Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) telah meluncurkan kampanye nan disebut sebagai "economic D-Day" untuk mengisolasi Iran dari perekonomian dunia sejak Senin. Washington apalagi menakut-nakuti bakal menjatuhkan hukuman terhadap pihak-pihak nan tetap membantu Iran melakukan transaksi bisnis.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya AS untuk memutus jalur perdagangan nan selama nyaris enam bulan menopang perekonomian Iran di tengah perang. Meski perincian penerapannya belum sepenuhnya jelas, ancaman tersebut berpotensi membikin AS berhadapan dengan sejumlah mitra jual beli utama Iran.
Lalu negara mana saja? Berikut rangkuman CNBC Indonesia Rabu (26/8/2026).
1. China
China paling mungkin bakal berhadapan dengan AS. Negara ini merupakan pembeli terbesar minyak Iran sekaligus salah satu jalur terpenting Teheran menuju perekonomian global.
Menurut pemerintah AS, China menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran. Perdagangan bilateral China dan Iran tercatat sekitar US$9,96 miliar (Rp175,3 triliun)pada 2025.
Menurut U.S.-China Economic and Security Review Commission, nomor tersebut belum termasuk sekitar US$31,2 miliar ekspor minyak mentah Iran nan tidak dilaporkan ke China pada tahun nan sama. Sebagian besar minyak tersebut diserap kilang independen China.
Menurut Kpler, minyak Iran kerap diberi label ulang sebagai minyak dari Malaysia alias Indonesia. Pembayarannya dilakukan melalui perantara di luar sistem dolar AS.
Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan hukuman terhadap sejumlah kilang tersebut tahun ini lantaran membeli minyak Iran, tetapi sejauh ini lembaga finansial China relatif terhindar. Beijing secara terbuka menentang hukuman AS terhadap Iran dan menilai tekanan ekonomi tidak bakal menyelesaikan perselisihan.
Direktur China di Eurasia Group, Dan Wang, China tidak bakal terang-terangan melawan AS. Ia memperkirakan Beijing bakal secara diam-diam meningkatkan kepatuhan bank dan perusahaan minyak milik negara terhadap patokan AS agar tidak ikut terkena sanksi.
"China lebih peduli terhadap akses dolar untuk pembiayaan dan akses pasar di AS," ujarnya.
2. Uni Emirat Arab (UEA)
UEA merupakan salah satu pusat perdagangan utama Iran. Negara tersebut hanya berjarak sekitar 80 kilometer dari Iran, melintasi Teluk Persia.
Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar US$28 miliar pada 2024. Pada tahun tersebut, UEA menjadi sumber impor terbesar Iran dengan kontribusi lebih dari 30%.
UEA juga menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga Iran, menyumbang sekitar 12% pengiriman Iran dengan nilai lebih dari US$7 miliar. Namun, hubungan tersebut terganggu setelah UEA pekan lampau bergerak untuk menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan finansial dengan Iran menyusul dua rudal balistik nan ditembakkan ke wilayah UEA.
Perlu diketahui, Iran selama ini menggunakan bank dan sistem finansial UEA untuk mengakses perekonomian bumi melalui transaksi terlarangan dan tidak transparan. The Washington Institute menilai pemutusan akses Iran bakal memerlukan tindakan lebih tegas dari otoritas UEA untuk memberantas aktivitas perdagangan dan finansial nan tidak transparan tersebut.
3. Turki
Turki mempunyai hubungan perdagangan nan cukup besar dengan Iran. Ankara mengimpor gas alam dari Iran sekaligus mengekspor beragam produk manufaktur ke negara tersebut.
Menurut Kementerian Luar Negeri Turki, perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$5,7 miliar pada 2024. Turki terutama mengekspor mesin dan suku cadang, produk kimia serta pertanian ke Iran, di mana sebaliknya, Ankara mengimpor produk daya dari Teheran.
Dalam beberapa tahun terakhir, Turki memang berupaya mendiversifikasi sumber energinya, termasuk meningkatkan impor melalui pipa dari Azerbaijan dan Rusia. Namun, sejauh ini Ankara belum memberikan sinyal bakal memutus hubungan energinya dengan Iran.
4. Irak
Irak mempunyai ketergantungan besar terhadap daya dari Iran, terutama listrik dan gas alam. Pada Maret 2024, Iran memperbarui perjanjian pasokan gas selama lima tahun untuk Irak dengan kapabilitas hingga nyaris 660 miliar kaki kubik gas per tahun.
Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), impor listrik dari Iran menyumbang lebih dari 30% pembangkitan listrik Irak pada 2023. Nilai perdagangan Irak-Iran juga mencapai lebih dari US$10 miliar pada 2025. Iran mengekspor makanan, peralatan konsumsi, dan beragam produk lainnya ke pasar Irak.
Namun, perdagangan kedua negara menyusut tahun ini akibat meningkatnya akibat keamanan di area serta gangguan di sejumlah perlintasan perbatasan sejak perang pecah pada akhir Februari. Sanksi baru AS berpotensi menghalang pembayaran Baghdad kepada Teheran untuk kebutuhan daya tersebut.
5. India
India juga termasuk lima mitra jual beli terbesar Iran, meski nilai perdagangan kedua negara terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Departemen Perdagangan India, perdagangan bilateral India-Iran hanya sekitar US$1,6 miliar pada tahun nan berhujung Maret 2026, turun dari US$2,3 miliar pada periode nan sama pada 2023.
India terutama mengekspor beras, teh, gula, dan produk farmasi ke Iran. Sementara itu, India mengimpor buah-buahan kering dan segar dari Iran. Pada April 2026, India kembali mengimpor minyak mentah dari Iran setelah terhenti selama tujuh tahun.
Keputusan tersebut terjadi setelah AS untuk sementara mencabut hukuman terhadap ekspor minyak mentah Iran. Namun, perdagangan tersebut sekarang kembali menghadapi akibat jika Washington betul-betul menerapkan ancamannya untuk menjatuhkan hukuman kepada pihak nan membeli daya Iran, termasuk perusahaan penyulingan asal India.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

14 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·