Trump Siapkan 'Mesin Pembunuh Baru' Iran, Selat Hormuz Makin Ngeri

47 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan perubahan strategi menghadapi Iran dengan mengandalkan tekanan ekonomi, bukan serangan militer lanjutan. Di saat nan sama, Teheran justru memperkeras syarat pembukaan kembali Selat Hormuz nan telah terganggu selama berbulan-bulan.

Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa Washington siap menunggu hingga tekanan ekonomi semakin menghantam Iran. "Kami menempuh pendekatan nan tidak agresif," ujar Trump, seraya menyinggung inflasi Iran nan tinggi dan kondisi finansial negara tersebut, dikutip CNBC International, Selasa (11/8/2026).

Trump juga mengunggah diagram di Truth Social nan menunjukkan pelemahan tajam mata duit rial Iran sejak 2025. Dalam unggahan itu, Trump menegaskan bahwa "Iran tidak punya uang" dan menyebut mata duit negara tersebut tidak berharga.

Selat Hormuz


Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada MS NOW bahwa Teheran meminta AS memenuhi seluruh persyaratan dalam nota kesepahaman nan disebut ditandatangani kedua negara pada Juni. Syarat tersebut antara lain pembayaran tukar rugi, penghentian pertempuran di Lebanon, pencabutan blokade laut AS, penarikan pasukan Amerika dari kawasan, serta pencairan aset Iran nan dibekukan.

Iran juga tengah berkompromi dengan Oman mengenai kesepakatan rute transit di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan tersebut telah memasuki tahap akhir.

Namun, dia menegaskan kesepakatan itu tidak berfaedah jalur pelayaran bakal dibuka kembali sepenuhnya. "Tidak ada kemungkinan untuk memulai kembali negosiasi" selama AS belum memberikan kompensasi atas pelanggaran nan dituduhkan Teheran, kata Araghchi.

Sementara itu, tekanan militer AS di area belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat AS menyatakan pasukannya telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan-pelabuhan Iran hingga Minggu, naik dari 35 kapal pada 2 Agustus.

Dilaporkan pula dua kapal dilumpuhkan. Sedangkan dua lainnya dinaiki untuk memastikan kepatuhan. Kondisi ini membikin akibat terhadap arus daya dunia semakin besar.

Perlu diketahui, Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut bumi dan seperlima pasokan gas alam cair global. Meski begitu, per Jumat, lampau lintas pelayaran hanya mencatat delapan pelintasan.

Harga minyak Brent kemudian naik 1,1% menjadi US$84,45 per barel, sedangkan WTI menguat 1% menjadi US$78,98. Analis komoditas ING Bank Warren Patterson memperingatkan ruang kompromi antara Washington dan Teheran semakin sempit.

"Situasi bisa kembali memburuk dari kondisi nan sudah buruk," ujarnya, setelah ING mempertahankan proyeksi nilai rata-rata Brent kuartal ini di US$80 per barel.

Kekhawatiran bertambah setelah Iran mempertimbangkan rancangan patokan nan melarang kapal AS dan Israel melintasi Hormuz. Iran juga mengenakan kompensasi hingga 20% dari nilai muatan bagi pihak nan dianggap melanggar.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya