan Ribu Warga Menolak

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura menghadapi protes publik nan jarang terjadi setelah pemerintah berencana membuka sebagian area rimba untuk pembangunan perumahan. Rencana ini memicu perdebatan besar soal masa depan ruang hijau di negara kota tersebut.

Warga Sunset Way, Joanne Teoh, 68 tahun, menjadi salah satu nan paling vokal menolak rencana tersebut. Selama lebih dari tiga dekade, dia menikmati pemandangan kanopi hijau Hutan Maju dari apartemennya dan mendokumentasikan tanaman serta hewan di area itu sejak 2021.

"Bahkan jika Anda membangun rumah di bagian rimba ini, seperti nan dikatakan anak-anakku kepadaku, kami tidak mau tinggal di samping kuburan ekosistem nan kering," kata Teoh kepada Al Jazeera, dikutip Jumat (28/8/2026).

Bulan lalu, Dewan Perumahan dan Pembangunan Singapura mengumumkan rencana membersihkan sekitar 15 hektare dari total 23 hektare Hutan Maju untuk pembangunan rumah. Pemerintah juga berencana membuka sedikitnya 10 hektare Hutan Gillman nan berada sekitar 6 kilometer dari area tersebut.

Rencana itu memicu penolakan luas. Petisi nan mendesak pemerintah membatalkan alias merevisi proyek tersebut telah mengumpulkan lebih dari 60.000 tanda tangan, sementara penduduk membentuk golongan obrolan dan melakukan beragam tindakan untuk mendorong transparansi dalam perencanaan pembangunan.

Lebih dari 2.000 orang apalagi berkumpul di Speakers' Corner untuk memprotes proyek pembangunan tersebut. Rachel Tan dari golongan pembelaan SG Climate Rally mengatakan meningkatnya partisipasi publik menunjukkan perubahan sikap masyarakat.

"Kami perlahan-lahan menjadi dewasa sebagai masyarakat pada umumnya, dalam perihal modal sipil kami, pengetahuan politik kami, dan keberanian kami dalam menyuarakan pendapat politik ini," ujarnya.

Kekhawatiran penduduk diperkuat oleh temuan penilaian akibat lingkungan. Hutan Gillman tercatat menjadi kediaman 178 jenis hewan, sedangkan Hutan Maju mendukung 113 spesies, termasuk bulbul berkepala jerami nan terancam punah dan trenggiling Sunda.

Di sisi lain, pemerintah Singapura menyatakan keterbatasan lahan membikin pembangunan perumahan susah dihindari. Menteri Negara untuk Pembangunan Nasional Alvin Tan mengatakan pasokan lahan kudu dimanfaatkan sebaik mungkin.

"Pilihan kita lebih sempit daripada nan dihadapi oleh negara-negara besar. Oleh lantaran itu, kita kudu memanfaatkan lahan kita nan terbatas dengan sebaik-baiknya," kata Tan di parlemen.

Pemerintah kemudian berupaya meredakan kekhawatiran dengan menjanjikan lebih banyak ruang hijau bakal dipertahankan, meski konsekuensinya jumlah rumah nan dibangun berkurang.

Namun, bagi Teoh dan penduduk lainnya, perdebatan ini bukan sekadar soal rumah alias hutan. "Kamu hanya berduka ketika Anda telah mencintai dengan sangat dalam," ujarnya.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya