Trump Ancam Negara yang Bantu Iran, Seberapa Ampuh Sanksi AS?

1 jam yang lalu 2
Trump Ancam Negara nan Bantu Iran, Seberapa Ampuh Sanksi AS? Presiden AS Donald Trump.(Anadolu Agency/Dilara İrem Sancar)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan ancaman hukuman ekonomi besar-besaran terhadap negara-negara nan tetap menjalin hubungan jual beli dengan Iran. Melalui platform Truth Social pada Sabtu (22/8), Trump menyebut langkah ini sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan nan pernah diarahkan terhadap sebuah negara.

Trump menegaskan bahwa Washington bakal menerapkan tekanan ekonomi dan isolasi dalam skala nan belum pernah terjadi sebelumnya. Menanggapi perihal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai pernyataan Trump hanyalah upaya pengalihan rumor dari krisis internal AS, termasuk utang nan membengkak dan lonjakan biaya bunga.

Ketergantungan Iran pada Sektor Minyak

Sebagai personil OPEC, minyak mentah merupakan tulang punggung ekonomi Iran. Sebelum bentrok memanas, Iran bisa mengekspor 1,3 juta hingga 1,5 juta barel per hari (bph) dengan pendapatan mencapai US$3,45 miliar per bulan. Namun, eskalasi militer dan penutupan Selat Hormuz pada Maret memicu blokade kapal oleh AS.

Data menunjukkan akibat signifikan pada volume perdagangan minyak Iran sepanjang tahun berjalan:

Periode Volume Ekspor Minyak (bph) Status/Kondisi
Awal Februari 1,3 Juta - 1,5 Juta Normal (Pra-Perang)
Mei < 300.000 Level Terendah 6 Tahun
Juni Pemulihan Terbatas Masa MoU 60 Hari
Agustus Tertekan Kembali Sanksi Pasca-MoU

Kinerja Perdagangan Non-Minyak

Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, mengonfirmasi penurunan tajam pada perdagangan non-minyak. Pada periode 21 Maret hingga 16 Agustus, nilai ekspor non-minyak Iran tercatat sebesar US$15 miliar, sementara impor mencapai US$17 miliar. Secara keseluruhan, total perdagangan Iran merosot 24% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun Uni Emirat Arab (UEA) telah mengumumkan embargo tanpa pemisah waktu, sejumlah negara seperti Tiongkok, Turki, dan Pakistan tetap mempertahankan hubungan dagang. Frederic Schneider dari Middle East Council on Global Affairs mencatat bahwa Tiongkok tetap menyerap sebagian besar ekspor minyak Iran nan sempat menyentuh rekor 1,7 juta bph di jalur informal.

Batasan Kewenangan AS

Pakar norma internasional, Shantanu Singh, menjelaskan bahwa secara hukum, AS tidak mempunyai kewenangan untuk memberlakukan embargo total tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB. Sanksi sepihak AS hanya efektif membatasi penggunaan lembaga finansial dan sistem dolar AS.

Upaya Trump untuk mengisolasi Iran secara total diprediksi bakal menghadapi jalan buntu di tingkat multilateral. Sebagai personil tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia dan Tiongkok mempunyai kewenangan veto nan dapat membatalkan setiap resolusi embargo internasional nan diajukan oleh Washington. (Fer/I-1)

Selengkapnya