Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi dengan mengubah nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika" pada hari Kamis. Langkah garang ini semakin memanaskan perseteruan jual beli dengan Kanada nan sebelumnya telah memicu penerapan tarif terhadap perdagangan lintas pemisah senilai puluhan miliar dolar AS.
Mengutip Reuters, Jumat (28/8/2026), perintah pelaksana Trump mengenai salah satu dari lima Danau Besar di area Amerika Utara tersebut hanya bertindak terbatas untuk penggunaan federal AS. Aturan sepihak ini sama sekali tidak mengatur julukan nan bakal digunakan oleh Kanada, badan internasional, ataupun organisasi lainnya.
"Kami bakal mengubah nama Danau Ontario nan bertindak segera menjadi Danau Amerika. Perubahan nama danau, Danau Amerika, adalah sesuatu nan sudah lama saya pikirkan, sebenarnya," ucap Trumop kepada wartawan di Ruang Oval.
Keputusan ini terjadi usai perundingan jual beli tiga hari antara AS dan Kanada runtuh pekan lalu. Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney, mengingatkan bahwa nama waduk tersebut sudah ada jauh sebelum Kanada dan AS berdiri sebagai sebuah negara merdeka.
"Kami tahu bahwa Amerika sedang berubah. Hubungan perdagangan mereka, kebijakan luar negeri mereka, monumen nasional mereka, hidronim mereka. Warga Kanada juga tahu bahwa menamai realita berfaedah menyebutnya Danau Ontario - dulu, sekarang, dan selamanya," tegasnya di media sosial.
New York dari Partai Demokrat, Kathy Hochul, turut merespons dengan keras di media sosial. Sebagai informasi, sekitar 52% wilayah permukaan Danau Ontario berada di Kanada dan sisanya berada di negara bagian New York, AS.
"New York tidak bakal menyebutnya begitu," kata Hochul.
Pernyataan Trump juga membikin politisi Republik bersuara. Gubernur Vermont Phil Scott, nan satu partai dengan Trump, menyebut keputusan sang Presiden itu sangat picik dan mengecewakan.
Kecaman juga datang dari Pemimpin Besar Bangsa Wendat di Quebec, Pierre Picard. Ia mengutuk perubahan nama nan aslinya berasal dari bahasa Wendat dan mempunyai makna 'danau nan bagus dan besar' tersebut.
"Presiden Trump mencoba menghapus sejarah kita. Marah, terkejut, syok. Tidak ada kata lain untuk mengungkapkan emosi saya menyusul keputusan Presiden Trump untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika," tambahnya.
Ganti Nama Samudra
Kehebohan nan dibuat Trump, tak hanya itu. Belum puas menyatakan nama danau, Trump juga mengisyaratkan bakal mempertimbangkan untuk mengganti nama samudra.
"Kita punya teluk dan kita punya danau, sekarang nan kita butuhkan hanyalah samudra, jadi mungkin kita kudu mengubah nama Atlantik dan alias Pasifik. Mungkin kita bakal mengubah keduanya," katanya.
Manuver ini menambah panjang daftar hinaan Trump sejak awal 2025 nan menyuruh Kanada menjadi negara bagian AS ke-51, sebuah pendapat nan dianggap sangat konyol oleh para pemimpin Kanada. Langkah provokatif dan menghina ini dinilai tidak bakal memperlancar negosiasi perdagangan di masa depan.
Terkait macetnya negosiasi, Carney sebelumnya menyebut perundingan jual beli runtuh lantaran AS mengusulkan patokan nan menakut-nakuti ketentuan bahasa Prancis di Kanada, rumor keringanan tarif truk menengah alias berat, serta tuntutan pembatasan kewenangan Kanada dalam membikin kesepakatan jual beli baru. Sebaliknya, pejabat AS menolak klaim itu dan menyebut keputusan Carney murni sebagai pilihan politik semata.
Sejak kembali berkuasa tahun lalu, Trump memang berambisi menyematkan namanya pada beragam simbol kekuatan Amerika. Mulai dari gedung-gedung terkenal di Washington, kelas kapal perang Angkatan Laut nan baru, program visa untuk penduduk asing kaya, situs web obat resep pemerintah, hingga rekening tabungan federal untuk anak-anak.
Ia apalagi telah lebih dulu memerintahkan pengubahan nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika pada Januari 2025 lalu. Setelah itu, butuh waktu sekitar dua pekan bagi Dewan Nama Geografis AS di bawah Departemen Dalam Negeri untuk memperbarui nomenklatur federal resmi guna merefleksikan perubahan tersebut.
Ironisnya, sebuah jajak pendapat dari Reuters/Ipsos pada bulan Mei justru menunjukkan bahwa 72% penduduk AS mempunyai pandangan nan menguntungkan terhadap Kanada. Pangsa ini jauh lebih tinggi daripada negara mana pun dalam survei, termasuk Jerman dan Meksiko, serta sukses melampaui dua kali lipat ranking persetujuan Trump sendiri di mata rakyatnya.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·