(MI)
INDUSTRI aset kripto di Indonesia memasuki babak baru dengan jumlah pengguna nan menembus nomor 22,69 juta per Juni 2026. Dalam forum Coinfest Asia 2026 di Bali, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa konsentrasi industri sekarang bergeser dari sekadar ekspansi pasar menuju pembangunan ekosistem nan sehat, inovatif, dan ramah bagi penanammodal institusi.
Pertumbuhan berkepanjangan di sektor ini diyakini hanya dapat tercapai jika tiga pilar utama terpenuhi: kepatuhan (compliance), izin nan adaptif, dan penemuan nan terus berjalan. Co-Founder Indodax, Oscar Darmawan, menekankan bahwa kepatuhan terhadap izin merupakan 'tiket masuk' bagi lembaga untuk terjun ke industri kripto. Namun, dia mengingatkan bahwa kepatuhan saja tidak cukup untuk memenangkan pasar.
"Compliance diperlukan sebagai fondasi agar lembaga masuk. Tapi penemuan juga kudu terus berjalan. Jika produk dan jasa dalam negeri semakin relevan, pengguna bakal mempunyai argumen kuat untuk tetap berada di ekosistem nan teregulasi dan terlindungi," ujar Oscar dalam sesi panel Coinfest Asia 2026.
Oscar juga menyoroti kejadian pengguna nan tetap memilih platform luar negeri (offshore) lantaran kelebihan layanan. Untuk membendung perihal tersebut, dia mendorong optimasi regulatory sandbox OJK sebagai wadah menguji penemuan sebelum diluncurkan secara massal.
Dukungan Pemerintah dan Regulasi Adaptif
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menyatakan bahwa teknologi blockchain dan aset digital mempunyai peran strategis dalam mendukung investasi nasional. Ia memandang potensi besar Bali untuk beralih bentuk menjadi pusat teknologi dan penemuan Web3 dunia.
"Pemerintah membangun kerangka dan regulator memberikan kepastian. Namun, perusahaan dan inovatorlah nan memegang peran kunci dalam membangun masa depan industri ini," tegas Todotua.
Senada dengan perihal tersebut, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengingatkan agar izin sektor finansial digital berkarakter adaptif. Menurutnya, patokan norma tidak boleh mematikan produktivitas teknologi, melainkan kudu memperkuat ekosistem melalui kerjasama lintas otoritas dan pengembangan sumber daya manusia.
Dari perspektif pelaku pasar, Vice President of Business Development Indodax, James Eugene, menjelaskan bahwa proses listing aset mata uang digital sekarang jauh lebih selektif. Faktor penentu keberlanjutan suatu proyek bukan lagi sekadar tren, melainkan likuiditas, utilitas, dan keahlian menciptakan market fit.
"Market share dan likuiditas memang penting. Namun pada akhirnya, kualitas proyek dan kemampuannya memberikan solusi nyata nan bakal menentukan keberlanjutan ekosistem tersebut," kata James. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·