Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan The Washington Post nan baru dirilis membikin geger. Terungkap bahwa ada ancaman pembunuhan ke Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, nan memaksanya meninggalkan Air Force One dan diungsikan ke pesawat militer rahasia.
Ia apalagi dipindahkan secara diam-diam dengan truk katering airport ke pesawat nan lebih kecil. Hal ini terjadi bulan lampau ketika dia hendak bertolak pergi dari KTT NATO, di Ankara, Turki.
"Langkah tak biasa tersebut dilakukan lantaran adanya ancaman pembunuhan dari Iran," tulis laman tersebut dimuat Senin, sebagaimana dikutip Selasa (11/8/2026).
Awalnya, Trump menggunakan pesawat jet baru nan merupakan pemberian Qatar untuk menuju Ankara dalam rangka menghadiri KTT NATO. Namun, dia secara tak terduga menggunakan Air Force One jenis lama saat meninggalkan Turki.
Keputusan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai keamanan pesawat baru tersebut. Kunjungan Trump ke KTT NATO merupakan perjalanan internasional pertama menggunakan pesawat baru tersebut.
Presiden Donald Trump berbincang di upacara pemakaman Senator Lindsey Graham, R-S.C., di Katedral Nasional Washington, Selasa, 28 Juli 2026, di Washington. (Alex Brandon/Pool via REUTERS)
Sebenarnya, pesawat itu telah menjalani modifikasi besar-besaran. Bahkan modifikasi itu menimbulkan pertanyaan mengenai biaya dan keamanannya.
Sementara itu sesaat sebelum meninggalkan Ankara, Trump mengatakan melalui Truth Social bahwa dia bakal menggunakan pesawat Air Force One lama berwarna biru muda menuju RAF Mildenhall di Inggris. Kala itu dia berdasar "demi mengenang masa lalu".
Pesawat baru tersebut juga dikatakan berakhir di pangkalan nan sama. Ini agar personel militer AS nan ditempatkan di sana dapat memandang pesawat tersebut.
Trump Diam-Diam Dipindahkan ke Pesawat Lain?
Meski begitu, setelah Trump menaiki Air Force One lama di Ankara, dia rupanya diam-diam dipindahkan menggunakan truk katering airport menuju pesawat nan lebih kecil, ialah pesawat militer C-32A. The Washington Post mengutip seorang pejabat AS nan mengetahui operasi tersebut serta sejumlah bukti pendukung nan ditinjau media tersebut.
"Operasi penyamaran itu dilakukan setelah muncul ancaman nan dinilai andal terhadap Trump," menurut laporan tersebut.
Dalam operasi kali ini, para wartawan nan mengira mereka ikut terbang berbareng Trump menggunakan Air Force One lama justru diminta menutup gorden jendela di kabin pers. The Washington Post melaporkan bahwa selain para wartawan, sejumlah staf Gedung Putih juga meyakini Trump berada di dalam pesawat tersebut.
Wartawan sebenarnya juga menanyakan kenapa gorden jendela kudu ditutup selama penerbangan. Namun Trump mengatakan mereka "mungkin sedang berada dalam penerbangan berbahaya".
Sementara itu, pesawat C-32A nan membawa Trump terbang menuju Inggris dan tiba sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Sementara itu, Air Force One lama dan rombongan media tiba beberapa menit kemudian.
Sebenarnya, operasi serupa pernah dilakukan pada 2000 ketika Presiden AS Bill Clinton menggunakan jet pelaksana tanpa tanda unik untuk terbang ke Pakistan. Air Force One resminya digunakan sebagai pesawat pengalih perhatian.
Banyak Musuh Mengincar Trump
Ketika dimintai komentar mengenai terungkapnya penerbangan rahasia menggunakan pesawat ketiga tersebut, Gedung Putih memberikan pernyataan. Direktur Komunikasi Steve Cheung mengatakan pesawat baru pemberian Qatar tersebut telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi untuk memastikan keselamatan presiden dan stafnya.
"Seperti nan baru-baru ini disampaikan Presiden, ada banyak musuh Amerika nan mengincarnya, dan kami menggunakan setiap perangkat nan tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut," ujar Cheung.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·